
Tak terasa hari demi hari kini berlalu. Kandungan Rania juga terlihat semakin membesar. Bahkan tubuhnya juga terlihat semakin membulat saja. Kakinya juga mulai membengkak sehingga membuatnya semakin sulit untuk berjalan. Melihat keadaan istrinya itu, Randy jadi lebih sering menghabiskan waktunya di rumah untuk mengurus Rania. Apalagi mengingat Cheesy yang masih sangat kecil dan butuh pengawasan ekstra.
Sebagai seorang dokter, Randy selalu mengawasi perkembangan janin yang ada di kandungan Rania. Dia tidak mau jika sampai Rania dan bayinya kenapa-napa. Memberikan perhatian ekstra kepada anak dan istrinya itu adalah hal yang terpenting untuk Randy. Seperti pagi ini, sebelum berangkat kerja dia menyempatkan diri untuk membuat sarapan untuk anak dan istrinya.
"Sayang! kau sedang apa?" tanya Rania berjalan mendekati Randy yang sedang bergulat dengan alat masaknya.
"Kau sudah bangun, Sayang," ucap Randy mencium lembut kening Rania lalu kembali fokus dengan masakannya.
"Kau tidak kerja?" tanya Rania melihat Randy yang masih mengenakan baju kaos dan celana pendeknya. Tidak lupa dengan celemek yang menempel di tubuhnya.
"Kerja, Sayang. Hari ini 'kan jadwalmu untuk kontrol kandungan. Aku sengaja bangun lebih awal agar bisa membiarkanmu sarapan. Setelah itu kita pergi ke rumah sakit bersama," ucap Randy tersenyum.
"Kenapa kau harus repot-repot seperti itu. Aku masih bisa memasak untukmu. Lagian Bik Inah juga ada, kau tidak perlu capek-capek seperti ini," ucap Rania merasa tidak enak karena setiap hari merepotkan suaminya itu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagian ini tidak terlalu melelahkan. Bahkan aku jauh lebih lelah jika melihat wajahmu yang cemberut itu," ucap Randy mengoda Rania.
"Sayang! kau bisa saja," ucap Rania menundul malu sambil mencubit kecil perut Randy.
"Aw! sakit, Sayang," rintih Randy pura-pura kesakitan.
"Sekarang kau duduk ya. Makanannya hampir siap," ucap Rany mendudukkan Rania lalu kembali melanjutkan acara masak memasaknya.
__ADS_1
Rania hanya diam menurut sambil menatap Randy yang sibuk membuatkan sarapan untuknya. Setelah masakannya telah selesai, Randy langsung menatanya dengan rapi di atas meja. Setelah itu dia berjalan ke atas untuk membawa Cheesy untuk turun. Randy melakukan tugasnya sebagai suami dan ayah yang baik.
Bahkan dia selalu memperhatikan Cheesy dan juga Rania. Kebahagiaan kedua bidadarinya iti adalah hal yang paling penting untuknya. Bahkan melihat senyuman mereka saja, semua rasa lelahnya langsung menghilang seketika. Rania juga sama, walaupun akan memiliki anak dari darah dagingnya sendiri.
Dia tetap menyayangi Cheesy dengan sangat tulus. Bahkan tidak ada sedikitpun rasa sayangnya yang berkurang untuk Cheesy. Dia memperlakukan Cheesy dengan sangat baik, karena baginya Cheesy juga adalah putri kecilnya. Walaupun bukan terlahir dari rahimnya. Dia tidak ada niat sama sekali untuk membeda-bedakan Cheesy dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Cheesy sudah bangun. Ayo kita sarapan bersama," ucap Randy mendudukkan Cheesy di kursinya.
"Putri kecil mama sudah bangun. Ayo makan sayang, biar kita ikut papa ke rumah sakit," ucap Rania tersenyum.
"Papa itut!" ucap Cheesy bicara dengan cendelnya.
"Ia, Sayang. Kalian akan ikut dengan papa. Cheesy mau lihat adik bayi 'kan?" tanya Randy tersenyum.
"Jika mau lihat adik bayi, sekarang habiskan sarapannya. Setelah itu kita akan pergi kerumah sakit untuk lihat adik bayinya," ucap Rania tersenyum bahagia lalu meletakkan sarapan Cheesy di atas mejanya.
Mendengar ucapan Rania, Cheesy langsung menyantap sarapannya dengan begitu lahapnya. Melihat adik bayinya adalah hal yang paling menyenangkan bagi Cheesy. Bahkan Dia tidak pernah mau tinggal jika Rania mau memeriksa kandungannya. Jika dokternya adalah suaminya sendiri maka Rania bebas mau melihat keadaan kandungannya kapanpun yang dia mau.
"Kau juga habiskan sarapanmu," ucap Randy melihat Rania yang belum memakan sarapannya.
"Aku mau di suap," ucap Rania dengan manjanya.
__ADS_1
Melihat sikap manja Rania, Randy hanya mengelengkan kepalanya pelan. Dia langsung mengambil piring yang ada di depan Rania lalu menyuapinya dengan begitu lembutnya. Rania menerima setiap suapan yang di berikan Randy dengan begitu lahapnya. Sehingga piringnya kini menjadi bersih tanpa ada sisa makanan sedikitpun.
"Sekarang kau mandi. Biar Cheesy Bik Inah yang mandikan," ucap Randy menyimpan piring kotor mereka.
"Siap, Sayang!" ucap Rania mencium Randy dengan gemas lalu berjalan menuju kamar mereka.
Dia menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati. Randy memang sengaja menyuruhnya untuk naik turun anak tangga setiap harinya. Bukan hanya itu, bahkan jika ada hari minggu dan saat dia masuk siang. Dia selalu mengajak Rania untuk jalan pagi. Dia selalu menyuruh Rania untuk berolahraga agar Rania tidak kesulitan melahirkan nantinya.
Setelah selesai bersiap-siap, mereka langsung pergi menuju rumah sakit secara bersama-sama. Randy melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil melirik Rania yang sibuk menatap ke arah kaca jendela. Setiap bepergian, Rania memang paling suka melihat ke luar kaca jendela. Bukan untuk melihat pemandangan kota, akan tetapi dia melihat makanan yang mampu mana yang akan dia coba nantinya.
"Sayang! aku mau es krim," ucap Rania ketika melihat toko es krim.
Mendengar ucapan Rania, Randy langsung mengangguk patuh. Dia mengemudikan mobilnya menuju toko es krim itu. Dia langsung turun dari mobilnya dan membeli es krim untuk Rania dan juga Cheesy. Tidak menunggu lama, akhirnya Randy kembali dengan membawa es krim pesanan Rania.
"Ini," ucap Randy memberikan es krim itu kepada Rania.
"Terima kasih," ucap Rania tersenyum bahagia sambil menyantap es krim itu dengan rakusnya.
Bukan hanya Cheesy yang berselemotan karena es krim itu, tapi Rania juga. Melihat Rania dan Cheesy yang sama-sama berselemotan Randy hanya mampu terkekeh kecil. Mengurus mereka berdua bagi Randy sama saja sedang mengurus bayi kembar. Randy mengambil tissu lalu membersihkan wajah kedua bayi kembarnya itu dengan lembut.
Setelah selesai Randy kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit. Rania duduk santai di sampingnya sambil berbincang-bincang dengan Cheesy. Cheesy kini sedang belajar bicara, sehingga dia sering mengoceh seorang diri. Tidak mau putrinya itu merasa tidak di perdulikan, Rania selalu mengajaknya bicara dan menunjukkan semua hal baru kepadanya.
__ADS_1
Bersambung......