Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 117


__ADS_3

"Kalian sepertinya telah lelah. Kalian beristirahatlah. Biar Daffa tidur dengan mama," ucap Bu Bima melihat Arin yang sepertinya telah lelah.


"Baik, Ma!" ucap Dirga tersenyum mengguk lalu membawa Arin ke kamar mereka.


Sesampainya di kamar, Arin menatap kamar mereka yang ditaburi taburan bungga mawar. Bahkan dia juga melihat hiasan kecil di dalam kamar itu sehingga membuat suasana terlihat romantis. Arin yang melihat itu hanya bisa menundukkan kepalanya sambil berjalan mendekati ranjang mereka.


Dirga dapat melihat rasa gugup yang pada diri Arin. Dia mengingat malam pertama mereka dulu yang di penuhi luka di hati Arin. Di mana dia memilih untuk pergi untuk minum di bar dan meninggalkan Arin sendirian di kamar mereka. Namun, kali ini hal itu tidak akan terjadi lagi. Di malam pertama mereka kali ini Dirga akan membuat Rania merasa bahagia dan menciptakan kenangan indah di antara mereka berdua.


"Kau pasti lelah! kau bersihkan lah dirimu," ucap Dirga menatap Arin yang duduk di tepi ranjang.


"Apa kau bisa membantu membukakan retseleting ini. Aku tidak bisa mengapainya," ucap Arin menunjukkan retseleting taunya yang berada di belakang.


"Tentu saja," ucap Dirga berlahan mendekati Arin.


Dia membuka retseleting Arin secara berlahan. Sehingga akhirnya dia melihat punggung mulus Arin yang terpang-pang jelas di depannya. Dirga berlahan menelan ludahnya kasar sambil menatap punggung mulus itu. Ingin sekali rasanya dia menyentuh kulit mulus itu dengan kedua tangannya. Akan tetapi dia memilih untuk mengurungkan niatnya karena takut Arin merasa tidak nyaman.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Arin melihat Dirga yang hanya diam saja.


"Su.. sudah," ucap Dirga mengusap wajahnya kasar lalu duduk di tepi ranjang.


Melihat reaksi Dirga, Arin hanya tersenyum kecil. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia merendam tubuhnya di bathtub untuk menghilangkan semua rasa lelah yang menguasai tubuhnya. Sedangkan Dirga memilih untuk duduk bersandar di atas ranjang mereka sambil memainkan poselnya. Dia menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat sambil membuang napasnya kasar.

__ADS_1


Setelah melihat punggung Arin yang begitu mulus, Dirga tidak bisa mengontrol dirinya. Ingin sekali dia menghabiskan malam pertama mereka dengan di penuhi suara manja dari Arin. Namun, dia mengingat jika Arin yang baru saja melahirkan.


Dia tidak mau jika sampai harus melukai Arin karena nafsunya. Apalagi dia membayangkan bagaimana perjuangan Arin melahirkan bayi mereka. Sehingga membuat Dirga merasa takut jika sampai Arin hamil kembali.


Di saat dia sedang sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba dia mendengar ponselnya yang berbunyi. Dia melihat ada pesan dari grub para sahabatnya. Para papa muda itu memang sengaja membuat grub chat agar mereka bisa puas bergosip bersama, walaupun sedang tidak berkumpul. Dirga langsung membuka pesan itu dan membaca pesan dari para papa muda yang gesrek itu.


"Bagaimana? apa kau sudah buka puasa? aku lihat kau sudah tidak sabar sehingga kau langsung membawa Arin ke kamar?" Rayyan.


"Tidak! aku tidak mungkin melakukan itu. Arin baru saja melahirkan. Aku tidak mau jika sampai terjadi apa-apa kepadanya," Dirga.


"Siapa bilang? Istrimu melahirkan sudah lebih dari satu bulan lalu. Jadi kau boleh melakukannya," Kinan.


"Benar! aku saja melakuka itu setelah umur putriku satu bulan setengah," Wildan.


"Sumur bor! kau kira Arin apaan🤣?" Ardiyan.


"Ha.. ha... kau kira Dirga mau cari sumber mata air?" Kinan.


"Bukan sumber mata air. Tapi mencari sumber membuang kecebongnya yang sudah lama mengendap," Rayyan.


"Kalian ini! sudah lah. Aku mau buka puasa dulu, Babay," Dirga.

__ADS_1


Melihat pesan dari para sahabatnya itu, Dirga hanya mampu mengelengkan kepalanya pelan. Dia langsung mematikan ponselnya, karena tidak mau acara indahnya di ganggu oleh para papa yang tidak punya kerjaan itu. Dirga kembali meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap ke arah pintu kamar mandi.


Dia menatap pintu itu yang masih tertutup rapat. dia mencoba berpikir sedang apa Arin di dalam sana. Padahal sudah hampir satu jam Arin berada di dalam kamar mandi itu. Namun, sampai sekarang Dirga belum melihat ada tanda-tanda jika Arin akan keluar dari dalam sana.


Tidak mau berpikir panjang Dirga berlahan turun dari ranjangnya dan berjalan mendekati pintu kamar mandi itu. Namun, saat Dirga ingin mengetuk pintunya. Tiba-tiba pintu itu terbuka dan memperlihatkan pemandangan yang tidak dia duga sebelumnya.


Dia melihat Arin mengunakan baju lingerie tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Dirga langsung menelan ludahnya kasar sambil menatap penampilan Arin dengan penuh hasrat.


"Ke.. kenapa kau memakai baju ini? Bukankah kau baru melahirkan. Apakah boleh melakukannya sekarang?" tanya Dirga mengusap wajahnya kasar sambil berusaha mengontrol dirinya.


"Masa nifas ku sudah selesai. Jadi aku sudah bisa melaksanakan kewajibanku sebagai istrimu," ucap Rania tersenyum kecil.


"Benarkah! apa tidak akan membuatmu terluka nantinya?"


"Tidak! asalkan kau melakukanya dengan hati-hati,"


Mendengar ucapan Arin, Dirga langsung tersenyum bahagia.


"Baiklah! kalau begitu kita ciptakan kenangan indah di malam pertama kita ini," ucap Dirga tersenyum lalu membawa Arin kedalam gendongannya.


Melihat itu, Arin hanya tersenyum bahagia. Dia melingkar tangannya di leher Dirga sambil menatap kagum ketampanan suaminya itu. Dirga berlahan meletakkan tubuh Arin di atas ranjang mereka lalu menyentuh setiap tubuh Arin dengan begitu lembut. Arin hanya diam sambil memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang Dirga berikan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2