
Arin terdiam di sofa ruang tamu, ucapan Mila tadi siang terus mengusik pikirannya. Berbagai macam pertanyaan terus memutar di pikirannya sehingga membuat dia pusing sendiri. Dia tidak tau harus percaya atau tidak, jika memang ada arwah yang gentayangan.
"Apa mungkin Tika tidak Terima dengan kematiannya. Sehingga dia bangkit kembali untuk menganggu Mila," Gumam Arin berbicara sendiri.
Di saat dia sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya dari belakang.
Arghhh....
Arghh....
Teriak Arin di ikuti seorang wanita paruh baya di belakangnya.
"Mama!" Ucap Arin mengelus dadanya melihat Bu Bima di belakangnya.
"Kau ini! Bikin kaget mama saja," Ucap Bu Bima mengendus kesal lalu duduk di samping Arin.
"Maaf, Ma! Arin kira tadi siapa. Habisnya sih mama main asal muncul saja," Ucap Arin terkekeh kecil.
"Ia, sih! Mama hanya ingin menemui menantu kesayangan mama. Soalnya sudah lama kau tidak menemui mama,"
"Maaf, Ma! Arin lebih senang menghabiskan waktu di rumah saja,"
"Tunggu dulu!" Ucap Bu Bima memperhatikan tubuh Arin.
"Sepertinya ada yang berbeda pada tubuhmu," Ucap Bu Bima memeriksa tubuh Arin.
__ADS_1
"Berbeda apa, Ma! Tubuh Arin terlihat bisa saja," Ucap Arin mengerutkan keningnya binggung.
"Tidak! Kau terlihat semakin gemuk. Lihat perutmu," Ucap Bu Bima membulatkan matanya sambil tersenyum.
"Kau hamil, Rin?" Tanya Bu Bima sambil menatap senang ke arah Arin.
"Em! Ia, Ma. Arin sedang mengandung," Ucap Arin menunduk.
"Wah! Selamat sayang. Kenapa kau tidak mengatakannya kepada mama. Kau ini nakal ya," Ucap Bu Bima membelai lembut wajah Arin.
"Maaf, Ma. Arin juga baru tau. Jadi Arin belum sempat memberitahu mama,"
"Sudah! Tidak apa-apa, Sayang. Yang penting kau dan kandunganmu baik-baik saja. Mama akan memberitahu papamu. Pasti dia sangat senang,"
"Kenapa kau seperti sedih seperti itu? Bukankah ini adalah kabar baik untuk rumah tangga kalian? Mama yakin setelah ini hubunganmu dan Dirga akan semakin dekat," Ucap Bu Bima tersenyum.
"Tapi! Apa Dirga sudah mengetahui ini? Bagaimana reaksinya?" Tanya Bu Bima kepo.
Mendengar pertanyaan mertuanya, Arin hanya diam menunduk. Dia tidak tau harus berkata apa kepada mertuanya itu. Karena dia belum berbicara apapun kepada Dirga.
"Itu Dirga sudah pulang," ucap Bu Bima mendengar suara mobil Dirga memasuki perkarangan rumah mereka.
Bu Bima langsung berlari kecil menemui putranya. Melihat mertuanya langsung menemui Dirga, Arin langsung salah tingkah. Dia meremas tangannya penuh kebingungan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Dirga ketika mengetahui kehamilannya. Arin hanya bisa diam sambil mengikuti mertuanya dari belakang.
"Ga! kenapa kau tidak memberitahu kabar baik ini kepada mama? kenapa kau menyembunyikan hal sebesar ini dari papa dan mama?" tanya Bu Bima menatap kesal Dirga.
__ADS_1
"Kabar baik apa?" tanya Dirga penuh kebingungan sambil menatap Arin.
"Kau ini! kau sangat suka membuat mama kesal," ucap Bu Bima mencubit kecil perut Dirga.
Dirga hanya diam sambil menatap sang mama dengan penuh kebingungan. Dia berlahan menatap Arin yang hanya diam sambil menunduk. Melihat tatapan Dirga, Arin semakin camas dan jantungnya langsung bedetak dengan kencang.
"Tidak apa-apa. Mama tidak akan memarahimu, karena kau sudah memberikan cucu untuk mama," ucap Bu Bima mengelus perut datar Arin.
Mendengar ucapan Bu Bima, Dirga langsung membulatkan matanya terkejut. Dia menantap Arin dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Melihat tatapan Dirga, Arin langsung menunduk sambil meremaa kedua tangannya.
"Kau hamil? bagaimana mungkin?" tanya Dirga sehingga membuat Arin langsung menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Mendengar pertanyaan putranya, Bu Bima langsung menatapnya dengan penuh rasa tidak percaya. Dia tidak menyangka jika pertanyaan itu muncul dari mulut putranya.
"Bagaimana mungkin! bagaimana mungkin katamu? apa kau lupa jika kau telah menyentuhku pada malam itu?" tanya Arin menatap geram Dirga.
"Ia aku tau! aku memang sudah melakukan hal konyol itu denganmu. Tapi kita baru melakukannya satu kali," ucap Dirga tanpa memperdulikan perasaan Arin.
"Maksudmu apa bicara seperti itu? jadi kau tidak mempercayaiku?" tanya Arin menatap tajam Dirga.
"Aku tau kata-kata ini akan keluar dari mulutmu. Karena hal itulah aku tidak memberitahumu tentang kehadiran bayi ini. Jika kau tidak mau menerima kehadirannya aku tidak perduli. Karena aku bisa membesarkannya tanpa dirimu," ucap Arin meneteskan air matanya lalu pergi meninggalkan Dirga dengan penuh kekesalan.
"Mama kecewa kepadamu. Kau memang pria yang tidak bertanggung jawab," ucap Bu Bima menatap kesal Dirga lalu berlari mengejar Arin.
Bersambung.....
__ADS_1