
"Arghh!!" teriak Mila terbangun dari tidurnya.
Keringatnya bercucuran, napasnya memburu dan juga detak jantungnya bergerak tidak beraturan. Dia menatap sekelilingnya dengan perasaan gusar. Namun, tiba-tiba dia mengerutkan keningnya binggung ketika melihat suasana ruangan itu sangat berbeda dari yang sebelumnya.
"Dimana aku? kenapa ruangan ini seperti kamarku," gumam Mila mengusap wajahnya kasar.
Mila berlahan turun dari ranjangnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia menguyur wajahnya mengunakan air dingin lalu mencoba berpikir tentang kejadian semalam. Dia tidak tau kenapa dia tiba-tiba berada di apartemennya. Padahal dia mengingat dengan jelas jika sebelum pingsan dia masih berada di restoran.
Saat sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Mila mendengar ponselnya yang berbunyi. Dengan cepat Mila menghampiri ponselnya dan melihat nama Rania tertera di sana.
"Rania?" gumam Mila mengerutkan keningnya bingung.
Tidak mau berpikir panjang Mila mencoba menekan tombol hijau, lalu meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo! ada apa, Ra?" tanya Mila berusaha mengontrol dirinya.
"Kau di mana! kenapa kau belum ke restoran jam segini?" tanya Rania dari sebrang sana.
"Oh! maaf, Ra. Aku sedang tidak enak badan. Aku izin tidak masuk kerja hari ini ya,"
"Kau sedang sakit, Ra! kalau begitu aku akan menjengukmu ya,"
"Tidak! tidak usah. Sepertinya aku hanya kelelahan saja. Jika istirahat juga pasti akan sembuh,"
"Oh! baiklah. Kau istirahat saja. Aku akan mengirimkan makanan untukmu ya," ucap Rania.
"Terserahmu saja," ucap Mila tersenyum.
Setelah mendengar persetujuan dari Mila, Rania langsung mematikan pangilannya. Mila menghapaskan tubuhnya di atas ranjangnya sambil memijit keningnya pelan. Bayangan kejadian yang menakutkan semalam terus tergiang dalam pikirannya. Namun, sebesar apapaun dia mencoba mengingat, akan tetapi dia tetap tidak bisa mengingat kenapa dia bisa sampai ke apartemennya.
Drtt.. Drrrttt....
__ADS_1
Ponsel Mila kembali berbunyi, Mila berusaha meraih ponselnya dan melihat pangilan dari nomor yang tidak dia kenal. Dia mengerutkan keningnya binggung karena tidak tau siapa yang menghubunginya. Tidak mau terlalu banyak berpikir, Mila langsung menekan tombol hijau dan meletakkan benda pipih itu di telinganya.
"Hallo!" ucap Mila.
"Hiks... hikkss.... " suara tangisan yang menyeramkan terdengar dari sebrang sana.
Jantung Mila langsung berdetak begitu kencang. Dia mengingat dengan jelas, suara tangisan itu sama seperti suara tangisan yang dia dengar di gudang semalam. Mila mencoba menelan ludahnya kasar sambil berusaha mengontrol ketakutannya.
"Siapa ini? kenapa kau menghubungiku?" tanya Mila dengan lantang.
"Ha... ha....!! " Tiba-tiba suara tangisan itu berubah menjadi suara tawa yang sangat menyeramkan. Mila membulatkan matanya terkejut dengan napas yang berhembus tidak beraturan. Tubuhnya langsung di penuhi dengan keringat, tidak lupa dengan wajah pucatnya yang penuh rasa ketakutan.
"Kau! kau yang telah membunuhku! kau membunuhku! Dasar pembunuh,"
"Argghhh!"
Brakkk...
Mila langsung melemparkan ponselnya ke atas ranjangnya. Dia menatap ponsel itu dengan penuh rasa ketakutan. Dia menjabat rambutnya frustasi karena ucapan mengerikan itu terus tergiang di telinganya.
Mila mendengar seseorang mengetuk pintu apartemennya. Dia berusaha mengatur detak jantungnya lalu melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Saat Mila membuka pintu, dia tidak melihat siapapun di sana. Mila juga menatap ke kanan dan ke kiri tapi lorong apartemennya terlihat kosong.
"Siapa?" tanya Mila berusaha mencari tau siapa yang telah mengetuk pintunya.
Namun, usahanya sia-sia. Dia tidak melihat siapapun yang ada di sana. Tidak mau berpikir buruk, Mila langsung menutup pintu dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.
Tokkk... tokkk...
Mila kembali mendengar pintunya yang di ketik dari luar. Mila langsung membuang napasnya pelan dan berjalan mendekati pintu. Sesampainya di depan pintu Mila berusaha menarik napasnya pelan dan membuka pintu dengan cepat.
Akan tetapi hasilnya sama saja, dia tidak melihat siapapun di sana. Berlahan Mila mengusap lehernya dan merasakan bulu kuduk nya yang merinding.
__ADS_1
"Kenapa aku bisa seperti ini? perasaan sebelumnya tidak terjadi apa-apa?" bantu Mila sambil mengingit ujung kukunya.
Tokk... tokk...
Suara ketukan pintu kembali terdengar, sehingga membuat jantung Mila langsung berdetak dengan kencangnya. Mila terdiam di tempatnya sambil menatap pintu yang tertutup dengan rapat. Dia tidak tau harus berbuat apa untuk saat ini.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan itu malah terdengar semakin kuat. Di tambah lagi dengan handle pintu yang naik turun yang di minta untuk di buka secepatnya. Mila meremas kedua tangannya yang terasa dingin. Dia menatap pintu itu dengan perasaan yang tidak menentu.
"Nyonya Mila! apa kau ada di dalam," ucap seorang wanita di luar sana.
Mendengar suara wanita itu, Mila mencoba memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya. Dia mengambil pas bunga yang ada di meja dan bersiap untuk menyerang jika terjadi sesuatu hal yang tidak terduga.
Brakk....
Arghh....
"Nyonya! ini saya," ucap salah satu karyawan Rania yang sengaja Rania kirim untuk mengantarkan makanan untuk Mila.
"Kau!" ucap Mila dengan napas yang berhembus kencang.
"Ia, Nyonya! ini saya. Saya di suruh nyonya Rania untuk mengantar makanan untuk nyonya," ucap wanita itu menunjukkan rantang yang ada di tangannya.
"Maafkan saya! saya kira kau tadi...," ucap Mila menghentikan ucapannya.
"Tadi apa, Nyonya?" tanya wanita itu mengerutkan keningnya binggung.
"Tidak apa-apa! lebih baik kau lupakan saja," ucap Mila meletakkan pas bunga yang ada di tangannya.
"Sini makanannya! tidak ada lagi yang lain 'kan?" tanya Mila.
__ADS_1
"Tidak, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap wanita itu pamit undur diri.
Bersambung......