
Randy terdiam menatap kedua wanita yang paling berharga dalam hidupnya, terbaring lemah di atas bangsal rumah sakit. Dia berlahan duduk di samping bangsal Rania, dan menatap kepala Rania yang di balut perban. Tubuhnya terasa sangat lemah, akan tetapi dia tetap berusaha terlihat kuat demi anak dan istrinya.
Dia mengengam tangan Clara lalu menciumnya sambil menitikkan air mata. Randy menangis kesegukan sambil mengengam tangan Rania. Dia merasa gagal sebagai kepala rumah tangga. Karena dia tidak bisa melindungi anak dan istrinya dengan baik. Berlahan rasa ketakutan akan kehilangan keduanya terus menghantui pikiran Randy.
Dia tidak mau jika sampai Rania dan Cheesy akan meninggalkannya. Sama seperti Tika yang meninggal karena kecelakaan dulu. Bayangan itu terus menguasai pikiran Randy. Sehingga membuat Randy menjadi kebingungan sendiri.
"Kau tidak perlu takut seperti itu. Aku yakin mereka kuat. Mereka akan segera sadar secepatnya," Ucap Clara berusaha menenangkan Randy.
"Kau benar! Mereka adalah wanita yang kuat. Mereka pasti bisa melewati ini dengan mudah," Ucap Randy menghapus air matanya.
Dia yakin jika Rania dan Cheesy akan bisa melewati masa kritis mereka dengan mudah. Mereka adalah wanita yang kuat, jadi Randy harus yakin kepada mereka berdua.
"Kalian pasti lelah. Kalian pulang saja, biar aku yang menjaga Cheesy dan Rania," Ucap Randy melihat hari yang sudah malam.
"Tidak! Kami mau bersama adik Cheesy," Ucap Aulya dan para bocil mendekati Cheesy.
"Ris! Kau pulanglah bersama Nur dan Shinta. Biar aku dan Clara yang menemani Randy di sini," Ucap Zhia.
"Tapi, Zhi! Pasti Rayyan dan Rafi mencari kalian. Lagian anak-anak besok harus sekolah. Biar aku saja yang menjaga Cheesy dan Rania," Ucap Randy merasa tidak enak.
__ADS_1
"Apa kau yakin bisa menjaga Cheesy nanti? Lihatlah, dia sangat kesakitan. Sudah pasti dia akan sangat rewel jika bangun nantinya. Belum lagi Rania, walaupun dia kesakitan. Aku yakin dia akan berusaha menahanya karena melihatmu kerepotan menjaga Cheesy," Ucap Zhia sehingga membuat Randy langsung terdiam.
"Ris! Aku titip Aulya dan Gibran ya. Sekalian juga Fiona dan Fillio. Jika mereka semua bersama pasti mereka tidak akan rewel," Ucap Zhia.
"Baiklah!" Ucap Rissa mengangguk patuh.
"Ayo kita pulang. Besok kita kesini lagi," Ucap Rissa dan Shinta menghampiri para bocil.
"Tapi, Ma!" Ucap Sania tidak ingin meninggalkan Cheesy.
"Biarkan adik Cheesy istirahat dulu. Agar dia bisa cepat sembuh. Besok setelah kalian pulang sekolah, kita akan ke sini lagi melihat Adik Cheesy ya," Ucap Rissa berusaha membujuk para bocil.
"Baiklah! Kita pulang saja dulu. Biarkan adik Cheesy tidur dengan tenang. Lagian besok kita akan ke sini lagi," Ucap Erlan dan Gibran.
Mendengar ucapan Erlan san Gibran, Aulya yang lainny akhirnya mengerti. Mereka langsung berpamitan kepada Randy lalu keluar dari ruang rawat Cheesy dan Rania. Tidak lupa mereka mencium wajah gembul Cheesy terlebih dulu. Mereka berharap agar Cheesy bisa cepat pulih dan secepatnya bisa bermain lagi bersama mereka.
Setelah melihat Rissa dan yang lainnya telah pulang. Randy langsung mengingat Arin. Sebagai seorang teman lama jujur dia juga menghawatirkan keadaan Arin saat ini. Terlebih lagi Arin kecelakaan karena menolong anak dan istrinya. Hal itu membuat rasa bersalah berlahan timbul di hatinya.
"Zhi! Aku titip Rania dan Cheesy dulu ya. Aku ingin melihat keadaan Arin," Ucap Randy.
__ADS_1
"Baiklah! Kau pergi saja," Ucap Zhia tersenyum mengangguk.
"Aku ikut ya, Aku juga mau melihat keadaan Arin," Ucap Clara langsung bangkit dari duduknya.
Randy hanya mengangguk menandakan jika dia setuju. Clara dan Randy pergi ke ruangan Arin secara bersama-sama. Clara dapat menebak jika kehadiran mereka hanya akan menjadi bahan sindiran bagi Bu Bima. Akan tetapi sebagai seorang sahabat mereka harus memberikan dukungan kepada Dirga. Terlebih pagi Clara yang sejak kuliah sudah berteman dengan Dirga.
Sesampainya di ruangan Arin, mereka melihat Dirga yang duduk di samping Arin sambil mengengam tangan Arin. Sedangkan Arin masih tergulai tidak berdaya di atas bangsal nya. Terlihat wajahnya yang pucat dan juga beberapa alat bantu yang menempel di tubuhnya.
Melihat kedua orang tua Dirga tidak ada di sana, berlahan Clara menghembuskan napasnya lega. Dia berjalan mendekati Dirga dan berusaha memberikan dukungan kepadanya.
"Bagiaman keadaan Arin?" Tanya Randy menatap iba keadaan Arin.
"Kau lihat sendiri. Sampai sekarang dia belum sadarkan diri," Ucap Dirga lirih.
"Bagaimana dengan oandungannya?" Tanya Clara samnil mengusap punggung Dirga.
Mendengar pertanyaan Clara, Dirga langsung terdiam sambil menitikkan air matanya. Dia menyesal karena tidak mengangap kehadiran bayi yang ada di kandungan Arin. Sebagai seorang ayah, Dirga sangat menyesali kebodohannya itu. Sekarang sesuai keinginannya, bayi yang ada di kandungan Arin sudah meninggalkannya.
"Bayinya tidak bisa di selamatkan," Ucap Dirga mencium tangan Arin sambil menitikkan air matanya.
__ADS_1
Bersambung.....