Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 96


__ADS_3

Arin duduk terdiam di kamarnya. Pertemuannya dengan Rania membuat pikirannya menjadi kacau. Apalagi mengingat perlakukan mantan mertuanya kepada Rania. Membuatnya merasa bersalah karena membuat Rania semakin terpojok. Dia tau jika selama ini Dirga memang mengejar cinta Rania kembali.


Namun, Rania tidak pernah mau menggubrisnya karena menghargai Arin. Bahkan Rania dengan baik hati mau memaafka semua berbuatan Arin kepadanya. Dia juga dengan senang hati mau menerima Arin sebagai sahabatnya. Bahkan dia juga sangat menyayangi Arin, itu bisa di lihat saat Rania memeluknya saat di rumah sakit tadi.


Bahkan Rania juga meminta maaf kepadanya karena terus menghantui pernikahan Arin dengan Dirga. Walaupun itu bukan salahnya, akan tetapi salah Dirga yang tidak bisa melupakannya dan tidak bisa menerima kehadiran Arin.


"Kau minumlah! kau tidak perlu terlalu memikirkan kejadian tadi. Kau hanya perlu memikirkan ucapan Rania secara pelan-pelan. Ingat, bayimu membutuhkan sosok ayah kandungnya," ucap Denis mengelus rambut Arin sambil memberikan air mineral untuknya.


"Terima kasih," ucap Arin menerima air itu dan meminumnya sampai habis.


"Ingat! kau harus banyak istirahat. Jangan terlalu banyak pikirannya," ucap Denis tersenyum lalu membantu Arin untuk membaringkan tubuhnya.


Arin menatap Denis dengan begitu lekat. Dia merasa bersyukur karena memiliki saudara sebaik Denis. Saudara yang selalu mendukungnya dan bersedia menyediakan bahunya jika dia sedang bersedih. Denis berlahan menyelimuti tubuh Arin lalu membelai puncak kepalanya dengan lembut.


"Aw!" pekik Arin ketika bayinya menendang.


"Ada apa?" tanya Denis panik.


"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut, karena bayiku mendang," ucap Arin.


"Benarkah? apa bisa aku memegangnya?"

__ADS_1


"Tentu saja!"


Mendengar persetujuan Arin, Denis berlahan meletakkan tangannya di perut buncit Arin. Dengan seketika bayi yanga ada di perut Arin langsung menendang. Tendanganya cukup keras, sehingga dapat merasakannya dengan jelas. Merasakan gerakan bayi Arin yang sangat aktif, Denis langsung tersenyum penuh kebahagiaan.


"Hai keponakan paman? kau sedang apa di dalam? sedang bermain bola ya?" tanya Denis mencoba berbicara dengan bayi yang ada di dalam perut Arin.


Mendengar suara Denis, bayi Arin malah bergerak semakin aktif. Merasakan gerakan bayinya yang jauh lebih aktif dari biasanya, Arin langsung terdiam. Dia merasa jika bayinya sedang merindukan ayahnya. Karena selama berasa di dalam kandunganya, bayi itu belum pernah mendengar suara maupun merasakan sentuhan ayah kandungnya.


"Kenapa? kenapa kau nampak sedih seperti itu?" tanya Denis melihat wajah sedih Arin.


"Tidak! aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit lelah," ucap Arin berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Ia! besok apa bisa kau membawakan bubur ayam lagi untukku?"


"Tentu saja! aku akan membelikannya untukmu," ucap Denis tersenyum lalu membelai lembut puncak kepala Arin.


"Aku pulang dulu ya. Ingat kau tidak boleh banyak berpikir. Ingat kau harus menjaga kandunganmu," ucap Denis tersenyum lalu keluar dari kamar Arin.


Arin hanya tersenyum mengangguk sambil menatap kepergian Denis. Setelah melihat Denis keluar dari kamarnya, Arin langsung menatap langit-langit kamarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Dia tidak tau harus melakukan apa setelah ini. Karena dia yakin Rania pasti akan memberitahu keberadaannya kepada Dirga.


Tidak mau membuat kandungannya stres karenanya, Arin memilih untuk menepis semua pikirannya. Dia mencoba memejamkan matanya dan melupakan semua beban pikirannya. Hingga akhirnya dia larut dalam mimpinya.

__ADS_1


...----------------...


"Apa! jadi Arin memang masih berada di kota ini. Dia sengaja bersembunyi dari kita?" tanya Bu Bima mendengar cerita suaminya.


Karena melihat istrinya sering murung sendiri di dalam kamarnya. Akhirnya Bima menceritakan tentang Shinta yang melihat Arin di lampu merah. Awalnya mereka ingin merahasiakan ini dari Bu Bima. Karena mereka tau jika Bu Bima tau, yang ada dia hanya akan terus mengoceh dan bertindak semaunya saja.


"Ia! Arin masih berada di sekitar kota ini. Dia sengaja menghindari kita, Ma. Tapi Dirga mohon mama jangan bertindak ceroboh. Aku takut jika Arin akan pergi jauh dari kita," ucap Dirga menatap mamanya penuh permohonan.


"Sudah mama duga. Tidak mungkin Arin pergi jauh. Karena mamanya tidak mungkin bisa meninggalkan usahanya yang ada di sini. Mama yakin, pasti ini ulah wanita ular itu. Setelah dekat dengannya Arin jadi suka memberontak dan tidak mendengar ucapan mama lagi," ucap Bu Bima masih saja menyalahkan Rania.


"Ma! kenapa sih mama selalu saja menyalahkan Rania? mama tidak tau bagaimana Rania. Jadi lebih baik mama jaga mulut mama itu," ucap Dirga geram melihat Bu Bima yang selalu menyalahkan Rania.


"K.. kau membentak mama!" ucap Bu Bima menitikkan air matanya sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


"Ma! mama kenapa? maafkan Dirga, Ma," ucap Dirga mendekati Bu Bima dan mencoba menyentuhnya.


Mendengar ucapan Dirga, Bu Bima langsung menepis kasar tangan Dirga. Dia langsung bangkit dari duduknya dan meninggalkan Dirga dengan penuh kekecewaan. Dirga hanya diam mematung sambil menatap kepergian mamanya. Jujur dia tidak ada niat untuk membentak ibu yang sudah melahirkannya. Hanya saja Bu Bima sudah kelewat batas. Dia selalu menyalahkan Rania atas hal apapun.


"Kau tenang saja. Papa akan bicara dengan mamamu," ucap Bima mengusap punggung Dirga lalu melangkahkan kakinya mengikuti istrinya itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2