
Sudah berapa hari Mila tidak ada komunikasi dengan Arin. Bahkan Arin sudah beberapa kali mencoba untuk menghubunginya, akan tetapi hasilnya sia-sia. Hingga akhirnya dia mengingat pembicaraan mereka yang terakhir kalinya.
"Apa mungkin yang di katakan Mila benar. Dia di hantui oleh arwah Tika," gumam Arin berbicara sendiri.
"Lebih baik aku menemui Mila sekarang. Aku takut jika terjadi sesuatu kepadanya," gumam Arin panik lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya.
Arin dengan cepat melakukan mobilnya menuju apartemen Mila. Dia berharap jika Mila baik-baik saja. Tidak menunggu lama, akhirnya mobil Arin memasuki perkarangan apartemen Mila. Arin langsung turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju apartemen Mila.
Arin menatap pintu apartemen Mila yang tertutup rapat. Saat ingin mengetuk pintu, tiba-tiba pintu itu terbuka sedikit. Arin berlahan membuka pintu dan melangkahkan kakinya memasuki apartement Mila. Mata Arin langsung membulat ketika melihat keadaan apartemen Mila yang berantakan.
"Kenapa semuanya berantakan seperti ini? di mana Mila," gumam Arin panik lalu bergegas mencari keberadaan sahabatnya itu.
Arin mencari keberadaan Mila di dalam kamarnya. Saat membuka pintu kamar, Arin langsung terkejut melihat Mila yang meringkuk sendiri di samping ranjangnya. Dia menangis seorang diri dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Arin menatap keadaan Mila dengan tatapan penuh rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika Mila bisa sampai seperti ini. Dia mencoba melangkahkan kakinya mendekati Mila. Dia berharap dengan kehadirannya Mila bisa tenang dan bisa melepaskan rasa ketakutannya.
"Arghhh!" teriak Mila ketika Arin menyentuh bahunya.
"Mil! ini aku, Arin," ucap Arin berjongkok di samping Mila.
__ADS_1
"Arin! ini beneran kau 'kan?" tanya Mila dengan bibir gemetar sambil meraba wajah Arin.
"Ia! ini aku Arin sahabatmu," ucap Arin tersenyum lalu membawa Mila kedalam pelukannya.
"Arin! hiks.... hiksss... " Mila langsung membalas pelukan Arin dan menangis kesegukan.
Melihat keadaan Mila, tidak terasa air mata Arin jatuh membasahi wajah cantinya. Sebagai seorang sahabat dia merasa gagal, karena dia tidak bisa membawa Mila ke jalan yang benar. Dia melihat tubuh Mila yang dingin dan gemetar. Dia mengelus rambut panjang Mila dan berusaha menangkannya.
"Ayo duduk," ucap Arin membantu Mila untuk bangun dan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Minum! aku mau minum," ucap Mila merasa kerongkongannya yang sudah kering.
Tidak menunggu lama, akhirnya Arin kembali dengan membawa segelas air mineral di tangannya. Dia langsung memberikan air itu kepada Mila. Mila yang sudah sangat kehausan langsung menghabiskan air mineral itu.
"Ada apa? kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Arin duduk di samping Mila.
"Rin! aku ingin bertemu Randy. Tolong bawa aku bertemu dengannya," ucap Mila penuh permohonan.
"Ada apa? kenapa kau ingin menemui Randy? apa ini tentang arwah Tika yang mengangumu?" tanya Arin mengerutkan keningnya binggung.
__ADS_1
"Ia! aku ingin jujur, Rin. Aku ingin mengaku jika sebenarnya aku yang telah membunuh Tika. Aku membayar orang untuk menyabotase mobilnya. Bahkan aku juga menyuruh orang untuk menabrak mobilnya," ucap Mila menitikkan air matanya penuh penyesalan.
"Aku sudah tidak kuat lagi, Rin. Tika selalu menganguku, dia selalu datang secara tiba-tiba. Aku tidak bisa jika terus di hantui rasa takut seperti ini. Lebih baik aku menghabiskan waktu ku di penjara, Rin," ucap Mila menangis kesegukan.
Mendengar pengakuan Mila, Arin langsung membulatkan matanya terkejut. Dia tidak menyangka jika Tika memang benar meneror Mila. Bahkan dia dapat melihat pancaran rasa takut di mata Mila.
"Apa kau yakin?" tanya Arin memastikan.
"Ia! Aku yakin. Aku akan mengakui kesalahanku kepada Randy. Aku akan menerima apapun hukuman yang dia berikan. Asalkan aku bisa hidup tenang tanpa ada gangguan dari Tika lagi. Aku juga akan melupakan Randy dan membiarkannya hidup bahagia dengan Rania," ucap Mila penuh keyakinan.
"Baiklah! kita akan menemuinya. Tapi aku harap setelah ini kau tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi. Ingat Mil! kejahatan tidak akan bisa menang. Walaupun kau menang, hanya akan membawamu kedalam kejahatan lebih dalam lagi. Lihatlah dirimu sekarang, walaupun kau telah berhasil menyingkirkan Tika. Tapi kau tetap tidak bisa mendapatkan Randy 'kan? malah yang kau dapatkan hanyalah rasa takut dan juga kecemasan seperti ini," ucap Arin mengelus lembut rambut panjang Mila.
"Ia, Rin! aku sadar jika perbuatanku selama ini salah. Aku terlalu mencintai kepada Randy, sehingga aku melakukan semua cara untuk mendapatkannya," ucap Mila menghapus air matanya.
"Setelah kejadian ini aku sadar jika aku tidak mencintai Randy. Tapi aku terlalu terobsesi kepadanya. Sehingga membuatku gelap mata dan...." ucap Mila tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan menangis menyesali semua perbuatannya.
"Baiklah! aku akan menemanimu berbicara dengan Randy. Aku janji akan selalu ada di sampingmu," ucap Arin tersenyum dan memeluk Mila.
"Terima kasih, Rin. Kau memang sahabat terbaikku," ucap Mila membalas pelukan Arin
__ADS_1
Bersambung....