
"Nak! sampai kapan kau menyembunyikan keadaanmu seperti ini. Dirga juga berhak tau tentang kandunganmu," ucap Nasri ibu kandung Arin.
Sebenarnya Nasri tidak setuju dengan rencana Arin, untuk pergi meninggalkan Dirga saat sedang mengandung. Namun, sebagai seorang ibu dia juga tidak bisa melihat putrinya terus tersiksa. Sebagai seorang wanita dia tau bagaimana penderitaan Arin selama ini. Itulah sebabnya dia mencoba untuk mengikuti keinginan Arin, dan berlahan memberi nasihat kepadanya.
"Untuk apa dia tau, Ma? sedangkan dia saja tidak mengharapkan kehadiran bayi ini. Biarkan saja dia hidup tanpa kami dan mencari kebahagiaannya sendiri," ucap Arin sambil mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Tapi, Nak!"
"Maaf, Ma! aku lelah, biarkan aku istirahat," ucap Arin membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.
"Baiklah! kau istirahat saja. Mama akan masak makan malam untukmu," ucap Nasri membuang napasnya kasar lalu pergi meninggalkan Arin.
Melihat ibunya telah pergi, air mata Arin kembali menetes membasahi wajahnya. Jujur dia juga menginginkan perhatian dari suaminya saat dia mengandung seperti ini. Namun, keinginannya tinggallah keinginan. Rasa sakit hatinya lebih besar dari pada keinginannya. Sehingga membuatnya memilih untuk menyerah dan keluar dari kehidupan Dirga.
Bahkan dia sudah mengatur rencana yang sangat besar. Setelah dia melahirkan, dia akan kembali merintis kariernya kembali. Dia akan kembali mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya dan juga buah hatinya. Karena tidak mungkin dia terus bergantung hidup kepada ibunya. Lagi pula dia memiliki pendidikan yang sangat bagus. Jadi sudah di pastikan akan banyak perusahaan yang akan menerimanya.
__ADS_1
Walaupun dia tau jika Dirga terus mencarinya, akan tetapi Arin tetap memilih untuk tetap bersembunyi. Arin yakin jika Dirga melakukan itu hanya karena menuruti permintaan mamanya. Karena Arin tau jika Dirga juga menikahinya hanya karena mamanya bukan karena cinta. Dari pada harus menelan rasa sakit hati setiap harinya, Arin memilih untuk pergi dan berusaha melupakan Dirga. Dia berharap suatu saat nanti dia dan calon anaknya akan mendapatkan kebahagiaan walaupun tanpa Dirga.
"Aku ingin rujak!" ucap Arin tiba-tiba ingin makan rujak.
Arin langsung bangkit dari ranjangnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya. Dia mengambil hondienya dan juga selendang untuk menutupi kepalanya. Jika keluar, Arin memang selalu mengunakan selendang dan kaca mata untuk menutupi wajahnya. Dia tidak ingin jika ada orang yang melihatnya. Karena dia tau wajahnya sudah di kenali banyak orang, apalagi mengingat tawaran yang di berikan Dirga. Pasti banyak orang yang akan mencarinya demi mendapatkan uang imbalan.
"Ma! aku pergi ke pasar dulu ya," ucap Arin berpamitan.
"Ia! tapi kau hati-hati ya. Jangan sampai ada orang yang melihatmu," ucap Nasri khawatir.
"Ia, Ma!" ucap Arin lalu pergi mengunakan mobilnya.
"Sial! kenapa mencari rujak saja susahnya minta ampun. Biasanya kalau aku lagi tidak pingin begitu banyak penjual rujak yang aku lihat. Tapi sekarang mereka semua ke mana?" gumam Arin mengendus kesal.
Karena sudah lelah dan cuaca yang terasa panas, Arin sampai tidak sadar selendang yang menutupi kepalanya melorot. Hingga wajahnya hingga tertutupi kaca mata. Shinta yang kebetulan berada di lampu merah itu tidak sengaja melihat ke mobil Arin. Awalnya dia kira cuman ilusi nya semata karena pustur tubuh Arin yang semakin gemuk.
__ADS_1
"Itu bukannya Arin?" gumam Shinta berbicara seorang diri sambil menatap ke mobil Arin.
"Tapi kenapa tubuhnya semakin gemuk. Seperti orang yang sedang hamil," gumam Shinta sambil memastikan jika yang di lihatnya itu adalah Arin.
Namun, tiba-tiba lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Melihat itu Arin langsung kemabli melajukan mobilnya bersamaan dengan pengendara lainnya. Tidak mau ke hilangan jejak, Shinta langsung melajukan mobilnya mencoba mengejar Arin. Dia harus memastikan jika orang yang dia lihat itu adalah Arin. Karena dia sangat yakin jika itu adalah Arin.
"Aku yakin itu adalah Arin. Aku harus mengejarnya," gumam Shinta melajukan mobilnya mengejar mobil Arin.
Brakkk....
"Arghhh... Sial!" gumam Shinta ketika mobilnya tidak sengaja menabrak mobil pengendara lain.
Karena lebih fokus ke mobil Arin, Shinta sampai tidak melihat kanan dan kiri. Hingga akhirnya dia menabrak mobil yang ada di depannya.
"Dasar mobil sialan! awas saja kau ya. Gara-gara kau aku kehilangan jejak Arin," gumam Shinta penuh emosi bersiap untuk melupakan kemarahannya kepada pemilik mobil itu.
__ADS_1
Itu adalah kebiasaan buruk Shinta. Selalu tidak mau mengakui kesalahannya dan menyalahkan orang lain. Jadi bersiaplah pengendara itu menerima amukan Shinta yang bermulut pedas dan berbisa.
Bersambung.....