
Melihat Erlan dan Gibran tidak ada lagi di mobil, Clara dan Rania langsung panik. Mereka takut jika mereka telah ketahuan, sehingga Erlan dan Gibran yang di jadikan sasaran.
"Lya! mana kakakmu?" tanya Clara melihat Aulya masih duduk dengan santainya.
"Meleka pelgi sebental atanya," ucap Fiona santai sambil memakan cemilannya.
"Mereka pergi ke mana, Sayang?" tanya Rania.
"Endak au!" ucap Fiona.
"Ya Allah! mama 'kan sudah hilang jangan kemana-mana. Tapi kenapa kalian biarkan Gibran dan Erlan pergi," ucap Clara menarik napasnya pelan.
"Lebih baik aku cari saja mereka," ucap Rania bersiap untuk turun dari mobil.
"Jangan! nanti kau ketahuan. Mereka mengenalmu," ucap Clara melarang.
"Lalu bagaimana dengan Erlan dan Gibran? kita tidak mungkin hanya diam saja di sini, sedangkan mereka entah di mana sekarang," ucap Rania panik.
"Kami baik-baik saja tante. Ayo jalan, mereka mau pergi lagi," ucap Gibran santai sambil masuk ke dalam mobil.
"Kalian dari mana saja? kenapa pergi tidak bilang tante?" tanya Clara menatap geram kedua bocah itu.
"Kami sudah bilang! tante saja yang tidak dengar," ucap Erlan ketus sambil memperhatikan Gibran yang sedang mengotak-atik laptopnya.
Mendengar ucapan Erlan yang sangat simpel, Clara dan Rania hanya mampu saling lempar pandang. Erlan memang pendiam, akan tetapi jika sekali bicara omongannya melebihi orang dewasa.
"Ayo jalan! lihat supirnya sudah masuk ke dalam truk itu," ucap Rania melihat truk itu berlahan keluar dari lokasi rumah makan.
"Baiklah!" ucap Clara menghidupkan mobilnya.
__ADS_1
Clara terus melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menatap binggung apa yang di lakukan para bocil di belakang dari kaca spion depan. Sedangkan Rania terus fokus menatap truk itu karena takut kehilangan jejak.
"Tante! sepertinya supir truk itu sedang menghubungi seseorang," ucap Gibran sambil mendengarkan rekaman dari laptopnya.
"Maksudmu?" tanya Rania dan Clara serentak.
"Tante Clara fokus saja menyetir. Jangan sampai kita kehilangan jejak," ucap Gibran memperingatkan.
"Baik!" ucap Clara membuang napasnya kasar mendengar para bocil yang memerintah nya seenaknya saja.
"Tante dengarkan ini," ucap Gibran meningikan suara volume laptopnya.
Sebenarnya Gibran dan Erlan menghilang bukan karena di culik. Namun, mereka pergi secara diam-diam untuk meletakkan alat penyedap suara di dalam truk. Erlan dan Gibran melakukannya dengan sangat teliti. Sehingga supir truk itu tidak menyadari, jika apapun yang dia bicarakan di dalam truk sudah terdengar oleh mereka.
Setelah selesai melakukan tugasnya, supir truk itu sengaja membuat kwitansi baru untuk berjaga-jaga. Dia mencatat semua barang yang tertinggal untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba Rania muncul seperti beberapa waktu lalu. Jika tidak, dia akan tetap menyerahkan kwitansi sebenarnya kepada Mila.
Sehingga mereka mendapatkan uang secara mudah. Mereka mendapatkan uang hasil penjualan sebagian barang ke rumah makan tadi. Lalu restoran akan membayar semua barang itu kepada Nur. Jadi mereka dapat menjual barang tanpa harus mengeluarkan modal sedikitpun.
"Sial! pantas saja uang pengeluaran lebih besar dari uang masuk. Ternyata mereka mengelakkan barang yang masuk," ucap Rania mengepalkan tangannya geram.
"Jadi apa yang akan kau lakukan, Ran?" tanya Clara menatap iba sahabatnya itu.
"Aku tidak tau! aku sangat binggung," ucap Rania memijit pelan keningnya.
"Kita tidak boleh gegabah. Aku yakin jika Mila juga terlibat dalam kecelakaan Tika. Kita harus bersabar, sampai Randy mendapatkan buktinya," ucap Clara.
"Tapi restoranmu! kita juga tidak bisa membiarkan dia menghancurkan restorannu seperti itu," ucap Clara mencoba berpikir.
"Tante tenang saja. Yang penting sekarang kita mengumpulkan semua buktinya terlebih dulu. Untuk masalah lain, serahkan saja kepada kami," ucap Aulya tersenyum sinis.
__ADS_1
...----------------...
Bisma menatap tajam montir yang ada di depannya. Dia memperhatikan setiap tubuh montir itu dari atas sampai bawah. Melihat kelakuan Bisma, Rayyan dan Rafi langsung berpikir yang tidak-tidak tentang Bisma.
"Apa mungkin Bisma itu," ucap Rayyan pelan sambil menatap Rafi.
"Maksudmu?" tanya Rafi mengerutkan keningnya binggung.
"Lihat caranya memperhatikan montir itu. Padahal dia tidak pernah menatap wanita seperti itu. Bahkan aku tidak pernah mendengar dia berpacaran. Apa mungkin," ucap Rayyan berpikir yang tidak-tidak tentang Bisma.
"Dia tidak pacaran karena menunggu jodohnya yang masih bocil," ucap Randy terkekeh kecil.
"Benarkah! atau," ucap Rayyan menatap Rafi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Kau gila! aku sudah punya anak dan istri. Jadi tidak mungkin aku melakukan hal gila itu," ucap Rafi kesal.
"Apa kalian tidak bisa diam?" tanya Bisma dingin sambil menatap tajam ketiganya.
"Sekarang yang jadi bosnya aku apa dia sih? Kenapa sedari tadi dia terus memarahiku seperti itu?" gimana Rafi kesal sambil menatap geram Bisma.
Namun, dia memilih untuk menurunkan egonya. Karena saat ini informasi dari montir itu jauh lebih berharga dari harga dirinya sebagai tuan muda.
"Sepertinya milikmu masih bangun. Apa kau mau aku membantu untuk menidurkannya?" tanya Bisma tersenyum sinis, sambil memainkan pisau belati di tangannya
Melihat pisau yang ada di tangan Bisma, ketiga papa muda itu langsung memegang milik mereka masing-masing.
"Jangan!" ucap ketiganya serentak.
"Aku belum melakukan itu bersama Rania," ucap Randy, sehingga membuat semua orang menatapnya.
__ADS_1
"Memangnya siapa yang mau memotong burung kalian?" tanya Bisma denga polosnya sehingga membuat ketiganya langsung tercengang.
Bersambung......