
"Perut tante udah besar. Apa dedek bayinya masih lama di dalam?" tanya Aulya mengelus perut Arin.
"Tidak, Sayang. Mungkin beberapa minggu lagi," ucap Arin tersenyum.
"Apa tante sudah membeli baju bayinya? dulu saat Tante Tika sedang mengandung Cheesy, waktu perutnya sebesar ini dia belanja keperluan adik bayi bersama mama dan juga tante yang lainnya. Bahkan kami dan papa juga ikut, kami belanja yang banyak. Bahkan Paman Randy memborong begitu banyak perlengkapan untuk Adik Cheesy," ucap Aulya berbicara panjang lebar.
Mendengar cerita Aulya, Arin hanya dia sambil melirik Dirga. Jujur dia juga ingin di manjakan ketika sedang hamil. Apalagi jika berbelanja keperluan bayi mereka, tentu saja Arin ingin pergi persama Dirga. Namun, untuk memintanya dia merasa sangat malu. Bukan hanya itu, dia juga harus menjaga gengsinya agar Dirga tidak besar kepala.
"Benarkah! Tante Tika memang sangat beruntung memiliki suami seperti Paman Randy. Hanya saja jodoh mereka tidak panjang. Tante Tika malah meninggalkan kita untuk selamanya," ucap Arin tersenyum kecil.
"Ia, Tante! padahal Tante Tika orangnya sangat baik. Bahkan kami semua sangat menyayanginya. Hanya saja Allah lebih sayang kepadanya, jadi dia mengambil Tante Tika dari kami. Tapi walaupun Tante Tika sudah pergi, Cheesy tetap merasakan kasih sayang seorang ibu. Tante Rania sangat menyayanginya, bahkan Tante Rania memperlakukan Cheesy dengan baik. Bukan hanya kepada Cheesy, Tante Rania juga sayang kepada kami semua. Jadi pantas saja Tante Tika menyuruh Tante Rania menjadi ibu untuk Cheesy," celoteh Aulya sambil memakan kue yang mereka bawa.
"Jadi Tante Rania itu baik ya?" tanya Bu Nasri penasaran dengan sosok Rania, wanita yang sangat di cintai mantan menantunya itu.
"Ia, Nek! Tante Arin sangat baik. Bahkan dia rela melepaskan Paman Dirga hanya untuk memenuhi wasiat Tante Tika. Padahal Tante Rania dulu sudah sangat dekat dengan Paman Dirga. Bahkan mereka mau menikah setelah Paman lulus kuliah. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain," ucap Aulya memukul jidatnya pelan mengingat masalah percintaan orang dewasa itu.
__ADS_1
"Mungkin Paman Dirga tidak berjodoh dengan Tante Rania," ucap Bu Nasri menatap Dirga.
BU Nasri memang tau jika saat bertunangan dengan Arin, Dirga masih berhubungan dengan Rania. Namun, karena Arin yang keras kepala ingin menikah dengan Dirga tanpa memikirkan dampaknya dia hanya bisa diam saja. Sebenarnya dia merasa kasihan kepada Dirga, akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa membiarkan Arin menikah dengan Dirga, walaupun tanpa ada cinta dari Dirga.
"Ia, Nek! Tante Rania 'kan jodohnya Paman Randy. Sekarang mereka telah hidup dengan bahagia. Paman Randy juga sangat menyayangi Tabte Rania. Bahkan sekarang Tante Rania sedang hamil juga seperti Tante Arin," celetuk Aulya.
"Apa! Rania sedang mengandung? pantas saja waktu kami bertemu dia nampak lebih gemuk," ucap Arin tersenyum mendengar kabar bahagia itu.
"Ia, Tante! jadi sekarang Tante bisa kembali lagi dengan Paman Dirga. Lagi pula Paman sudah menyesal. Dia telah menyesal karena pernah menyakiti Tante. Tante mau ya kembali lagi dengan Paman Dirga," ucap Aulya menatap Arin dengan penuh permohonan.
"Maaf, sayang! Tante harus memikirkannya terlebih dulu. Kau tau sendirikan jika pernikahan itu bukanlah sebuah permainan. Jadi tante butuh waktu untuk memikirkan semuanya," ucap Arin mengelus rambut Aulya.
"Tidak apa-apa! kau pikirkan saja terlebih dulu. Aku akan bersabar menunggu jawaban darimu. Tapi aku mohon pikirkan semuanya dengan baik-baik. Karena ini bukan tentang kita, tapi anak yang ada di dalam kandunganmu juga. Aku tidak mau dia menjadi dampak dari masalah kita," ucap Dirga menatap Arin dengan lekat.
"Aku tau!" ucap Arin mengangguk kecil.
__ADS_1
"Baiklah! hari sudah mulai malam. Kami pamit dulu ya. Besok sebelum pergi kerja aku akan ke sini lagi," ucap Dirga tersenyum.
"Baiklah! kau hati-hati ya, Nak. Lain kali kalau kemari lagi bawa juga Aulya," ucap Bu Nasri tersenyum.
"Tentu, Nek! besok aku akan datang dengan Kak Gibran dan yang lainnya. Pasti dengan kehadiran kami Tante Arin akan merasa bahagia. Biar dia terus tersenyum dan tidak sedih lagi," ucap Aulya tersenyum dengan penuh semangat.
"Rin! Sebelum pergi apa boleh aku berinteraksi dengan bayi kita?" tanya Dirga menatap perut Arin.
Mendengar permintaan Dirga, Arin langsung menatap Bu Nasri. Tentu saja Bu Nasri langsung menganggukkan kepalanya. Karena bagaimanapu bayi Arin juga ingin berkomunikasi dengan ayah kandungnya. Melihat itu, Arin hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
Setelah mendapat persetujuan dari Arin, Dirga langsung mendekati Arin dengan penuh haru. Dia mencoba berjongkok di samping Arin sambil menatap perut Arin dengan mata berkaca-kaca. Dia menyentu perut Arin dengan lembut, akan tetapi pada sentuhan pertama dia langsung mendapat sambutan dari bayinya. Dirga langsung merasakan tendangan bayinya yang sangat keras. Sehingga senyuman dan tetesan air mata langsung menghias wajahnya secara beriringan.
Dia menatap Arin sambil meneteskan air matanya. Dia menyesal karena pernah meragukan kehadiran bayi yang tidak berdosa itu. Dia mencoba mencium perut Arin sambil berbincang kecil dengan calon bayinya. Dia meminta maaf kepada calon bayinya atas semua perbuatannya selama ini. Melihat ketulusan Dirga, Arin hanya bisa menahan air matanya. Dia berusaha terlihat kuat di depan Dirga walaupun sebenarnya hatinya sangatlah rapuh.
Bersambung.....
__ADS_1