
Mila duduk terdiam di dalam kamarnya. Dia menatap sekelilingnya dengan tatapan penuh ketakutan. Kejadian-kejadian misterius yang menimpanya beberapa hari ini membuat dirinya menjadi semakin tertekan. Rasa takut dan cemas terus mengusik dirinya, sehingga dia tidak bisa memejamkan matanya walaupun sejenak.
Brakkk....
Suara benda terjatuh kembali terdengar dari luar. Seketika mata Mila membulat dan menatap sumber suara itu dengan perasaan cemas dan juga wajah pucat nya.
Hiks.... Hikss....
Suara tangisan wanita kembali terdengar jelas di telinganya. Sehingga membuat jantungnya kembali berdegup dengan kencangnya.
"Siapa itu?" Tanya Mila mengambil sapu dan bersiap untuk menyerang siapapun yang ada di depannya.
Drttt.... Drtt...
Ponsel Mila tiba-tiba berbunyi, mendengar itu dia menatap ponselnya yang tergeletak di atas ranjangnya. Dia mencoba menelan ludahnya kasar lalu berjalan mendekati ponselnya. Melihat nama yang tertera di layar ponsel itu, jantung Mila seperti berhenti berdetak seketika.
"Tika!" Gumam Mila menatap ponselnya dengan penuh ketakutan.
Dia diam mematung sambil terus menatap ponselnya. Dia tidak tau harus berbuat apa, untuk mengangkat pangilannya tentu saja dia tidak mempunyai keberanian.
Tok... Tok... Tok...
Baru saja Mila merasa lega karena ponselnya telah berhenti berdering. Kini suara ketukan pintu yang terdengar sangat keras kembali mengusik telinganya. Dia menatap ke arah pintu dengan keringat yang bercucuran. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar beserta seluruh tubuhnya. Rasanya dia sudah tidak kuat lagi akan semua kejadian yang datang menimpanya.
"Siapa? Siapa di sana?" Tanya Mila dengan nada suara yang bergetar.
Tokk... Tokk.....
__ADS_1
Tidak ada sahutan, yang ada hanya suara ketukan pintu yang semakin kuat. Mila memberanikan diri untuk mendekat ke pintu utama. Dia melangkahkan kakinya, sambil terus memegang tangkai sapu sambil bergetar ketakutan.
Brak....
Mila membuka pintu dengan sangat kasar. Namun, dia tidak melihat siapapun di sana. Dia menatap ke lorong apartemen, akan tetapi tidak ada satupun orang melintas di sana.
"Siapa? Siapa di sana?" Tanya Mila sambil memeriksa lorong itu.
"Tidak ada orang," Gumam Mila sambil mengusap bulu kuduk nya yang merinding.
Dia dengan cepat berlari masuk ke apartemennya, dan menutup pintu dengan rapat. Dia membuang napasnya kasar sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Mila bersandar di pintu sambil mengigit kukunya kecil. Dia menatap kesana kemari sambil bergetar ketakutan.
Jep....
Tiba-tiba lampu mati, dan membuat ruangan itu menjadi gelap gulita. Mila mencoba berjalan sambil meraba-raba untuk mencari senter.
Brak...
Dari asap itu muncul seorang wanita cantik berambut panjang dan dibaluti gaun putih. Mila menatap wanita itu dengan bibir bergetar dan matanya yang memancarkan rasa ketakutan. Ingin rasanya dia berlari dan berteriak, akan tetapi mulut dan kakinya bagaikan di kunci.
Dia hanya bisa diam dengan tubuh bergetar sambil menitikkan air matanya. Dia menatap mata wanita di depannya dengan tatapan kosong. Dia dapat melihat pancaran kebencian, dan amarah yang sangat besar terpancar dari mata wanita di depannya.
"Kenapa kau membunuhku?" Tanya wanita di depannya dengan nada penuh amarah.
"Maafkan, aku! A... Aku!" Ucap Mila gugup sambil menitikkan air matanya.
"Apa kau menginginkan suamiku?" Tanya wanita itu kembali sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Sekarang apa kau mendapatkannya? Tidak 'kan? Kau tidak mendapatkan apa-apa. Yang kau dapatkan hanyalah kepuasan. Kepuasan yang akan membawamu ke jurang yang lebih dalam," Ucap wanita itu kembali.
Mendengar ucapan wanita yang ada di depannya Mila hanya terdiam. Setelah membunuh Tika, dia memang merasa puas. Bahkan dia tidak ada penyesalan sedikitpun, malah dia ingin melakukan hal itu kembali kepada Rania.
"Kau memang manusia berhati iblis. Kau tidak pantas untuk hidup, kau harus mati bersamaku," Teriak wanita itu penuh amarah sambil menatap Mila dengan penuh kebencian.
"Maafkan aku! Jangan bunuh aku, aku mohon," Ucap Mila bersimpuh meminta ampun.
Ha.... Ha...
Mendengar ucapan Mila, wanita itu langsung tertawa. Suara tawanya yang melengking dan sangat mengerikan langsung mengema di seluruh apartemen Mila. Mila yang ketakutan hanya bisa menangis sambil meringkuk ketakutan di lantai. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan, dia hanya diam dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan.
"Kau tidak pantas untuk di maafkan! Kau pantasnya mati dengan cara mengenaskan. Agar kau tau bagaimana penderitaanku dan putriku selama ini. Karena kau putriku sampai tidak bisa merasakan hangatnya pelukanku," Ucap wanita itu penuh amarah di ikuti angin kencang.
"Kau harus mati! Kau harus mati bersamaku. Ha.... Ha... Kau harus mati," Ucap wanita itu dengan pancaran api yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
Ha... Ha....
Wanita itu tertawa puas melihat wajah Mila yang ketakutan. Angin terus bergembus dengan kecangnya, sehinnga membuat barang-barang berjatuhan. Api yang ada di belakang wanita itu juga terlibat semakin besar bersama tatapan tajam wanita itu yang sangat menakutkan.
Melihat itu, tubuh Mila langsung gemetar dengan kuat. Jantungnya berdegup kencang di ikuti dengan keringat yang terus bercucuran. Wajahnya pucat, tubuhnya terasa lemas dan tidak bisa bergerak sedikitpun.
Jep...
Arghhh....
Bersambung......
__ADS_1