Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 105


__ADS_3

"Nak! itu Dirga sedang menunggumu di luar. Katanya dia mau mengajakmu membeli perlengkapan bayi," ucap Bu Nasri menghampiri Arin yang sedang merapikan kamarnya.


"Apa Aulya juga ikut, Ma?"


"Tidak, Nak! kata Dirga Aulya sedang sekolah. Jadi dia tidak bisa ikut,"


"Apa Dirga hanya sendirian?"


"ia!"


"Mama ikut ya," ucap Arin merasa tidak enak jika harus pergi berdua dengan Dirga.


"Tidak, Nak. Kau pergilah dengan Dirga. Karena kalian juga harus berbicara berdua,"


"Tapi, Ma!"


"Nak! kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Dirga. Menghindar tidak akan menyelesaikan masalah, tapi akan membuat masalah tidak ada ujungnya. Kau bersiaplah, temui dia," ucap Bu Nasri tersenyum lalu keluar dari kamar Arin.


Arin hanya diam menunduk mendengar ucapan Bu Nasri. Tidak ada pilihan lain, dia harus pergi belanja kebutuhan bayinya berdua dengan Dirga. Lagipula Dirga telah rela datang jauh-jauh dan mengorbankan pekerjaannya. Jadi tidak mungkin dia menolak dan menyuruh Dirga untuk kembali.

__ADS_1


Arin berlahan keluar untuk menemui Dirga. Dia menatap Dirga yang sedang duduk di teras menunggu kedatangannya. Dirga yang melihat Arin berjalan dengan kesusahan langsung menghampiri Arin.


"Apa boleh aku membantumu?" ucap Dirga menatap tangan Arin.


"Em!" ucap Arin mengangguk kecil.


Mendengar persetujuan Arin, Dirga langsung merangkul pinggang Arin dengan mesra. Sedangkan tangannya yang satu lagi mencoba mengengam tanggan Arin dan menuntun Arin berjalan dengan hati-hati. Dirga dengan penuh kesabaran membantu Arin untuk berjalan. Melihat perut Arin yang begitu besar, Dirga tau jika Arin merasa kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya. Di tambah lagi dengan kakinya yang membengkak, membuat Arin semakin kesulitan untuk berjalan.


Dirga juga membukakan pintu untuk Arin. Arin yang melihat perhatian Dirga hanya menatapnya penuh kekaguman. Dia tidak menyangka ternyata mantan suaminya itu ternyata sangat romantis dan juga perhatian. Dirga juga membantunya untuk duduk dan memasangkan sabuk pengamanannya. Setelah melihat Arin duduk dengan nyaman, Dirga langsung menuju kursi pengemudi.


Dirga duduk di kursi pengemudi sambil melirik Arin. Sedangkan Arin hanya diam sambil menatap ke arah kaca jendela. Melihat itu, Dirga hanya tersenyum kecil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama di perjalanan mereka terus berdiam diri. Dirga hanya fokus mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik Arin. Sedangkan Arin hanya diam sambil menatap jalanan kota yang begitu ramai.


Karena terlalu semangat ingin menemui Arin, Dirga sampai tidak sempat sarapan terlebih dulu. Setelah bangun dia langsung bersiap-siap untuk menjemput Arin. Dia merasa bersemangat karena akhirnya bisa pergi bersama Arin hanya berdua saja. Dia berharap dengan kesempatan ini dia bisa meluluhkan hati Arin secara berlahan.


"Ia!" ucap Arin mengangguk kecil.


Dirga hanya tersenyum kecil lalu memutar kemudi mobilnya menuju cafe itu. Dirga dengan cepat turun dari mobil lalu berlari kecil untuk membukakan pintu untuk Arin. Dia mengenggam satu tangan Arin dan membantunya untuk turun. Mereka berdua berjalan memasuki restoran itu secara beriringan. Walaupun tidak saling bicara, akan tetapi gerak tubuh mereka saling menunjukkan kasih sayang di antara keduannya.


Dirga terus mengengam tangan Arin seakan dia tidak mau melepaskan sedetik saja. Sesampainya di dalam, Dirga langsung menarik kursi untuk Arin. Dia membantu Arin untuk duduk dan memastikan jika Arin merasa nyaman. Dia tidak mau Arin merasa tidak nyaman saat berada di dekatnya. Baginya saat ini kenyamanan dan kebahagiaan Arin adalah hal yang paling penting untuknya.

__ADS_1


"Apa kau merasa nyaman di sini? jika tidak, kita akan menesan ruangan VVIP saja," ucap Dirga.


"Tidak! aku mau di sini saja," ucap Arin tersenyum.


"Baiklah," ucap Dirga membelai lembut puncak kepala Arin lalu duduk di samping Arin.


Dirga memanggil pelayan yang ada di dekatnya lalu memberikan buku menu kepada Arin. Karena dia tidak tau apa yang Arin suka ataupun tidak suka. Sehingga mereka akhirnya memilih makanan mereka masing-masing. Dirga dengan sigap memperhatikan setiap hal yang menjadi perhatian Arin. Sebagai pria dia harus mencari tau apa yang wanitanya sukai ataupun yang tidak dia sukai.


Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu langsung pamit undurkan diri. Dia meninggalkan Arin dan Dirga berdua, sehingga keduanya kembali saling diam dan menyibukkan diri mereka masing-masing. Dirga menatap tangan Arin yang dia letakkan di meja. Ingin sekali Dirga mengengam tangan Arin dan menciumnya dengan lembut.


"Rin! apa bisa aku mengatakan sesuatu?" tanya Dirga mantap lekat wajah Arin.


"Apa?"


"Setelah kau pergi aku baru sadar jika hidupku terasa hampa tanpa dirimu. Aku sadar jika aku telah menyakiti perasaanmu. Tapi salahkah aku jika aku menginginkan kesempatan kedua darimu? Aku tau kau sangat kecewa kepadaku. Tapi aku berjanji akan berubah dan memperbaiki semua kesalahanku.Kau mau ya rujuk denganku," ucap Arin mengenggam tangan Arin sambil menatapnya dengan lekat.


"Aku sadar jika di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pasti selalu di liputi dosa dan kesalahan. Hanya saja cara kita menanggapi kesalahan dan dosa kita dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang merasa selalu benar dan menggap jika semua yang dia lakukan selalu benar. Ada juga yang menyadari setiap kesalahannya dan belajar untuk memperbaiki segalanya," ucap Arin tersenyum.


"Maka aku paling suka dengan orang yang menyadari kesalahannya, tanpa harus mengungkit kesalahan orang lain. Setiap orang memang berhak untuk mendapatkan kesempatan. karena di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna,"

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2