
"Kalian pasti lelah! kalian istirahatlah. Biar Cheesy malam ini tidur denganku," ucap Clara sambil mengendong Cheesy.
"Tapi, Ra!" ucap Rania merasa tidak enak jika Clara harus mengurus Cheesy semalaman.
"Tidak apa-apa. Biar malam pertamamu tidak terganggu," bisik Clara sambil tersenyum mengoda Rania.
"Ets! jangan lupa pakai ini ya. Buat suamimu terkesima malam ini," ucap Clara memberikan eco bag yang berisi lingrie tipis berwarna hitam.
"Sudah! aku pergi dulu. Selamat bersenang-senang," ucap Clara tersenyum kecil lalu membawa Cheesy pergi.
"Apa itu?" tanya Randy melihat eco bag pemberian Clara.
"Tidak apa-apa! aku lelah. Kita istirahat yuk,"
"Baiklah," ucap Randy langsung membawa tubuh Rania ke dalam gendongannya.
"Mas!" ucap Rania menatap para tamu yang menatapnya.
"Gak sabar ya, Ran? mau malam pertama!" tanya Wildan terkekeh geli.
"Ha.. ha... pengantin baru! stok lama," ucap Kinan ikut-ikutan.
"Malam pertama yang ke berapa Ran? tapi rasanya tetap nikmat 'kan? ingat jaga pinggang, jangan sampai encok," ucap Rayyan sambil terkekeh geli.
Mendengar ucapan para papa muda itu, Rania langsung menunduk malu. Dia menengelamkan wajahnya di dada Randy, karena merasa malu dengan ucapan para papa muda itu. Melihat ekspresi Rania, para papa muda malah semakin senang dan terus mengoda nya. Tanpa mereka sadari ada bocil-bocil pintar yang mendengarkan ucapan mereka.
"Kalian nikmati saja acaranya. Aku mau menghabiskan malam pertamaku dengan keringat," ucap Randy tersenyum lalu melangkahkan kakinya sambil mengendong Rania.
"Ha... ha... Apa kita perlu melakukan malam pertama juga?" tanya Rafi menatap genit Clara.
__ADS_1
"Alam eltama itu apa?" tanya Fiona dengan polosnya sehingga membuat Rafi langsung terdiam.
"Ia! kalian terus mengucapkan malam pertama. Memangnya malam pertama itu apa?" tanya Sania kembali sehingga membuat para papa muda itu langsung saling pandang lempar pandangan.
"Lihat! Tante Rania juga nampak sangat malu. Memangnya malam pertama dengan keringat itu apa? lari-larian di malam hari gitu?" tanya Aulya.
"Sial! kenapa mulutmu tidak bisa di jaga, sih!" ucap Rayyan menyalahkan Wildan.
"Kenapa aku? bukankah kau juga ikut-ikutan," ucap Wildan tidak terima.
"Kau yang mulai duluan. Jadi kami ikutan saja. Mulutmu itu memang tidak bisa di jaga. Tau ada para bocil kepo disini," ucap Kinan ikut-ikutan menyalahkan Wildan.
"Ia, Benar! memang kau tidak bisa menjaga mulutmu itu. Sekarang tanggung jawab," ucap Rafi malah ikut menyalahkan Wildan.
"Enak aja tanggung jawab. Memangnya aku menghamilimu?" ucap Wildan ketus.
"Memangnya Paman Rafi bisa hamil?" tanya Yuki sambil menggerakkan tangannya di perut memberikan kode orang hamil.
"Ami ndak itut ampul aman. Ami anya eltanya. Ingat awab aja apa ucahnya cih," ucap Fiona memayunkan bibirnya kesal.
"Sayang! di sana ada es cream. Kalian mau tidak?" tanya Ardiyan mencoba mengalihka perhatian para bocil itu.
"Es klim! Iona au," ucap Fiona langsung berlari ke tempat yang di tunjukkan Ardiyan.
"Cepat! es krim nya tinggal sedikit. Nanti kalian tidak kebagian," ucap Ardiyan melihat Sania, Aulya dan Yuki hanya diam saja.
"Eh! Fiona tunggu kami!" ucap ketiganya mengejar Fiona.
"Ingat! kalian masih berhutang penjelasan kepada kami," ucap Aulya menatap tajam para papa muda.
__ADS_1
"Ia!" ucap Ardiyan singkat sambil menatap tatapan Aulya yang begitu menusuk.
"Kau pakai gaya apa waktu mencetak Aulya dulu, Ray?" tanya Kinan menatap kepergian Aulya.
"Pakai gaya kodok," ucap Rayyan asal.
"Besok jika aku ada rencana buat bayi lagi. Aku tidak akan mengunakan gaya kodok," ucap Wildan.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau anakku nantinya seperti Rayyan. Mata keranjang," ucap Wildan asal lalu meminum secangkir anggur yang ada di depannya.
...----------------...
Bu Bima menatap kesal kebahagiaan Rania dan Randy yang ditayangkan di televisi. Dia tidak terima melihat kebahagiaan Rania, sedangkan keluarga Dirga hancur begitu saja. Dia terus menyalahkan Rania atas perceraian Dirga dan Arin.
"Lihatlah wajah tanpa dosa itu. Setelah menghancurkan pernikahan putraku dia malah mengumbar kebahagiaannya di depan umum. Dsa wanita tidak punya hati," oceh Bu Bima sambil mematikan TV.
Mendengar ocehan istrinya itu, Bima hanya mampu membuang napasnya kasar. Dia mengelengkan kepalanya kecil sambil menatap istrinya yang terus mengoceh. Bima tidak mengerti kenapa Bu Bima sangat membenci Rania. Padahal Rania adalah gadis yang sangat baik. Walaupun dia mempunyai masa lalu yang buruk. Akan tetapi Rania kini telah berubah dan menyesali semua perbuatannya dulu.
"Ma! sampai kapan mama menyalahkan Rania seperti ini? padahal Rania tidak ada hubungannya dengan perceraian Dirga,"
"Siapa bilang gak ada hubungannya dengan wanita ****** itu. Perceraian Dirga dan Arin seratus persen karena wanita itu. Karena wanita itu kita harus kehilangan calon cucu kita. Bahkan Arin juga pergi meninggalkan kita," ucap Bu Bima menatap kesal suaminya itu.
"Tapi itu semua tidak sepenuhnya kesalahan Rania, Ma!"
"Bela saja terus! sudahlah, ngomong sama papa bikin mama emosi saja. Bukannya membuat pikiran mama tenang, malah membuat mama semakin pusing," oceh Bu Bima lalu pergi meninggalkan Bima dengan penuh kekesalan.
Bima hanya menatap kepergian istrinya itu sambil mengeleng kecil. Dia tau bagaimana kecewanya istrinya tentang keputusan Arin. Namun, Bima yakin Arin sudah memikirkannya dengan matang-matang. Bima hanya mampu membuang napasnya kasar sambil berdoa agar Arin bisa secepatnya di temukan dan memberi pengertian kepada istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung.....