Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 68


__ADS_3

Mendengar ucapan lancang Clara, Bu Bima hanya bisa diam. Dia menatap kesal keberanian Clara yang berbicara dengan lantang di depannya.


"Kau itu tidak tau diri. Apa kau lupa jika kakak wanita ini yang telah menghilangkan nyawa bayi yang ada dalam kandunganmu. Bahkan wanita ini juga sudah menjebakmu agar tidur bersama Dirga. Walaupun akhirnya Dirga tidur dengan kakaknya yang ****** itu," ucap Bu Bima langsung mengungkit masa lalu.


"Itulah sebabnya aku tidak pernah menyukai wanita ini. Dia itu hanya memanfaatkan cinta Dirga. Dia sama sekali tidak mencintai Dirga, baik itu dulu maupun sekarang," ucap Bu Birma menatap penuh kebencian ke arah Rania.


"Ma! sudah cukup. Apa mama tidak lihat jika Arin sedang terbaring lemah di sini. Tapi kenapa mama masih sempat-sempatnya mencari keributan," ucap Dirga menatap kesal mamanya.


"Mencari keributan kau bilang!"


"Sudah, Ma! aku lelah, kepalaku sangat pusing. Jadi aku tidak mau berdebat dengan mama. Sekarang biarkan saja Rania menjenguk Arin, karena bagaiamanapun dia berhak tau keadaan Arin," ucap Dirga dengan tegas.


"Ma! sudah. Biarkan Rania melihat keadaan Arin," ucap Bima menenangkan istrinya.


Melihat semua orang yang membela Rania, Bu Bima hanya mampu membuang napasnya kasar. Dia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Arin dengan penuh kekesalan. Melihat itu, Bima dan Dirga hanya mampu membuang napasnya kasar. Mereka langsung mempersilahkan Rania untuk masuk dan melihat keadaan Arin.


Setelah mendapatkan izin, Rania langsung menghampiri Arin. Dia menatap tubuh lemah Arin dengan tatapan penuh rasa iba. Jika bukan karena ingin menolongnya, mungkin Arin tidak akan berada di ruangan itu. Rania mencoba mengengam tangan Arin sambil menatapnya dengan kata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kau sangat membenciku. Tapi kenapa kau menolongku? Kau bisa membiarkanku di tabrak oleh mobil itu. Karena setelah kepergiaan ku kau akan merasa puas. Tapi kau tidak melakukan itu, kau memilih untuk menolongku dan mengorbankan dirimu dan bayi yang ada dalam kandunganmu. Kenapa hatimu sebaik itu," ucap Rania memeluk tangan Arin sambil menangis kesegukan.


"Mungkin ini adalah cara Arin untuk menebus kesalahannya kepadamu. Setelah dia tau jika kau itu wanita baik, dia merasa bersalah karena telah membencimu. Kita semua berdoa saja, agar Arin bisa cepat berkumpul dengan kita lagi," ucap Clara mengusap punggung Rania.


"Arin sebenarnya wanita yang sangat baik. Hanya saja karena terpengaruh dengan Mila dia menjadi egois. Aku yakin Arin akan kembali bersama kita. Karena dia adalah wanita yang kuat," ucap Randy tersenyum sambil menatap wajah teduh Arin.


"Terima kasih atas doa kalian. Semoga saja Arin bisa cepat sadar dan bisa berkumpul dengan kita lagi. Aku yakin setelah berteman dengan kalian, dia akan merubah cara pikirnya," ucap Dirga mengelus puncak kepala Arin.


...----------------...


Rayyan dan Ardiyan bergegas untuk mencari keberadaan supir itu. Mereka mencarinya sampai ke kediamannya, akan tetapi mereka tidak menemukan apa-apa. Hingga akhirnya, mereka mendapat kabar dari salah satu anak buah mereka. Jika supir itu telah berada di bandara hendak melarikan diri ke luar kota.


Sesampainya di bandara, mereka langsung pergi ke ruang informasi. Namun, saat ingin memeriksa data para penumpang, salah satu petugas langsung menghalangi mereka. Sehingga menciptakan perdebatan di antara mereka.


"Maaf Tuan! kami tidak bisa memberikan data tentang penumpang kami. Karena itu termasuk privasi mereka," ucap salah satu pegawai pria dengan tegas.


"Tolong berikan data itu. Karena kami sedang mencari seorang buronan yang akan melakukan penerbangan ke luar kota. Kami tidak membutuhkan datanya, kami hanya membutuhkan informasi tentang keberangkatannya," ucap Ardiyan penuh permohonan.

__ADS_1


"Jika anda ingin mencari buronan. Apa anda ini seorang polisi? jika di perhatika dari penampilan anda anda bukanlah bagian dari kepolisian negara ini. Jadi jika anda ingin mencari orang itu, silahkan periksa seluruh bandara ini," ucap pegawai itu tersenyum meremehkan.


Mendengar ucapan pegawai itu, emosi Rayyan langsung memuncak. Terlihat wajahnya yang merah padam dan tatapannya yang begitu tajam seperti ingin membunuh pria itu saat ini juga.


"Kau berikan atau tidak?" tanya Rayyan berusaha menahan emosi nya.


"Maaf! kami tidak bisa memberikan informasi apapun kepada anda," ucap pria itu menantang.


"Kau berikan atau kepalamu akan meledak saat ini juga!" bentak Rayyan sambil menodongkan senjata apinya tepat di kepala pria itu.


Melihat aksi brutan Rayyan, pria itu langsung gugup ketakutan. Melihat pria itu yang hanya diam mematung tanpa melakukan apa yang dia suruh. Emosi Rayyan kembali memuncak dan meledak begitu saja.


Dor!


Satu tembakan langsung meletus dari senjata api itu sehingga membuat keadaan bandara langsung ricuh.


"Ba... baik, Tuan!" ucap pria itu gugup lalu mengotak atik laptopnya dengan cepat.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2