Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 91


__ADS_3

"San! kau tau jika mamaku melihat Tante Arin waktu sebelum masuk kantor polisi," ucap Yuki sambil mengunyah cemilan di tangannya.


"Ia! aku dengar jika Tante bilang jika dia melihat Tante Rania. Tapi karena kakak sialan itu, tante jadi hilang jejak," ucap Sania geram mengingat Aldan yang merusak kesempatan Shinta untuk mengejar Arin.


"Enak aja kau bilang kakak tampan ku sialan. Dia itu pangeran yang jatuh dari surga," ucap Yuki tidak terima.


"Kalian apa-apaan, sih? masih pagi sudah berantem," ucap Aulya datang bersama Erlan dan Gibran.


"Tau nih! si Yuki lagi jatuh cinta pada pandangan pertama," ucap Sania mengejek.


"Wah! ternyata si ketus juga bisa jatuh cinta. Bukannya kau itu hobbynya bertengkar," ucap Erlan terkekrh kecil.


"Enak aja! gini-gini aku juga gadis biasa yang ingin di sayangi. Lagian mereka saja yang suka cari masalah denganku. Jadi jangan salahkan aku memperlihatkan jiwa singaku," ucap Yuki santai.


"Aku dengar Tante Shinta melihat Tante Arin. Apa kalian tau informasinya?" tanya Gibran yang tidak sengaja mendengar ucapan Zhia dan Rayyan.


"Itu yang sedang kami bahas tadi," ucap Yuki ketus.


"Bagaimana jika kita cari Tante Arin. Jika Tante Arin ketemu, aku yakin kita akan bisa membuat nenek sihir itu tidak menyalahkan Tante Rania lagi. Lagian jika Tante Arin ketemu, aku yakin Tante Rania tidak akan merasa bersalah lagi," ucap Aulya.


"Benar! jika kita berhasil menemukan Tante Arin, nenek sihir itu tidak akan menyalahkan Tante Rania lagi. Dan Tante Rania juga akan merasa senang. Mana tau kita akan di teraktir makan lagi sepuasnya," ucap Sania.


"Setuju!" ucap semuanya serentak.


"Baiklah! kalau begitu kita akan menemui Kak Bisma. Karena jika kita bergerak sendiri bisa-bisa kita akan kena marah. Jadi kita harus ikut bergabung dengan Kak Bisma saja," ucap Gibran.


"Jadi aku bisa terus melihat wajah tampan Kak Bisma dong! kalau begitu aku setuju," ucap Sania semangat ketika mendengar nama pujaan hatinya itu.

__ADS_1


"Jadi cewek kok genit amat, Sih! lagian kau sudah di abaikan Kak Bisma setiap hari. Tapi tetap saja gatal," ucap Yuki memicingkan bibirnya melihat sikap genit Sania.


"Memangnya kau lupa! jika kau juga seperti cacing kepanasan ketika melihat kakak yang di kantor polisi itu. Kau juga sama," ucap Sania ketus.


"Kalian berdua sama saja. Tidak ada bedanya, sebelas dua belaslah," ucap Aulya.


"Mending kami! dari pada kau pantang melihat cowok bening dikit saja. Langsung klepek-klepek kayak buaya betina mencari mangsa," ucap Yuki dan Sania serentak.


"Kalian bertiga sama saja. Sama-sama gatal!" ucap Gibran dan Erlan serentak sehingga membuat ketiganya terdiam.


"Sudahlah! aku ada berita yang lebih bagus lagi. Pasti kalian belum ada yang tau," ucap Erlan tersenyum.


"Apa?" ucap semuanya langsung menatap Erlan serius.


"Kalian benar belum pada tau?"


"Tante Rania lagi hamil,"


"Apa!" teriak Gibran dan yang lainnya sehingga membuat Erlan langsung menutup kedua telinganya.


"Kalian kalau ngomong itu bisa gak usah teriak engak, Sih? aku jadi budek karena kalian," ucap Erlan ketus sambil memegang kedua telinganya yang terasa sakit karena teriakan keempat sahabatnya itu.


"He... he... maaf!" ucap keempatnya cengegesan tanpa dosa.


"Ok! nanti pulang sekolah kita langsung ke kantor paman Rafi. Kita akan menemui Kak Bisma di sana," ucap Gibran.


"Ok!" ucap semuanya serentak.

__ADS_1


Mereka langsung menyusun rencana terlebih dulu sebelum menemui Bisma. Karena mereka tau Bisma tidak akan mau membawa mereka jika mereka tidak menemukan ide yang bagus. Apalagi jika Sania di sana, bisa-bisa dia terus menempel dengan Bisma sehingga membuat Bisma menjadi sulit untuk bergerak.


...----------------...


"Apa! kau hamil?" teriak Clara tersenyum bahagia setelah mendengar kabar kehamilan Rania.


"Em!" ucap Rania tersenyum menganguk.


"Arghh! akhirnya. Aku senang mendengarnya," ucap Clara memeluk Rania dengan penuh kebahagiaan.


"Terima kasih ya. Tapi," ucap Rania terdiam sambil menatap Cheesy yang sedang bermain dengan Fiona dan Fillio.


Jika tidak ada pekerjaan, Clara memang selalu bertemu dengan Rania. Apalagi setelah kecelakaan Rania. Dia lebih sering menghabiskan waktunya ke rumah Rania. Selain berkunjung, Clara juga membawa Fiona dan Fillio agar bisa bermain dengan Cheesy. Apalagi Fiona yang terus merengek ingin bertemu dengan Cheesy, sehingga membuatnya harus membawa Fiona dan Fillio menemui Cheesy.


"Tapi apa?" tanya Clara mengerutkan keningnya bingung.


"Tapi aku merasa jarak bayiku dengan Cheesy terlalu dekat. Aku takut, jika aku tidak bisa membagi waktuku dengan baik kepada mereka," ucap Rania yang tidak mau membuat Cheesy kehilangan kasih sayangnya.


Dia tau, mengurus bayi yang umurnya tidak jauh itu tidaklah mudah. Apalagi mengingat umur Cheesy yang kini masih satu tahun. Di umurnya itu, dia sedang aktif-aktifnya dan butuh pengawasan yang ketat. Apalagi jika bayinya nanti sudah lahir, pasti dia akan susah membagi waktunya untuk keduanya.


"Kau pasti bisa, Ran. Lihat aku! aku juga bisa mengurus Fiona dan Fillio secara bersamaan. Padahal umur mereka sama, sedangkan kau. Jika nanti bayimu sudah lahir, Cheesy nanti sudah berumur satu tahun sembilan bulan. Jika aku saja bisa, kenapa kau tidak? lagian kau jangan terlalu khawatir seperti itu. Kami akan selalu membantumu," ucap Clara tersenyum.


"Kau benar juga! aku yakin aku pasti bisa. Aku akan melahirkan bayiku tanpa mengurangi kasih sayangku kepada Cheesy. Lagian bagiku mereka sama saja," ucap Rania tersenyum.


"Aku percaya kepadamu. Kau pasti bisa merawat Cheesy dan juga bayimu dengan baik. Karena hanya kau ibu yang tepat untuk Cheesy," ucap Clara tersenyum.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2