Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 88


__ADS_3

"Hai! kau bisa bawa mobil atau tidak?" tanya Shinta geram sambil memukul kaca mobil yang dia tabrak.


Mendengar umpatan Shinta, pria yang ada di dalam sana langsung membuka kaca mobilnya. Melihat penampilan pria itu, Shinta langsung tersenyum sinis. Bagaimana tidak, yang mengendari mobil itu adalah anak remaja yang sangat tampan. Bahkan kaca mata hitamnya masih melekat, sehingga membuat Shinta semakin geram.


"Maaf, Tante! yang menabrak mobil saya adalah tante. Jadi kenapa tante yang marah? seharusnya saya yang marah kepada Anda," ucap pemuda itu sambil membuka kaca matanya.


"Apa! jadi kau menyalahkanku? lihat kau itu masih anak bau kencur. Tidak sewajarnya kau mengemudikan mobil. Katakan, berapa umurmu?"


"Tujuh belas!"


"Tujuh belas tahun sudah mengendarai mobil. Apa kau sudah memiliki SIM?" tanya Shinta terus mengoceh menyalahkan anak muda itu.


Sedangkan anak muda itu terus membela diri karena merasa jika dia tidak bersalah. Memang dia tidak bersalah, karena dia telah mematuhi prorokol dalam berkendara. Hanya Shinta saja yang sibuk memperhatikan mobil Arin, sehingga dia tidak melihat jalan. Karena perdebatan mereka, jalanan itu menjadi macat. Karena melihat keributan di jalan raya akhirnya anggota polisi lalu lintas langsung bergerak.


Mereka mencoba mengamankan keributan itu agar jalanan bisa kembali berjalan dengan lancar. Namun, setelah tau siapa yang membuat keributan itu, para polisi langsung menepuk jidat mereka pelan. Bagaimana tidak, mereka melihat Shinta yang sibuk berdebat dengan anak muda itu. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengalah.


"Maaf, Nyonya! ada apa ini?" tanya polisi wanita mencoba mendekati mereka.


"Ini! anak muda ini mengendari mobil secara tidak becus. Lihat mobil saya jadi lecet, bahkan orang yang saya kejar juga telah menghilang," oceh Shinta mengadu.


"Saya lihat dari letak mobil ini Nyonya yang salah," ucap polisi setelah memeriksa keadaan mobil Shinta dan pria itu.


"Apa! bapak menyalahkan saya?" tanya Shinta menatap polisi itu geram.


"Sudah! lebih baik kita selesaikan masalah ini di kanto saja," ucap polisi wanita yang sudah lelah mendengar ocehan Shinta yang tidak ada hentinya.

__ADS_1


"Ok! kita bawa masalah ini ke kantor polisi," ucap Shinta menatap tajam pemuda itu.


"Ok! siapa takut. Tante lihat saja, tante akan membayar semuanya," ucap pemuda itu menantang.


"Enak saja! kau yang akan membayar semuanya. Awas saja kalau kau kabur ya. Akan saya kejar kau ke ujung dunia," ucap Shinta menunjuk wajah pemuda itu lalu masuk ke mobilnya.


"Enak saja! yang ada Tante yang kabur," ucap pemuda itu masuk ke mobilnya.


Mereka menuju kantor polisi secara bersama-sama. Keduanya tidak mau mengalah bahkan sesampainya di kantor polisi keduanya masih saja berdebat. Mereka saling membela diri mereka, sehingga membuat polisi yang menangani masalah mereka. Untuk saja keduanya keluarga dari orang terhormat. Jika tidak, polisi itu sudah mencebloskan keduanya kedalam sel secara bersamaan.


"Sayang! ada apa?" tanya Wildan menghampiri istrinya dengan panik.


"Ini, Sayang! gara-gara dia aku jadi kecelakaan," ucap Shinta langsung mengadu kepada Wildan.


"Enak saja! Tante yang mengendarai mobil gak pakai mata. Sembarangan aja menuduh orang," ucap pemuda itu.


"Ada apa ini?" tanya Pak Wijaya papa dari pemuda itu.


Aldan Arya Wijaya adalah putra tunggal dari keluarga Wijaya. Umurnya masih tujuh belas tahun, akan tetapi dia sudah memiliki segalanya. Sebagai penerus keluarga Wijaya membuatnya hidup serba kemewahan. Hanya saja dia sedang ketiban sial karena harus berurusan dengan Shinta.


"Ini, Pa! Tante ini menabrak mobilku. Tapi dia malah menyalahkanku," ucap Aldan menujuk Shinta.


"Kau yang salah! karena kau aku kehilangan jejak Arin," ucap Shinta sehingga membuat Wildan langsung terdiam.


"Arin?" tanya Wildan menatap Shinta.

__ADS_1


"Ia, Sayang. Aku tadi melihat Arin. Bahkan dia masih mengandung. Aku yakin itu Arin. Aku ingin mengejarnya tapi semua gagal karena bocah ini," ucap Shinta menceritakan semuanya.


"Mama! mama kenapa?" tanya Yuki datang bersama Rissa dan Sania.


"Ris! aku tadi melihat Arin. Tapi karena bocah ini aku jadi kehilangan jejaknya," ucap Shinta langsung mendekati Rissa.


"Tante Arin! siapa yang berani menggalkannya?" tanya Sania dan Yuki meletakkan kedua tangannya di pinggang.


"Itu! karena bocah itu mama jadi gagal mengejar Tante Arin," ucap Shinta menunjuk Aldan.


Sania dan Yuki langsung melemparkan tatapan tajamnya kepada Aldan. Namun, sangat berbeda dengan Sania yang melemparkan tatapan tajamnya. Yuki malah menatap Aldan dengan tatapan terpesona. Melihat pesona ketampanan Aldan, Yuki langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Wah! kakak tampan sekali. Lihat hidungnya mancung bikin gemas, bibirnya itu. Aduhhh, kakak itu pangeran yang jatuh dari Kerajaan mana?" ucap Yuki dengan mentelnya sehingga membuat Shinta dan Wildan menjadi diam menganga.


"Yuki! pulang!" ucap Shinta menjewer telinga Yuki.


Sedangkan Wildan hanya mampu membuang napasnya kasar melihat tingkah genit Yuki. Ternyata kali ini bukan hanya Rayyan dan Kinan saja yang akan pusing melihat tingkah centil putri mereka. Namun, kali ini mereka akan nambah teman, yaitu Wildan.


"Aduhh! ma aku belum selesai melihat kakak tampan. Kakak tampan tolong Yuki," ucap Yuki sehingga membuat Aldan menjadi tersenyum sendiri.


"Akhh! senyuman kakak. Aku langsung terpesona," ucap Yuki terus mengoceh tampa henti.


"Rasain kau Shinta. Orang yang kau benci akan jadi calon menantumu," ucap Rissa terkekeh mengoda Shinta.


"Diam!"

__ADS_1


"Upss! maaf!"


Bersambung.....


__ADS_2