Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 115


__ADS_3

Semakin lama acara terlihat semakin ramai. Rekan kerja dan pebisnis besar lainnya berdatangan untuk memberikan selamat kepada Arin dan Dirga. Di keramaian pesta, seperti biasa para bocah akan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sedangkan para mama muda memilih untuk bersantai dan bergosip dengan para tamu yang lainnya.


Beda dengan Clara dan teman-temannya yang lain yang sedang bergabung dengan para tamu lain. Rania malah duduk sendiri sambil menatap Cheesy yang sedang sibuk memakan kue bersama Fiona dan bocah pria lainya. Dia duduk diam sambil memperhatikan kebahagiaan Arin dan Dirga dengan penuh kebahagiaan.


Namun, tiba-tiba Bu Bima berlahan mendekatinya sambil membawa dua gelas teh di tangannya. Ntah apa yang dia lakukan, semoga saja dia tidak membuat keributan di acara bahagia ini. Rania yang melihat Bu Bima berjalan ke arahan yang mencoba untuk bangkit dari duduknya. Dia tidak mau jika harus berhadapan dengan Bu Bima di depan orang ramai seperti ini. Lebih baik dia menghindarinya saja.


"Ra! kau mau ke mana?" tanya Bu Bima menghentikan langkah Arin ketika ingin menjauhinya.


"Tidak ke mana-mana," ucap Rania merasa canggung dengan sapaan Bu Bima.


"Bisa kita bicara sebentar?"


"Bicara?" tanya Rania mengerutkan keningnya kebingungan.


Dia menatap Bu Bima dengan tatapan penuh kebingungan. Dia merasa jika yang berada di depannya saat ini bukanlah Bu Bima si menel lampir. Karena biasanya Bu Bima tidak pernah menegurnya sesopan ini. Rania yang merasa jika dirinya sedang bermimpi ataupun menghayal, mencoba untuk mencubit tangannya untuk memastikan jika dia tidak sedang bermimpi.


"Aw! sakit. Jadi aku tidak mimpi," ucap Rania bergumam kecil sambil menatap aneh Bu Bima.

__ADS_1


Melihat tatapan aneh Rania, Bu Bima tau jika Rania sekarang sedang kebingungan dengan sikapnya. Dia hanya membuang napasnya pelan lalu duduk di kursi sambil menatap lekat Rania.


"Ayo duduk! tidak baik wanita hamil sepertimu duduk berlama-lama," ucap Bu Bima tersenyum hangat.


Melihat senyuman hangat Bu Bima, Rania malah semakin kebingungan. Dia menatap Bu Bima dengan tatapan anehnya sambil terus waspada. Melihat wajah Rania yang sangat kebingungan, Bu Bima hanya bisa tersenyum kecil. Dia berlahan memberikan satu cangkit teh yang ada di tangannya kepada Rania. Melihat itu, Rania hanya tersenyum kecil sambil menerima teh pemberian Bu Bima.


"Terima kasih, Tante," ucap Rania sopan.


"Kau tidak perlu kebingungan seperti itu. Ini memang aku, mama Dirga yang selalu membencimu. Wanita tua yang selalu menyalahkanmu tanpa mencaritau wanita seoerti apa kau terlebih dulu," ucap Bu Bima tersenyum kecil.


"Ternyata kau adalah wanita yang baik. Bahkan kau mempunyai hati yang sangat tulus. Hanya aku saja yang di butakan oleh rasa kebencian, sehingga aku tidak bisa melihat ketulusanmu," ucap Bu Bima meneteskan air matanya mengingat semua perlakuannya kepada Rania.


"Maafkan tante ya, Nak. Maafkan tante karena selalu bicara buruk kepadamu," ucap Bu Bima mencoba mengengam tangan Rania dan menatap Rania dengan penuh penyesalan.


"Sebelum tante minta maaf, aku sudah memaafkan tante sejak lama. Jadi tante tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Sebagai seorang ibu, Rania tau jika tante ingin yang terbaik untuk putra tante," ucap Rania tersenyum sambil membalas gengaman tangan Bu Bima.


"Kau memang wanita yang sangat baik, Nak. Semoga saja kau mendapatkan kebahagiaan atas semua kesabaranmu selama ini," ucap Bu Bima meneteskan air matanya sambil menyesali semua perbuatannya kepada Rania.

__ADS_1


"Aamiin! aku sudah mendapatkan kebahagiaanku, Tante. Aku memiliki suami yang sangat mencintaiku, dan aku juga memiliki putri yang sangat cantik," ucap Rania tersenyum.


"Kau memanf pantas bahagia, Nak. Tante harap setelah ini kau jangan lagi menghindari tante ya. Kau boleh datang kapanpun yang kau mau. Tante juga tidak tau harus melakukan apa untuk menebus semua kesalahan tante kepadamu. Tante terlalu jahat kepadamu, Nak," ucap Bu Bima menyeka air matanya.


"Ia, Tante. Sudah, tante jangan nangis lagi ya. Kita lupakan saja semua masa lalu kita dan membuka lembaran baru bersama. Tante tidak perlu merasa bersalah seperti itu, karena semua orang pasti punya kesalahan. Sama seperti Rania, Rania juga punya kesalahan di masa lalu. Hanya saja Rania mau berubah dan memperbaiki semua kesalahan Rania. Jadi, sekarang tante tidak perlu mearsa tidak enak lagi kepada Rania. Karena Rania sudah melupakan semuanya. Sekarang lebih baik kita lupakan saja semuanya ya," ucap Rania tersenyum.


Mendengar ucapan Rania, Bu Bima hanya mengangguk kecil. Dia menatap Rania dengan penuh kekaguman. Ternyata wanita yang selama ini dia benci dan dia anggap jahat. Ternyata wanita yang sangat baik dan memiliki hati yang sangat luas. Dia menyesal karena melihat Rania hanya dari masa lalunya saja, tanpa mau mencari tau bagaimana sifat wanita itu yang sebenarnya.


"Apa boleh tante memelukmu, Nak?" tanya Bu Bima menatap Rania dengan penuh harapan.


"Tentu saja," ucap Rania tersenyum lalu memeluk Bu Bima dengan hangat.


Bima yang tidak sengaja melihat pemandangan yang langka itu langsung tersenyum hangat. Dia menatap Bu Bima dan Rania dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bahagia melihat istrinya yang telah menyadari kesalahannya dan mau meminta maaf kepada Rania. Dia berlahan mendekati keduanya lalu berbincang-bincang kecil agar keduanya merasa nyaman.


Bima tau, walaupun sudah saling memaafkan, pasti masih ada rasa canggung di antara keduanya. Apalagi mengingat semua ucapan yang sangat menyakitkan yang selalu keluar dari mulut istrinya itu kepada Rania. Dia duduk bergabung bersama kedua wanita itu dan membuat rasa canggung di antara keduanya berlahan menghilang. Mereka bercanda ria bersama sambil menikmati suasana pesta yang semakin meriah.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2