Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku

Terpaksa Menjadi Ibu Sambung Putri Sahabatku
Part 119


__ADS_3

Di malam hari, tiba-tiba Rania merasakan keram pada perutnya. Dia terbangun dari tidurnya dan menatap Randy yang masih tertidur dengan lelapnya. Melihat Randy nyang sepertinya sedang kelelahan, Rania mencoba berusaha mehan sakitnya. Dia berlahan turun duduk bersandar dan meraih air mineral yang ada di meja.


Namun, dia melihat air itu kosong. Karena merasa kerongkongannya yang kering, Rania mencoba berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Dia berjalan dengan susah payah menuruni anak tangga. Di tangga terakhir dia memilih untuk beristirahat sejenak karena sakit pada perutnya yang semakin kuat.


"Kenapa perutku sangat sakit?" gumam Rania mengelus perutnya sambil mengusap keringatnya yang membasahi keningnya.


Karena kerongkongannya terasa semakin kering, Rania kembali bangkit dan berjalan menuju dapur. Dia terus berjalan dengan sangat hati-hati sambil berusaha menahan rasa sakitnya. Dia memegangi setiap benda yang ada di dekatnya sebagai penopang tunuhnya. Namun, belum sempat mengambil air minum itu, tubuhnya langsung ambruk dia lantai.


Dia mengalami kontraksi yang sangat kuat, bahkan dia melihat air bening yang mengalir di selangkangannya. Arin memegang perutnya sambil merintih kesakitan. Bik Inah yang tidur di kamar belakang tidak sengaja mendengar suara rintihan Rania. Karena merasa penasaran dia bangkit dari tidurnya lalu berjalan menghampiri sumber suara itu.


"Astaghfirullah, Nyonya! nyonya kenapa?" ucap Bik Inah panik melihat Rania yang sudah tergeletak di lantai sambil merintih kesakitan.


"Sakit, Bik! Argh!" pekik Rania sambil memegang perutnya yang terasa semakin sakit.


Bik Inah yang melihat air ketuban Rania yang telah pecah langsung panik. Dia mencoba berteriak memanggil Randy. Randy yang mendengar suara teriakan Bik Inah langsung terbangun dari tidurnya. Dia melihat Rania yang tidak ada lagi di sampingnya langsung panik. Dia berlari keluar dari kamarnya menuju sumber teriakan Bik Inah.


"Den! Nyonya mau melahirkan," ucap Bik Inah ketika melihat Randy yang datang menghampirinya.


Mendengar ucapan Bik Inah Randy langsung menatap Rania yang sudah tergeletak lemas di lantai. Dia langsung berlari mendekati Rania dengan sangat panik.


"Argghhh! sakit, Mas," rintih Rania sambil mengelus perutnya.


"Kau yang kuat, Sayang. Kita akan ke rumah sakit secepatnya," ucap Randy membawa Rania kedalam gendongannya.

__ADS_1


"Bik! tolong jaga Cheesy ya," ucap Randy mengingat Cheesy yang masih tidur di kamar mereka.


"Baik, Den," ucap Bik Inah mengangguk patuh.


Melihat Rania yang terus kesakitan, Randy langsung membawanya menuju mobil. Dia mendudukkan Rania di kursi samping pengemudi. Setelah itu dia langsung duduk di kursi pengemudi dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rania terus berusaha menaha rasa sakitnya karena tidak mau Randy menghawatirkannya. Walaupun Rania berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, sebagai seorang dokter Randy tau persis bagaimana rasa sakit yang Rania alami saat ini.


"Kau yang kuat ya, Sayang. Sebentar lagi kita sampai," ucap Randy mengenggam erat tangan Rania.


Sesampainya di rumah sakit, Randy langsung manggil para suster. Dia berlari memasuki rumah sakit, sambil membawa Rania yang berada di dalam gendongannya. Melihat Randy yang terlihat panik, para suster langsung berlarian ke arahnya membawa bangsal dorong.


Randy meletakkan tubuh Rania di atas bangsal itu lalu membawanya ke ruang persalinan. Randy langsung mengambil alat medisnya. Dia memutuskan untuk membantu persalinan Rania dengan tangannya sendiri. Para suster yang membantunya langsung siap siaga mengambil semua alat medis yang Randy perlukan.


"Sayang! Kau yang sabar ya. Jalannya belum terbuka semua," ucap Randy setelah memeriksa keadaan kandungan Rania.


Dia harus kuat demi buah hatinya. Dia tidak boleh lemah ataupun mengeluh. Randy yang melihat ketangguhan Rania hanya bisa menatap hari perjuangan istrinya itu. Dia mencoba membatu Rania menggerakkan tubuhnya agar rasa sakitnya bisa berkurang. Randy mengelus lembut perut Rania sambil memijit pinggangnya dengan lembut.


"Sayang! kau jangan nakalnya. Kasihan mama harus kesakitan," ucap Randy sambil mengelus perut Rania.


"Sayang! ayo jalan sambil berjongkok. Agar pembukaannya lebih cepat," ucap Randy membantu Rania turun dari bangsalnya.


Mendengar perintah Randy, Rania hanya mengangguk kecil. Dia turun dari bangsalnya lalu mencoba berjalan keliling ruangan itu sambil berjongkok. Randy dengan setia mengenggam kedua tangan Rania agar Rania tidak kesulitan menggerakkan tubuhnya.


Setelah merasa lelah berjalan sambil berjongkok. Randy langsung memerintahkan suster untuk mengambil bola persalinan. Para suster langsung mengambil bola itu dan memberikannya kepada Randy. Randy menyuruh Rania duduk di bola itu lalu menggerakkan pinggulnya. Rania dengan patuh mengikuti semua yang di perintahkan Randy. Sehingga akhirnya pembukaannya dengan cepat terbuka semua.

__ADS_1


"Arghh! Mas, sakit sekali. Aku seperti mau ke toilet," ucap Rania merasa mules pada perutnya.


"Ayo, Kau berbaringlah. Biar aku periksa lagi," ucap Randy memabawa Rania kedalam gendongannya lalu meletakkannya di atas bangsal persalinan.


Randy mengenakan sarung tangannya lalu memeriksa jalan bayi Rania. Randy langsung tersenyum bahagia ketikan jalan keluar bayi telah terbuka semuanya. Dia langsung mengarahkan Rania untuk mangejan dengan baik.


"Sayang! bersiaplah. Kumpulkan semua tenagamu dan ikuti perintahku," ucap Randy mulai mengambil posisi.


"Tarik napas! Buang pelan, tarik lagi, buang, tarik yang dalam lalu dorong kuat,"


Arghhh......


"Sekali lagi, Sayang. Kau harus kuat. Kepala bayinya sudah terlihat," ucap Randy sambil menghapus keringatnya.


"Tarik napas, buang, tarik lagi, buang, sekali lagi tarik kuat, lalu dorong,"


"Arghhh!"


Oe.. Oe.....


Alhamdulillah....


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2