
Rania duduk termenung di atas ranjang sambil memainkan tangan mungil Cheesy. Dia menatap Cheesy yang sedang tertidur dengan lelapnya dengan tatapan kosong. Randy yang telah selesai mandi melihat Rania dengan tatapan binggung. Sudah berapa kali dia melihat Rania duduk termenuk seperti itu.
Randy berlahan membuang napasnya kasar sambil berpikir apa yang sedang di pikirkan istrinya. Tidak mau berpikir panjang, Randy langsung naik ke atas ranjang lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rania.
"Kau sedang memikirkan apa, Sayang?" tanya Randy sambil menarik dagu Rania sehingga kini mereka saling bertatapan.
"Tidak ada! aku hanya sedang memperhatikan putri kita saja," ucap Rania tersenyum.
"Kau tidak perlu berbohong! aku tau kau sedang memikirkan sesuatu. Coba katakan kepadaku,"
Mendengar perkataan Randy, Rania langsung berpikir sejenak. Permbicaraannya dengan Arin tadi siang terus mengusik pikirannya. Jujur saja dia merasa kasihan akan nasib pernikahan Arin. Sebagai seorang wanita, dia tau persis bagaimana sakitnya tidak di anggap oleh suami sendiri.
"Aku memikirkan Arin, Mas," ucap Rania membuang napasnya pelan.
"Arin! memangnya Arin kenapa?"
"Apa kau dekat dengan Arin, Mas?"
"Em! Tidak terlalu dekat. Memang kami dulu selalu satu sekolah. Tapi, aku selalu menjauhinya karena Mila yang terus mengangguku," ucap Randy membuang napasnya kasar menginga obsesi Mila kepadanya.
"Apa Mila mengejarmu sejak dulu?"
"Ia! dia menyatakan cintanya sejak kami masih duduk di bangku SMA. Tapi aku menolaknya karena memang aku tidak menyukainya. Lalu apa hubungannya dengan Arin?" tanya Randy mengerutkan keningnya binggung.
"Arin sedang hamil, Mas,"
"Arin hamil! itu berita bagus dong. Kenapa kau nampak murung seperti ini? apa?" tanya Randy menatap Rania dengan tatapan penuh selidik.
Randy tau bagaimana hubungan Dirga dan Rania dulu. Bahkan Randy pernah menjadi saksi besarnya cinta mereka saat Rania mengantarkan Dirga ke bandara. Jadi sebagai seorang suami, tentu saja Randy takut jika istrinya masih menyimpan rasa kepada pria lain.
__ADS_1
"Tapi Dirga tidak mengangap Arin, Mas. Bahkan dia juga tidak perduli dengan kehamilan Arin. Jujur saja, aku kecewa dengan sikap Dirga kepada Arin. Kenapa dia bisa setega itu kepada anak istrinya. Aku merasa jika Dirga yang sekarang bukanlah Dirga yang aku kenal dulu," ucap Rania membuang napasnya kesal mengingat perbuatan Dirga kepada Arin.
"Lalu sekarang kau mau gimana?" ucap Randy tersenyum sambil membelai lembut rambut panjang Rania.
"Arin memintaku untuk berbicara dengan Dirga. Tapi," ucap Rania menatap Randy dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kau bicaralah dengannya. Mungkin dia bisa mendengarkan ucapanmu,"
"Tapi, Mas!" ucap Rania mengerutkan keningnya.
"Aku percaya kepadamu. Aku yakin kau tidak akan menghianati cinta kita. Bicaralah dengannya, jangan sampai bayi yang tidak berdosa menjadi dampak keegoisannya," ucap Randy tersenyum.
Mendengar ucapan Randy, Rania langsung tersenyum bahagia. Dia memeluk Randy lalu menengelamkan wajahnya di dada bidang Randy.
"Terima kasih, Mas! kau memang suami sempurna yang di titipkan sahabatku kepadaku," ucap Rania tersenyum.
"Kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak mencintaiku, Sayang?" tanya Randy menarik dagu Rania sehingga kini kedua netra mata mereka saling bertemu.
Randy dapat melihat pancaran cinta yang tulus terpancar dari mata Rania. Walaupun Rania belum pernah mengatakan cintan kepadanya. Akan tetapi Randy dapat melihat cinta yang begitu besar yang tersimpan di mata Rania.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Rania malah membalikkan pertanyaan Randy.
"Ya! aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Bahkan aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu," ucap Randy menangkup kan kedua tangannya di wajah Rania sambil menatap lekat mata Rania.
"Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku," ucap Randy kembali sambil menitikkan air matanya.
Mendengar pernyataan cinta dari Randy, Rania langsung membulatkan matanya terkejut. Dia menatap Rany dengan tatapan penuh rasa tidak percaya. Dia merasa jika ini hanyalah mimpi ataupun khayalannya semata. Namun, kejadian ini memang benar apa adanya. Di mana Randy memang benar-benar menerimanya dan mau membangun lembaran baru bersama.
"A... aku tidak mimpi 'kan?" tanya Rania gugup sambil mencubit tangannya sendiri.
__ADS_1
"Aw! sakit. Jadi ini tidak mimpi," gumam Rania menatap Randy dengan tatapan penuh kebingungan.
"Tidak, Sayang. Ini tidak mimpi. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Maaf, karena aku pernah mengabaikanmu dan tidak menerima pernikahan kita. Aku berjanji mulai saat ini aku akan menjadikanmu ratu dalam kehidupanku," ucap Randy lalu menempelkan bibirnya dengan bibir mungil Rania.
Melihat aksi Randy, Rania hanya diam sambil memejamkan matanya. Dia membiarkan Randy memainkan bibirnya dan meresapi setiap sentuhan lembut yang di berikan Randy kepadanya.
"I really love you my dear. You will always be in my heart," ucap Randy tersenyum sambil membelai wajah Rania dengan napas yang memburu.
"I love you too. I promise to give my whole life to you," ucap Rania tersenyum.
Mendengar ucapan Rania, Randy langsung tersenyum. Dia kembali menangkup kan kedua tangannya di wajah Rania dan kembali mencium lebut bibir Rania. Dia berlahan membaringkan tubuh Rania dan menindih nya dengan tubuh kekarnya.
"Ma... ma... Pa... pa... " ucap Cheesy bangun dari tidurnya lalu menatap Randy dan Rania dengan mata yang cerah.
"Aduh Cheesy! kenapa kau bangun tidak tepat pada waktunya sih. Padahal papa baru ingin buka puasa," gumam Randy kesal sembil turun dari tubuh Rania.
Melihat wajah kesal Randy, Rania hanya bisa tersenyum kecil lalu membawa Cheesy ke dalam gendongannya.
"Aku mau mandi lagi ya," ucap Randy mengacak-acak rambutnya frustasi lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Bukankah kau baru selesai mandi," ucap Rania dengan polosnya.
"Ia, tadi mandi untuk membersihkan tubuhku. Tapi kali ini mandi sekalian menidurkan sesuatu," ucap Randy mengendus kesal.
Mendengar ucapan Randy, Rania langsung menatap ke arah celana Randy. Dia melihat sesuatu yang besar menonjol di sana, sehingga membuat Rania langsung tersadar.
"Ternyata mau mandi sambil bersolo karir," batin Rania sambil menunduk malu membayangkan sesuatu yang ada di dalam sana.
Bersambung....
__ADS_1