
Dirga duduk terdiam sambil menatap keadaan Arin. Sudah beberapa hari Arin terbaring lemah di atas bangsalnya. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda jika dia akan sadarkan diri. Melihat keadaan Arin, Bu Bima terus saja mengomel menyalahkan Rania. Karena baginya yang terjadi kepada Arin adalah karena Rania. Karena Rania, Arin harus menghabiskan hari-harinya di di rumah sakit dengan alat bantu yang menempel pada tubuhnya.
"Bagaimana keadaan Arin?" tanya Bima mengusap punggung Dirga.
"Dia belum sadar juga, Pa. Aku tidak tau sampai kapan keadaan Arin akan seperti ini," ucap Dirga memijit keningnya.
"Kau pulanglah! bawa mamamu, biar papa yang menjaga Arin,"
"Tapi, Pa!"
"Sudah! kau sangat lelah. Pergilah beristirahat sebentar. Biarkan papa yang menjaga Arin," ucap Bima dengan tegas.
"Baik, Pa," ucap Dirga mengangguk patuh dan bangkit dari duduknya.
"Bawa mamamu! jangan sampai dia bertemu dengan Rania,"
"Baik, Pa!" ucap Dirga melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Arin.
Dirga mengajak Bu Bima untuk pulang terlebih dahulu. Dengan berat hati Bu Bima mengikuti Dirga sambil mengomel sepanjang jalan. Mendengar omelan sang mama, Dirga hanya bisa diam tanpa suara. Dia terus mengemudikan mobilnya dengan tatapan lurus kedepan.
Terlebih lagi badannya yang terasa sangat lelah karena menjaga Arin selama di rumah sakit. Ingin sekali rasanya agar dia lebih cepat sampai di rumah dan mengistirahatkan tubuhnya walaupu hanya sebentar saja. Melihat Dirga yang hanya diam, Bu Bima yang telah lelah mengomel akhirnya diam juga. Dia memilih untuk menatap ke arah kaca jendela mobil sambil menatap suasana jalanan kota di malam hari.
...----------------...
__ADS_1
Setelah selesai menidurkan Cheesy, Randy mencoba untuk memberi Rania makan. Dia menyuapi Rania dengan telaten nya dan juga penuh kesabaran. Dia menatap Rania yang kini sudah ada perkembangan. Keadaan Rania sudah lebih membaik dan juga sudah terlihat semakin ceria. Bahkan dia juga sudah jarang melamun dan telah mau beraktivitas di luar ruangannya.
"Mas! aku ingin melihat Arin. Boleh 'kan?" tanya Rania menatap Randy penuh dengan permohonan.
"Kau habiskan dulu makananmu. Setelah itu kau minum obat," ucap Randy terus menyuapi Rania.
"Jika aku menghabiskan makananku aku boleh menemui Arin 'kan?"
"Ia! Aku akan mengantarmu untuk menemuinya,"
"Terima kasih ya, Mas," ucap Rania tersenyum.
Randy hanya tersenyum mengangguk lalu kembali menyuapi Rania. Rania menerima setiap suapan yang di berikan Randy dengan begitu lahapnya. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu Arin secepetnya. Dia ingin melihat perkembangan kesehatan Arin dan berharap jika Arin bisa cepat sadar dari komanya.
"Ra! kau mau ke mana?" tanya Bima yang kebetulan baru pulang dari kantin untuk makan malam.
"Aku mau bertemu Arin, Paman. Apa Tante ada di dalam?" tanya Rania tidak mau membuat kericuhan.
"Tantemu sedang ke rumah bersama Dirga. Jadi kau bebas menemui Arin untuk saat ini," ucap Bima tersenyum.
"Benarkah, Paman?" tanya Rania penuh semangat.
"Ia! ayo masuk," ucap Bima mempersilahkan Rania untuk masuk ke ruang rawat Arin.
__ADS_1
"Bagaiamana keadaanmu, maaf paman belum ada waktu untuk menjengukmu," ucap Bima kembali.
"Tidak apa-apa, Paman. Lagian aku sudah baik-baik saja,"
"Lalu bagaiamana dengan putri kalian?"
"Cheesy sudah membaik, Paman," ucap Randy tersenyum.
"Alhamdulillah! syukurlah kalau begitu," ucap Bima tersenyum lalu mempersilahkan Rania untuk menemui Arin.
"Arin belum sadar juga?" tanya Rania melihat Arin yang masih terbaring lemah di atas bangsalnya.
"Belum! dia masih betah dalam tidurnya. Paman tidak tau sampai kapan dia akan seperti ini," ucap Bima menunduk sedih.
Mendengar ucapan Bima, Rania langsung mendekati Arin. Dia menatap tubuh lemah Arin dengan tatapan penuh kesedihan. Dia berlahan mengengam tangan Arin dan meletakkannya di wajahnya. Dia merasakan tangan Arin yang begitu dingindan lemah. Dia menatap wajah Arin sambil meneteskan air matanya, sehingga air matanya menetes mengenai tangan Arin.
"Apa kau tidak lelah tidur terus seperti ini, Rin? aku sangat merindukanmu. Aku rindu mendengar curhatanmu. Walaupun kau baru sekali bercerita denganku, tapi aku langsung merasa nyaman bercerita denganmu. Aku mohon bangunlah," ucap Rania menahan isak tangisnya sambil mengengam erat tangan Arin.
Seakan ada magnet di antara mereka. Berlahan tangan Arin bergerak sehingga membuat Rania langsung menatapnya penuh kebahagiaan.
"Mas! tangan Arin," ucap Rania menunjukan tangan Arin yang mulai bergerak.
Melihat itu, Randy langsung bergerak cepat. Dia memeriksa keadaan Arin dan memanggil Dokter yang menangani Arin. Setelah Dokter datang, Randy langsung menyerahkan keadaan Arin kepada Dokter itu. Rania terus menatap Arin dengan tatapan penuh harapan. Dia berharap agar Arin bisa cepat sadar dan bisa memperbaiki hubungan mereka agar lebih baik lagi.
__ADS_1
Bersambung......