Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 107


__ADS_3

Setelah selesai makan bersama, Dirga langsung membawa Arin ke mall. Mereka pergi ke toko perlengkapan bayi untuk membeli perlengkapan bayi mereka. Bahkan Dirga memberikan semua barang terbaik untuk calon bayinya. Dia tidak mau jika sampai calon bayi mereka kekurangan sedikitpun.


"Sayang! lihat sepatunya. Imut sekali," ucap Dirga melihat sepatu bayi yang sangat lucu.


"Ia, Sayang. Kita ambil saja ya," ucap Arin mengambil sepatu bayi berwarna biru.


"Baiklah! kita lihat-lihat perlengkapan yang lainnya lagi ya," ucap Dirga membantu Arin untuk mencari perlengkapan yang lainnya.


Arin memilih semua perlengkapan bayinya dengan sangat teliti. Dirga dengan setia menemani Arin untuk memilih semua keperluan bayi mereka. Walaupun kesusahan untuk bergerak, akan tetapi Arin tetap semangat untuk membeli semua keperluan bayinya. Dia sudah tidak sabar melihat bayinya terlahir ke dunia ini. Apalagi dengan hubungannya yang sudah membaik dengan Dirga, tentu saja kebahagiaan mereka akan lebih lengkap dengan kehadiran bayi mereka nantinya.


"Sayang! aku lelah. Kita istirahat dulu ya," ucap Arin merasakan pinggangnya yang sangat sakit.


"Baiklah! kau duduk disini ya. Aku akan membelikan minum untukmu," ucap Dirga mendudukkan Arin di sofa santai yang di sediakan toko itu.


"Em!" ucap Arin mengangguk kecil.


Dirga langsung melangkahkan kakinya menuju kantin. Dia membelikan dua botol air mineral untuknya dan juga Arin. Dirga yakin jika kaki Arin terasa pegal. Dia meminta air hangat di kantin itu untuk merendam kaki Arin. Setelah mendapatkan semuanya, Dirga langsung kembali menemui Arin.


Dia melihat Arin yang sedang duduk menunggunya sambil memini pinggangnya yang terasa sakit. Melihat Arin yang kelelahan, Dirga langsung merasa bersalah. Seharusnya dia tidak membawa Arin untuk berkeliling mall untuk berbelanja.


"Ini minumlah," ucap Dirga memberikan air mineral itu kepada Arin.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Arin menerima air mineral itu dan meminumnya.


Kemudian Arin melihat air hangat yang di letakkan di ember yang berada di tangan Dirga. Arin langsung mengerutkan meninggalnya binggung. Dia berpikir untuk apa Dirga membawa air hangat itu di tengah-tengah keramaian seperti ini.


"Kau pasti lelah. Jika kakimu di rendam dengan air hangat, pasti rasa pengal di kakimu akan menghilang," ucap Dirga berjongkok di depan Arin.


Dirga dengan lembutnya membuka sepatu Arin, dan meletakkan kedua kali Arin di ember yang berisi air hangat. Dia juga memijit kecil kaki Arin dengan harapan rasa begalnya bisa berkurang. Arin menatap haru ketulusan Dirga dalam merawatnya. Bahkan Dirga tidak perduli dengan tatapan para pengunjung lainnya. Yang dia pedulikan hanyalah Arin. Dia ingin Arin merasa sangat sepesial dan tidak kekurangan apapun. Baik itu harta ataupun perhatian dan waktu darinya.


"Ga! aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu melakukan itu," ucap Arin berusaha menarik kakinya.


"Aku lihat kakimu sangat bengkak. Kau pasti kesulitan bergerak, terlebih lagi kau sudah lama berdiri. Pasti kakimu terasa pegal. Biarkan aku melakukan ini, agar kakimu tidak terasa sakit lagi," ucap Dirga tersenyum sambil terus melakukan tugasnya.


"Tapi, Ga!"


Melihat tatapan nakal Dirga, Arin hanya menunduk malu. Sebagai orang dewasa, Arin mengerti dengan maksud perkataan Dirga. Terlebih lagi melihat tatapan makan yang Dirga luncurkan kepadanya. Arin akhirnya diam dan membiarkan Dirga memijit kakinya. Setelah selesai, Dirga langsung mengeringkan kaki Arin mengunakan handuk. Bahkan dia juga memakaikan sepatu Arin kembali.


"Sudah selesai! kakimu tidak terasa sakit lagi 'kan?" tanya Dirga menatap kaki Arin.


"Tidak! kakiku sudah tidak sakit lagi. Ternyata bukan hanya pintar berbisnis. Tapi kau juga ahli dalam memijit," puji Arin mengingat pijitan Durga yang sangat enak.


"Tentu saja. Apa yang aku tidak bisa," ucap Dirga dengan pedenya.

__ADS_1


"Sudah! kau tunggu di sini dulu ya. Aku akan mengantarkan barang-barang ini dulu. Kau jangan kemana-mana," ucap Dirga mengambil semua barang belanjaan mereka.


"Siap, Bos!" ucap Arin tersenyum lebar sambil memberikan hormat kepada Dirga.


"Kau ini!" ucap Dirga tersenyum lalu menarik hidung mancung Arin.


Dirga berlahan melangkahkan kakinya meninggalkan Arin. Dia berjalan dengan terburu-buru agar Arin tidak merasa bosan karena kelamaan menunggunya. Sedangkan Arin hanya duduk sambil menatap kepergian Dirga sambil tersenyum bahagia. Dia mengelus perutnya sambil berbincang kecil dengan bayinya.


"Anda sangat beruntung memiliki suami yang sangat perhatian seperti itu. Aku merasa sangat iri kepadamu," ucap seorang wanita duduk di samping Arin.


"Terima kasih! setiap pasangan pasti memiliki kebahagiaan masing-masing," ucap Arin tersenyum.


"Kau pasti bahagia memiliki suami sepertinya. Aku yakin dia tidak akan pernah menyakitimu. Sangat beda dengan suamiku, sukanya hanya marah-marah tidak jelas. Padahal aku sudah melalukan yang terbaik untuknya. Tapi dia tidak pernah bisa menghargai setiap usahaku," keluh wanita itu.


"Yang kita anggap terbaik belum tentu yang terbaik untuknya. Aku yakin suamimu punya alasan berbuat seperti itu. Dari pada kau sibuk melihat kesalahannya, lebih baik kau periksa kesalahanmu juga," ucap Arin tersenyum


"Karena masalah tidak akan selesai jika kita sama-sama ingin menang sendiri. Coba kau bicara dengan baik-baik dengan suamimu dan lihat kebaikannya. Karena rumput tetangga tidak selamanya seindah yang kita lihat," ucap Arin kembali.


"Maksudmu?"


"Semua pasangan memiliki kekurangan mereka masing-masing. Hanya saja kita sebagai pasangannya yang harus menutupi semua kekurangan pasangan kita. Yang kau lihat bahagia belum tentu selamanya bahagia, bahkan ada juga yang pernah mengalami hal yang sama seperti yang kau rasakan. hanya saja caranya untuk mengahadapi masalahnya berbeda. Jangan terlalu sibuk melihat kebahagiaan orang lain, hingga akhirnya kau lupa melihat kebahagiaanmu sendiri,"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2