
"Ma! Sakit, Ma," ucap Arin terus berusaha menahan rasa sakitnya yang semakin kuat.
"Sabar ya, Nak! tinggal sedikit lagi pembukaannya akan terbuka semua," ucap Bu Nasri terus berusaha menenangkan Arin.
Denis yang menunggu di luar hanya bisa berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas. Dia menatap pintu ruangan Arin yang masih tertutup dengan rapat. Ingin sekali rasanya dia masuk ke dalam dan menemani Arin di dalam sana. Namun, dia tau jika dia tidak pantas melakukan itu. Dia duduk di kursi tunggu sambil mengusap wajahnya kasar. Dia menatap ke lorong jalan masuk, akan tetapi dia belum melihat jejak Dirga di sana.
Denis tau saat ini Arin membutuhkan keberadaan Dirga untuk berada di sampingnya. Namun, sampai sekarang Dirga tak kunjung datang sehingga membuat Denis semakin cemas saja. Dia terus berusaha menghubungi Dirga, akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Dia hanya bisa duduk diam sambil terus berdoa untuk kelancaran persalinan Arin.
Hingga akhirnya dia melihat Dirga yang berlari ke arahnya dengan sangat panik. Dengan cepat Denis bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan Dirga. Dirga menatap Denis dengan lekat sambil berusaha mengatur napasnya.
"Arin ada di mana?" tanya Dirga dengan napas yang ngis-ngosan karena harus berlari dari luar rumah sakit.
"Arin ada di dalam. Dia sedang menunggumu," ucap Denis panik.
Mendengar ucapan Denis, Dirga langsung masuk ke ruang persalinan Arin. Sedangkan Denis, Bima dan Bu Bima hanya bisa menunggu di luar. Mereka duduk di kursi tunggu dan terus berdoa agar persalinan Arin berjalan dengan lancar.
Dirga masuk ke ruangan Arin dengan perasaan yang tidak menentu. Dia menatap Arin yang tergulai lemas diatas bangsal nya sambil merintih kesakitan. Dirga dengan cepat menghampiri Arin dan mengenggam tangan Arin dengan kuat. Melihat Arin yang begitu kesakitan, air mata Dirga langsung menetes membasahi wajah tampannya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang Arin rasakan untuk melahirkan buah hati mereka.
"Kau yang kuat ya, Sayang! aku yakin kau pasti bisa," ucap Dirga mengusap keringat Arin yang membasahi keningnya.
"Sakit, Mas!" ucap Arin meneteskan air matanya sambil mengengam tangan Dirga.
__ADS_1
"Ia, Sayang! kau yang kuat ya. Demi anak kita," ucap Dirga mengelus perut Arin.
"Ga! coba kau pijit pinggangnya," ucap Bu Nasri.
"Baik, Ma!" ucap Dirga mengangguk patuh lalu memijit pinggang Arin dengan pelan.
Dia melakukan berbagai cara agar rasa sakit yang Arin rasakan bisa berkurang. Akan tetapi tetap saja, Arin terus merasakan kontraksi yang begitu kuat. Apalagi pembukaannya yang sudah mendekati ke pembukaan sembilan. Membuat Arin semakin merasakan rasa sakit yang semakin luar biasa.
Melihat Arin yang begitu kesakitan, Dirga hanya bisa menangis melihat perjuangan istrinya. Dia menyesal karena pernah menyakiti hati istrinya itu. Padahal Arin merasakan sakit yang luar biasa ketika melahirkan buah hati mereka. Dirga dengan setia menemani Arin di ruang persalinan. Bahkan dia tidak sadar jika tangannya yang terluka juga terus mengeluarkan darah. Dia terus mengenggam tangan Arin dan tidak mau jauh darinya walaupun hanya sedetik saja.
"Dok! kenapa bayinya belum keluar juga? istriku sudah sangat kesakitan," ucap Dirga melihat Dokter belum juga melakukan sesuatu.
"Maaf, Tuan. Jalannya belum terbuka semua. Jadi kita harus menunggu sebentar lagi," ucap Dokter itu berusaha menemukan Dirga.
"Bukan begitu, Tuan," ucap Dokter itu mencoba menjelaskan.
"Sudah! biar saya saja yang menjelaskannya. Kau jangan tersinggung dengan ucapan menantu saya ya," ucap Bu Nasri merasa tidak enak kepada Dokter itu.
Padahal dokter sudah melakukan yang terbaik untuk Arin. Hanya saja Dirga yang tidak sabar karena tidak tega melihat Arin yang terus kesakitan. Dia terus dihantui rasa takut jika terjadi sesuatu kepada Arin. Apalagi melihat Arin yang terus meringgis kesakitan. Membuat Dirga menjadi hilang akal dan menyalahkan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Nak! apa yang di katakan dokter memang benar. Kita harus menunggu sampai pembukaannya terbuka semua. Setelah itulah baru kita bisa mengeluarkan bayimu dari perut Arin. Kau jangan terlalu cemas seperti itu. Semua pasti baik-baik saja," ucap Bu Nasri mencoba memberi pengertian kepada Dirga.
__ADS_1
"Tapi, Ma!"
"Kau tenang saja. Serahkan semuanya kepada Dokter. Kau cukup menemani Arin saja dan beri dukungan kepadanya,"
Mendengar ucapan Bu Nasri, Dirga hanya mengangguk kecil. Dia kembali mengengam tangan Arin sambil mengusap keringat yang memenuhi keningnya. Dia hanya bisa berdoa agar anak dan istrinya bisa selamat dan kembali sehat.
"Dokter, jalannya sudah terbuka semua," ucap suster yang memeriksa pembukaan Arin.
"Baiklah! siapkan semuanya," ucap Dokter langsung bersiap-siap untuk membantu persalinan Arin.
"Nyonya! sekarang kita mulai ya. Nyonya harus kuat. Kumpulan semua tenaga nyonya. Ingat, bayi nyonya," ucap Dokter langsung mengambil posisi.
"Baiklah! ikuti aba-aba dari saya ya. Sekarang tarik napas, buang pelan, tarik lagi,, buang,,, tarik,, dorong kuat,"
Arrrggghhh....
Teriak Arin mengeluarkan seluruh tenaganya. Dirga juga membantu Arin dengan mengangkat punggung Arin agar Arin bisa mengejan dengan kuat.
Oe... Oe.....
Suara tangisan bayi langsung mengema di ruangan itu. Mendengar suara tangisan bayinya, Dirga langsung meneteskan air matanya lalu menciumi kening Arin dengan lembut. Dia memeluk Arin dan menangis penuh haru. Dia terus mengucapkan terima kasih untuk perjuangan Arin untuk melahirkan buah hati mereka.
__ADS_1
Bukan hanya Dirga, Denis dan yang lainnya juga menangis bahagia. Bu Bima langsung memeluk suaminya dan menangis penuh haru menyambut kelahiran cucu pertama mereka. Buka hanya terharu melihat kelahiran cucu mereka, akan tetapi mereka juga merasa bahagia karena akhirnya hubungan Arin dan Dirga bisa kembali utuh.
Bersambung....