Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 100


__ADS_3

Denis terdiam menatap kepergian Dirga. Melihat perjuangan Dirga untuk meyakinkan Arin, dia yakin keputusannya benar. Dia telah menceritakan semuanya kepada Dirga. Bahkan dia yang menyuruh Dirga untuk datang menemui Arin, dengan membawa bubur ayam kesukaannya.


Dia menatap Arin yang terus terdiam menatap kepergian Dirga. Denis yakin jika Arin masih sangat mencintai Dirga, hanya saja dia masih di hantui rasa kekecewaannya. Sehingga dia belum bisa menerima Dirga kembali. Namun, Denis yakin lama kelamaan Arin akan melupakan semua kekecewaannya dan mau membuka lembaran baru bersama Dirga. Apalagi melihat perjuangan Dirga yang tidak ada lelahnya untuk menyakinkan Arin.


Denis berlahan membuang napasnya pelan, lalu menghampiri Arin. Dia menatap satu bungkus bubur ayam dan sebuket bunga yang ada di tangan Arin. Denis berlahan tersenyum melihat Arin yang tidak membuang bunga itu.


"Hai!" ucap Denis menghampiri Arin.


Arin hanya diam sambil menatap tajam Denis. Dia dapat menebak jika Denislah dalang di balik datangnya Dirga menemuinya. Dia yakin jika Denis yang memberitahu tentang keberadaannya kepada Dirga. Karena selama ini tidak ada yang mengetahui persembunyiannya.


"Kenapa kau mengatakannya?" tanya Arin menatap Denis dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Aku melakukannya demi kebaikanmu. Demi kebaikan bayimu. Karena dia berhak tau siapa Ayah kandungnya," ucap Denis dengan tegas.

__ADS_1


"Kami tidak membutuhkannya. Kami bisa hidup tanpanya,"


"Kau jangan egois, Rin! kau jangan memikirkan dirimu sendiri. Kau memang tidak membutuhkan Dirga. Tapi bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandunganmu? bagaimana jika kelak dia menanyakan soal ayahnya?" tanya Denis menatap tajam Arin.


"Ok! jika Dirga adalah sosok Ayah yang kejam dan tidak bertanggung jawab. Kau boleh menjauhkannya darinya dengan alasan, kau tidak ingin menjadikan anakmu sebagai korban dari masalah kalian. Tapi lihatlah! lihat! Dirga sudah menyesali perbuatannya. Dia membuktikan jika dia akan berubah dan memperbaiki kesalahannya. Jadi apa salahnya jika kau memberikan kesempatan untuknya," ucap Denis berusaha meyakinkan Arin.


"Aku sudah memberikannya kesempatan Denis!"


"Ok! kau sudah memberikan dia kesempatan. Tapi katakan padaku, apa dia pernah melukai fisikmu? apa dia pernah bermain wanita di luar sana? apa dia pernah melalaikan soal kebutuhanmu? Tidak! dia tidak melakukan itu," ucap Denis tersenyum kecil.


Mendengar ucapan Denis, Arin langsung terdiam. Apa yang di katakan Denis memang benar apa adanya. Di dalam rumah tangga mereka, bukan hanya Dirga yang bersalah. Namun, Arin juga ikut menciptakan permasalahan di dalam rumah tangganya.


Arin yang terlalu terobsesi kepada Dirga memilih untuk tidak memikirkan perasaan Dirga. Dia hanya memikirkan cara agar dia bisa bersatu dengan Dirga. Bahkan dia tidak perduli jika Dirga pada saat ini masih berstatus sebagai kekasih Rania. Bukan hanya kekasih, akan tetapi Dirga juga masih sangat mencintai Rania.

__ADS_1


"Dulu kau mengejar Dirga tanpa memperdulikan perasaannya. Sekarang kau malah meninggalkannya tanpa memikirkan perasaan bayimu. Kau kemang wanita yang sangat egois, Rin," ucap Denis menatap Arin dengan penuh kekecewaan.


Dia langsung pergi meninggalkan Arin dan membiarkannya memikirkan ucapannya. Arin harus memikirkan masa depannya dan juga bayinya. Memang memaafkan Dirga tidaklah mudah baginya. Namun, dia juga tidak boleh egois. Dia harus memikirkan dampak dari keputusannya.


Arin hanya mampu diam menatap kepergian Denis. Dia duduk di kursi rotan yang ada di teras lalu menangis kesegukan. Dia mengusap perutnya sambil menangis meratapi nasibnya. Dia tidak menyangka karena obsesinya dulu dia harus menahan sakit seperti ini.


Selama tinggal dengan Dirga, Dirga memang tidak pernah menyakiti fisiknya maupun menelantarkannya. Akan tetapi batinnya sangatlah terluka. Dia harus menahan rasa sakitnya karena suaminya tidak pernah mengangap kehadirannya. Bahkan Dirga suaminya mencintai wanita tanpa memperdulikannya.


"Nak!" ucap Nasri mengusap punggung Arin.


Dia sejak tadi melihat kejadian itu hanya bisa menahan tangisnya. Sebagai seorang ibu, dia bisa merasakan bagaimana perasaan Arin saat ini. Dia hanya mampu memberikan dukungan dan juga nasihatnya kepada Arin. Untuk keputusan, itu semua ada di tangan Arin. Karena hanya Arin yang berhak menentukan kehidupannya.


Arin langsung memeluk Nasri dan meluapkan semua kesedihannya selama ini. Nasri hanya bisa menenangkan Arin dan membiarkan Arin menumpahkan semua kesedihannya. Dia berharap jika Arin meluapkan semua kesedihannya, segala beban yang Arin pendam selama ini dapat meluas dan tidak menjadi beban pikirannya lagi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2