
Arin merasakan kram pada pinggangnya. Dia tidak tau kenapa tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit. Dia berapa kali mengubah posisi tidurnya, berharap rasa sakitnya akan berkurang. Akan tetapi perutnya malah semakin terasa sakit. Dia mencoba bangkit dari duduknya dan mencoba menemui Bu Nasri yang tidur di sebelah kamarnya.
Dia berjalan dengan sangat hati-hati sambil memegang dinding sebagai sandaran tangannya. Namun, perutnya malah semakin sakit, bahkan air bening keluar dari selangkangannya dan membasahi lantai. Arin yang sudah tidak kuat lagi melangkahkan kakinya memilih untuk duduk di lantai. Dia takut jika dia terus berjalan maka dia akan terjatuh dan mencelakai bayinya.
"Ma! mama," teriak Arin mencoba memanggil Bu Nasri sambil merintih kesakitan.
Mendengar suara Arin, Bu Nasri langsung bangkit dari tidurnya. Dia berlari ke kamar Arin dan melihat Arin sudah tergeletak lemas di lantai. Mata Bu Nasri langsung membulat ketika melihat air ketuban Arin yang sudah pecah. Tidak mau menunggu lama, Bu Nasri langsung menghubungi Denis untuk meminta pertolongan.
"Ma! sakit," ucap Arin berusaha menahan sakit pada perutnya.
"Sabar, Nak! kita ke rumah sakit sebentar lagi ya. Nak Denis sebentar lagi akan datang. Kau yang kuat ya," ucap Bu Nasri mencoba menguatkan Arin.
Tubuh Arin terasa sangat lemas kerana menahan sakit. Keringatnya bercucuran membasahi tubuhnya. Melihat rasa sakit yang dirasakan putrinya, Bu Nasri hanya bisa memeluknya. Dia mengelus perut Arin berharap rasa sakit pada perut Arin bisa berkurang.
Tidak menunggu lama, akhirnya Denis datang untuk membawa Arin ke rumah sakit. Dia menatap Arin yang duduk kesakitan di lantai dengan sangat cemas. Dia langsung mengendong tubuh Arin dan membawanya ke mobil. Bu Nasri dengan setia menemani Arin di kursi belakang. Dia terus mengengam tangan Arin dan menghapus keringat Arin yang terus bercucuran.
"Denis! cepat," ucap Bu Nasri panik.
"Ia, Tante. Aku sudah mengemudi dengan cepat," ucap Denis terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dia menatap Arin yang terus merintih kesakitan dari kaca spion depan. Angin malam yang begitu dingin tidak mampu menusuk kulitnya. Dia malah merasa kepanasan melihat Arin yang terus merintih kesakitan. Sungguh besar perjuangan seorang ibu untuk melahirkan buah hatinya. Bukan hanya Arin, Denis juga terus bercucuran keringat. Dia terus berdoa agar Arin bisa melakukan persalinan dengan selamat.
Sesampainya di rumah sakit, Denis langsung menepikan mobilnya. Dia memanggil para suster dengan panik. Mendengar teriakan Denis, para suster langsung berlarian keluar sambil memabawa bangsal dorong. Dirga yang mengendong tubuh Arin langsung meletakkannya di bangsal dorong itu. Denis dan para suster langsung mendorong Arin ke ruangan persalinan.
"Denis! tolong panggil Dirga," ucap Arin sambil mengengam tangan Arin.
"Ia! aku akan menghubunginya. Kau yang kuat ya," ucap Denis sambil mengusap keringat Arin.
...----------------...
Dirga duduk di balkon kamarnya. Ntah mengapa perasaannya begitu cemas. Dia tidak tau mencemaskan apa, akan tetapi dirinya terus merasa gusar. Bahkan walaupun hari sudah larut malam dia tetap tidak bisa memejamkan matanya. Dia berjalan kesana kemari seperti orang linglung. Pikiran Dirga terus teetuju pada Arin, dia tidak tau kenapa dia terus mengingat Arin.
Dia menatap bintang-bintang di langit sambil meminit keningnya pelan. Dia menatap ponselnya dan terus menatap nomor Arin yang tersimpan di kontak ponselnya. Ingin sekali dia menghubungi Arin untuk menanyakan keadaannya. Akan tetapi melihat hari yang sudah larut malam, Dirga takut akan menggangu waktu istirahat Arin.
Prakk....
Gelas itu langsung jatuh ke lantai dan pecah berserakan. Dirga menatap gelas itu dengan perasaan binggung. Padahal dia sudah memegang gelas itu dengan baik. Namun, kenapa gelas itu masih bisa jatuh dari genggamannya.
"Dirga! kau kenapa?" tanya Bu Bima melihat Dirga yang diam menatap gelas pecah itu.
__ADS_1
"Aku tidak tau, Ma! Tiba-tiba saja perasaanku menjadi gelisah tidak menentu. Aku seperti sedang mencemaskan sesuatu, tapi aku tidak tau apa itu," ucap Dirga memijit keningnya pelan.
"Mungkin kau kelelahan, Sayang. Lebih baik kau istirahat saja, biar mama yang bersihkan pecahan kaca ini," ucap Bu Bima mengusap lembut puncak kepala Dirga.
"Tidak! mama sedang tidak enak badan. Mama istirahat saja. Mama harus fit besok. Besok kita akan melamar Arin. Dirga tidak mau jika sampai mama kelelahan besok," ucap Dirga menatap wajah Bu Bima yang terlihat pucat.
"Tidak apa-apa, Nak! mama sehat kok. Mendengar kau mau kembali dengan Arin saja mama sudah merasa bahagia. Jadi mama yakin, mama aku terlihat bugar besok pagi,"
"Baiklah! biar Dirga bantu mama saja. Biar cepat selesai dan mama bisa istirahat kembali," ucap Dirga berjongkok dan memungut beling kaca itu.
"Aw!" Tiba-tiba tangan Dirga terkena pecahan kaca dan terluka.
"Kau kenapa, Nak! sini mama obati," ucap Bu Bima panik lalu mengambil kotak p3k
Di saat bersamaan ponsel Dirga yang dia letakkan di meja berbunyi. Dirga membiarkan tangannya yang berdarah dan menatap ponselnya. Pikiran Dirga langsung melayang ntah kemana ketika melihat nama Denis yang tertera di ponselnya. Dirga langsung mengambil ponselnya lalu menekan tombol hijau.
"Apa! Arin, mau melahirkan?" ucap Dirga membulatkan matanya terkejut.
"Baiklah! kami akan segera ke sana," ucap Dirga langsung menyimpan ponselnya ke saku celananya lalu berlari keluar.
__ADS_1
Dia membiarkan tangannya yang terluka, bahkan dia tidak merasakan sakit sedikitpun. Dia hanya menghawatirkan keadaan Arin saat ini. Mendengar Arin yang mau melahirkan, Bu Bima langsung memanggil Bima dan ikut bersama Dirga menuju rumah sakit.
Bersambung......