
Rania duduk bersantai sambil bermain bersama Cheesy di taman belakang. Di umurnya yang sudah genap setahun, Cheesy sudah mulai sering mengoceh dan lebih aktip. Bahkan dia sudah bisa menyebut mama dan papa dengan lancar. Kebetulan Randy yang pulang lebih cepat langsung menyusul mereka ke belakang. Dia langsung tersenyum bahagia ketika melihat putrinya sudah mulai belajar berdiri.
"Sayang! kau sedang apa? sedang bermain sama mama ya?" tanya Randy tersenyum menatap putri kecilnya itu.
"Papa!" ucap Cheesy mulai melangkahkan kakinya satu persatu mendekati Randy.
"Sayang! lihat," ucap Randy melihat Rania yang sedang memainkan ponselnya.
"Sayang! Cheesy," ucap Rania tersenyum penuh haru melihat perkembangan putri kecilnya itu.
Randy dan Rania langsung memeluk tubuh gembul dan menciumnya dengan penuh kebahagiaan. Bagi orang tua, tidak ada yang lebih berharga, selain melihat tumbuh kembang buah hatinya dengan mata kepalanya sendiri. Mereka terus bermain dan mengajari Cheesy dan membantunya untuk terus belajar berjalan.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan mereka, tiba-tiba perut Rania terasa mual. Dia langsung berlari ke toilet belakang untuk mengeluarkan isi perutnya. Randy yang melihat itu langsung panik, dia mengendong Cheesy dan mencoba memijit punggung Rania.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Randy panik.
"Aku tidak tau! Sejak tadi pagi perutku terasa mual. Bahkan setiap ada makanan yang masuk langsung keluar semua," ucap Rania memegang kepalanya yang terasa pusing.
"Apa tamu bulananmu sudah datang?"
"Tamu bulanan?" tanya Rania mengerutkan keningnya binggung.
"Ia! Ayo," ucap Randy membawa Rania ke kamar.
__ADS_1
Dia langsung melihat kalender. Menurut perhitungan haid terakhir Rania, Randy melihat jika Rania telah telah telah selama seminggu. Dia langsung mengambil tasnya kerjanya. Dia mengingat jika dia menyimpan sebuah test pack di dalamnya. Dia langsung mengambil test pack itu dan memberikannya kepada Rania.
"Apa ini?" tanya Rania binggung.
"Kau coba saja," ucap Randy membawa Rania ke kamar mandi.
"Ayo!" ucap Randy memberikan pot urine kepada Rania.
Rania hanya menurut dan mengikuti perintah Randy. Randy dengan setia menemani Rania untuk memeriksa apakah dugaannya benar. Setelah selesai, Rania langsung memberikan pot urine itu kepada Randy dan mengambil Cheesy dari gengongannya. Randy berlahan memasukkan test pack itu kedalam pit urine yang berisi urine Rania. Mereka berdua menatap test pack itu dan berharap akan bergaris dua.
"Sayang! kau hamil," ucap Randy melihat test pack itu bergaris merah dua. walaupun satu garisnya masih sedikit buram
"Apa! aku hamil," ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.
Dia memeluk Cheesy dan Rania secara bersamaan. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuknya. Di mana dia melihat Cheesy berjalan untuk pertama kalinya. Dan di situ juga dia mengetahui soal kehamilan Rania.
"Kau jangan terlalu lelah ya. Cukup mengawasi Cheesy saja. Ingat kau harus jaga kandunganmu dengan baik," ucap Randy memperingatkan.
"Ia, Aku akan jaga kandunganku dengan baik," ucap Rania mengangguk patuh.
"Cheesy juga jangan nakal ya. Jangan buat mama terlalu lelah," ucap Randy menciun gemas wajah gembul putrinya.
"Sudah! ayo kita istirahat. Besok kita akan cek kandunganmu," ucap Randy membawa Rania ke kamar.
__ADS_1
...----------------...
"Apa! jadi Arin tidak keguguran. Dia membohongi kita," ucap Dirga setelah mendengar cerita Rayyan dan Kinan.
"Benar! Shinta tidak sengaja melihatnya waktu ingin menjemput Yuki ke sekolah. Dia ingin mengejarnya, tapi sayangnya dia mengalami musibah. Jadi dia kehilangan jejak Arin," ucap Rayyan.
"Berarti Arin masih di sekitar kota ini. Aku harus mencarinya secepatnya," ucap Dirga.
"Kami sudah menyuruh Bisma untuk mencari Arin di sekitar lokasi itu. Aku yakin jika Arin sengaja menghindari kita. Maka lebih baik kita menggerakkan anggota kita yang tidak di kenali Arin," ucap Kinan.
"Aku setuju! jika Arin melihat anggota kita, pasti dia langsung menghindar. Jadi kita serahkan saja ini kepada Bisma. Lagi pula calon menantumu itu sangat ahli dalam dunia penyamaran," ucap Rayyan tersenyum kecil.
Mendengar sebutan kata menantu, Kinan langsung melemparkan tatapan tajamnya. Bukannya takut, Rayyan malah semakin senang untuk mengodanya.
"Kenapa kau marah seperti itu. Bahkan dia sudah mendapatkan restu dari kedua pawangmu. Apa kau mau membantah ucapan mereka?" tanya Rayyan terkekeh kecil.
"Diam kau!" ucap Kinan mengendus kesal.
"Aku juga setuju. Bisma pemuda yang baik. Walaupun sedikit gila," ucap Dirga terkekeh.
Mendengar ucapan kedua sahabatnya itu, Kinan hanya mampu mengusap wajahnya kesal. Dia hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Karena dia tau jika dia membuka mulut, pasti Rayyan akan terus menjawab ucapannya. Adik iparnya yang satu itu memang sangat suka membuatnya naik darah.
Bersambung......
__ADS_1