Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 120


__ADS_3

Randy menghampiri Rabia yang tergulai lemas di atas bangsalnya. Dia menatap kening Rania yang di penuhi keringat, karena mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melahirkan buah hati mereka. Randy meneteskan air matanya penuh kebahagiaan lalu menciumi wajah Rania dengan lembut.


"Terima kasih, Sayang," ucap Randy menitikkan air matanya sambil memeluk erat hubungannya Rania.


"Terima kasih juga karena telah memberikan kekuatan untukku," ucap Rania tersenyum sambil membelai lembut wajah Randy.


"Putri kita sangat cantik. Sama sepertimu," ucap Randy tersenyum sambil mengusap keringat Rania.


"Di mana putri kita?"


Mendengar pertayaan Rania, Randy langsung menyuruh suster itu untuk memperlihatkan putri mereka. Rania menatap putri kecilnya dengan tatapan penuh haru. Dia menitikkan air mata sambil menatap Randy dengan tatapan penuh kebahagiaan.


"Dia sangat cantik," ucap Rania tersenyum penuh haru.


"Aku sudah mengadzaninya. Sekarang kau pindah ke ruang tawat dulu ya. Biar bayinya bisa langsung belajar menyusu," ucap Randy menyuruh para suster memindahkan Arin ke ruang rawat.


Rania langsung di bawa ke ruang rawat oleh para suster. Sedangkan Randy berjalan di belakang mereka sambil mengendong putri kecilnya. Saat keluar dari ruang persalinan, mereka melihat Clara dan yang lainnya telah menunggu mereka di depan pintu. Melihat kesigapan para sahabatnya itu, Randy langsung mengerutkan kencingnya binggung. Dia tidak tau sejak kapan para sahabat beserta bocil itu menunggu mereka disana.


"Rania! kenapa kau tidak menghubungiku? akun sangat menghawatirkanmu," ucap Clara langsung menghampiri Rania.


"Sudah! biarkan Rania di bawa ke ruangannya terlebih dulu. Setelah itu kalian boleh memarahi mereka sesuka hati kalian," ucap Rafi menatap kesal Randy.


Tentu saja mereka kesal karena Randy tidak memberitahu soal persalinan Rania. Jika Randy memberitahu mereka sudah pasti mereka akan menemani Rania saat melakukan persalinan. Apa lagi mengingat jika Rania tidak memiliki siapapun kecuali mereka. Tentu saja mereka sangat mencemaskan keadaan Rania.

__ADS_1


Melihat tatapan kesal seluruh sahabatnya itu, Randy hanya bisa membuang napasnya kasar. Bukan tidak ingin memberitahu, akan tetapi dia juga sangat cemas. Terlebih lagi sesampai rumah sakit dia harus menangani Rania secara langsung. Jangankan menghubungi mereka, bahkan sampai sekarang Randy lupa untuk mengisi perutnya.


Sesampainya di ruang rawat, para mama muda langsung saling berebut untuk mengendong bayi mungil itu. Sedangkan para bocil hanya diam menatap sambil menunggu giliran mereka. Bahkan sudah berapa kali mereka meminta untuk melihat bayi mungil itu. Akan tetapi para mama muda masih sibuk berebut sampai-sampai mereka melupakan para bocil itu.


"Ray! apa aku bisa minta tolong," ucap Randy mulai merasaka perutnya yang mulai berdemo.


"Apa?" tanya Rayyan ketus.


"Tolong belikan makanan. Aku sangat lapar," ucap Randy memperlihatkan wajah memelasnya.


"Kau belum sarapan?" tanya Rayyan menatap iba Randy.


"Belum! sekalian bubur untuk Rania ya. Dia pasti tidak suka makan makanan rumah sakit," ucap Randy.


"Baiklah! itu makanya sekali lagi kalau punya sahabat di anggap. Jangan di cuekin begitu saja," ucap Rayyan bangkit dari duduknya.


"Enak ya jadi dokter. Jadi bisa bantuin istrinya melahirkan," ucap Wildan menatap Shinta.


"Memangnya kenapa?" tanya Kinan menatap heran ucapan Wildan.


"Jadi milik istrinya hanya dia yang melihatnya. Bukan hanya milih istrinya saja, tapi," ucap Wildan dengan polosnya.


Mendengar ucapan Wildan, Kinan, Rafi dan Ardiyan hanya bisa menahan tawanya. Sedangkan para mama muda langsung melemparkan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Jadi suami pikirannya tah kemana-mana saja. Dokter itu melakukan tugasnya dengan baik. Bukan hanya ingin melihat milik para wanita hamil," ucap Shinta langsung menjewer telinga Wildan.


"He... he... hanya bercanda sayang. Jangan marah gitu dong," ucap Wildan mencoba menggoda Shinta.


"Sudah! aku akan membelikan makanan untukmu. Lya kau tidak ikut?" tanya Rayyan menatap putrinya dan para bocil yang lainnya hanya duduk diam menatap kesal para mama mereka.


"Lya ikut. Di sini juga di cuekin. Mentang-mentang ada adik baru, anaknya di lupain," ucap Aulya ketus sambil menatap kesal Zhia.


"Kami juga ikut, Paman. Malas di sini di cuekin," ucap Yuki, Sania dan Fiona berlari ke arah Rayyan dan Aulya.


Mendengar ucapan para bocil itu, para mama muda langsung diam mematung sambil menatap para putri mereka penuh kebingungan. Mereka saling lempar tatapan melihat para putri mereka yang merasa cemburu kepada bayi yang baru lahir itu.


"Hai, Ran. Selama ya," ucap Arin memasuki ruangan Rania bersama Dirga dan Bu Bima.


"Terima kasih, Rin!" ucap Rania langsung menyambut kedatangan Arin dan Dirga dengan hangat.


"Selamat ya, Nak. Ini tante bawakan buah untukmu. Kau harus banyak makan buah dan sayur agar air asimu banyak," ucap Bu Bima tersenyum.


"Terima kasih ya tante," ucap Rania tersenyum sambil menerima buah pemberian Bu Bima.


"Mana calon menantuku?" tanya Dirga menatap bayi mungil yang ada di gendongan Zhia.


"Wah calon menantuku sangat cantik ya. Sini biar papa mertuamu yang mengendongmu," ucap Dirga mengambil bayi munggil itu dari gendong Zhia.

__ADS_1


"Ini ada drama apakah? tidak jadi menikahi mamanya, kau malah ingin menjadikannya sebagai menantu. Apakah akan ada kisah mantan kekasihku menjadi besanku?" tanya Wildan asal ceplos saja.


Bersambung......


__ADS_2