Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 43


__ADS_3

"Hallo, Kak! apa barang ke restoran sudah di antar?" tanya Rania menghubungi Nur.


"Belum, Ra! sekitar lima belas menit lagi mereka akan berangkat. Aku sudah menghubungi Clara. Lebih baik kau bersiaplah," ucap Nur menekankan suaranya dari sebrang sana.


"Baiklah! Aku akan bersiap-siap sekarang," ucap Rania langsung mematikan panggilannya.


Hari ini adalah jadwal barang dari toko Nur masuk ke restoran. Rania dan Clara sepakat ingin menyelidiki tentang kecurigaan mereka. Rania yakin jika supir truk pengantar barang, dan Mila bekerja sama untuk menjelaskan barang yang masuk ke restoran. Sebelum semua terlambat Rania ingin memastikan dugaannya secepatnya.


"Bik!" teriak Rania mencari keberadaan Bik Ijah.


"Ia, Nyonya,"


"Bik, aku mau keluar sebentar. Aku titip Cheesy sebentar ya," ucap Rania memberikan Cheesy kepada bik Ijah.


"Baik, Nyonya!" ucap bik Ijah menerima Cheesy.


"Sayang! mama pergi sebentar ya. Cheesy jangan nakal sama bibik ya," ucap Rania lalu mencium wajah gembul Cheesy.


"Memangnya nyonya mau ke mana?" tanya bik Ijah penasaran.


Karena selama ini Rania tidak pernah meninggalkan Cheesy. Dia pasti selalu membawa Cheesy kemanapun dia pergi.


"Aku ada pekerjaan penting, Bik. Jika Mas Randy pulang, katakan saja aku pergi bersama Clara," ucap Rania.


"Baik, Nyonya. Nyonya hati-hati ya,"


"Ia, Bik. Aku titip Cheesy ya," ucap Rania tersenyum.


Tin.. ti...


"Ra! ayo cepat!" teriak Clara dari dalam mobilnya.


"Clara sudah datang. Aku pergi dulu ya, Bik," ucap Rania menyalim tangan Bik Ijah lalu bergegas keluar.


Bik Ijah hanya menatap punggung Rania dengan tatapan penuh kehawatiran. Dia tau jika Rania sedang melakukan suatu pekerjaan penting yang berbahaya. Jika tidak, tidak mungkin dia meninggalkan Cheesy bersamanya.

__ADS_1


"Ayo cepat!" ucap Rania langsung masuk ke dalam mobil Clara.


"Cheesy mana?" tanya Clara.


"Cheesy aku titipkan kepada Bik Ijah. Kita harus bergerak cepat ya," ucap Rania.


"Baiklah! kau tenang saja. Para bocil jenius ada bersama kita," ucap Clara melirik kaca spion depan.


"Hai, Tante!" ucap Aulya, Gibran dan Erlan duduk santai di belakang.


"Kau yakin, Ra?" tanya Rania mengerutkan keningnya melihat para bocah itu.


"Kami sudah memikirkannya terlebih dulu, Ran. Kau tenang saja," ucap Clara tersenyum lalu melajukan mobilnya.


"Ante enang aja! Ami akan bekerja engan aik," ucap Fillio tersenyum.


"Ia! ika ami elhasil. Ante halus teraktir ami akan glatis," ucap Fiona melakukan kesepakatan.


"Baiklah! jika kalian berhasil. Kalian boleh makan gratis sepuasnya di restoran tante," ucap Rania tersenyum.


"Holle! kita atan akan anyak," ucap Fiona penuh semangat.


"Gibran! kau membawa peralatannya 'kan?" tanya Rania


"Sudah, Tante! kami sudah bawa drone dan juga laptopnya," ucap Gibran.


"Baiklah! kau jalankan tugasmu dengan baik," ucap Clara tersenyum.


"Baik, Tante!" ucap Gibran tersenyum.


"Aulya! kalian diam saja ya. Awas kalau bertingkah. Tante akan laporin sama mamamu," ucap Clara mengancam.


"Ia lho tante cantik! Aulya akan menahan diri Aulya untuk melihat cowok tampan hari ini. Ini semua demi tante Rania dan juga tante Tika," ucap Aulya menunduk sedih mengingat kenangan mereka bersama Tika.


"Aulya memang anak baik. Tante yakin kau akan tumbuh menjadi gadis yang hebat. Tapi kurangi mata keranjangmu itu," ucap Rania terkekeh kecil mengingat kelakuan Aulya yang tidak bisa melihat cowok tampan.

__ADS_1


"Tante! itu truknya," ucap Erlan melihat truk yang mengantarkan barang ke restoran Rania.


"Ayo kita ikuti! ingat kalian jangan berisik," ucap Clara mengikuti truk itu dari belakang.


"Ini bukan jalan ke restoran. Kenapa mereka pergi ke sini?" tanya Rania binggung.


"Lan! apa mama menyuruh mereka mengantar barang ke tempat pelangan yang lain?" tanya Rania kepada Erlan.


"Tidak, Tante. Mama bilang mereka hanya mengantar barang tante," ucap Erlan.


"Baiklah! misi kita segera di mulai," ucap Aulya penuh semangat.


"Sayang sekali Sania dan Yuki tidak ikut. Jika mereka ikut pasti semakin seru," ucap Aulya mengingat kedua sahabatnya itu.


"Ia, seru! tapi pekerjaan kita akan jadi berantakan karena tingkah kalian," ucap Gibran ketus.


"Bilang aja kakak iri," ucap Aulya memutar bola matanya memelas.


Mendengar para bocil terus bertengkar, Rania dan Clara hanya mampu membuang napas mereka pelan. Di tengah-tengah pertengkaran para bocil mereka terus memperhatikan trus yang ada di depan mereka.


Hingga akhirnya mereka melihat truk itu masuk ke sebuah rumah makan. Melihat itu Clara menghentikan mobilnya tidak jauh dari halaman rumah makan itu. Mereka dapat melihat seorang pria menghampiri truk itu.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Rania binggung.


"Kita lihat saja! aku yakin mereka menjual sebagian barangmu kepada mereka," ucap Clara.


Benar saja, setelah berbincang-bincang kecil, supir truk itu mengeluarkan sebagian barang yang ada di dalam truk itu. Rania dan Clara juga melihat jika pria itu memberikan uang kepada Supir truk itu.


"Ternyata dugaan kita benar," ucap Rania menggeleng kecil.


"Sekarang kita tinggal membuktikan, apa Mila ikut dalam permainan mereka," ucap Clara.


"Erlan dan Gibran ke mana?" tanya Rania setelah sadar jika Erlan dan Gibran tidak ada lagi di dalam mobil.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2