
Tak terasa akhirnya hari pernikahan Arin dan Dirga telah tiba. Acara di lakukan begitu meriah dan juga mewah. Walaupun ini bukan pernikahan pertama mereka, akan tetapi Dirga menyiapkan pesta pernikahan yang begitu mewah. Acara di lakukan di gedung ternama di kita mereka. Bahkan begitu para pejabat, rekan kerja, saudara dan para sahabat langsung berbondong-bondong menghadiri pesta meriah itu.
Bahkan banyak juga bisikan-bisikan yang terlontar dari para tamu. Mereka berbisik-bisik soal masalah perceraian Arin dan Dirga. Bahkan mereka juga merasa sangat bingung kenapa Dirga masih membuat pesta semeriah ini. Bahkan pestanya jauh lebih meriah dari pesta mereka yang sebelumnya.
Hingga akhirnya suara bisikan-bisikan itu terhenti ketika melihat memasuki gedung pernikahan. Acara akad nikah mereka memang telah di lakukan tadi siang, malam ini mereka tinggal melakukan resepsi pernikahan. Arin memasuki lorong pernikahan dengan mengunakan gaun putih yang begitu mewah dan indah. Dia berjalan mendekati Dirga yang telah menunggunya dengan tersenyum bahagia.
Dirga hanya bisa menatap kecantikan Arin dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa bersalah karena pernah menyakiti hati wanita secantik dan juga sebaik Arin. Dia menyambut kedatangan Arin lalu merangkulnya dengan mesra. Mereka berlahan naik ke atas pelaminan dengan begitu mesranya. Namun, saat sampai di atas pelaminan, Dirha malah meninggalkan Arin dan turun dari atas pelaminan itu.
Melihat aksi Dirga, semua orang langsung bertanya-tanya. Dengan seketika acara pesta itu langsung heboh dengan celotehan para tamu. Sedangkan Arin yang melihat Dirga meninggalkannya langsung kebingungan. Dia menatap Rania dan yang lainnya sedang duduk bersama para tamu dengan perasaan cemas.
Melihat kecemasan Arin, Rania langsung memberi kode agar Arin tetap tenang. Melihat kode dari Rania, Arin langsung mengerutkan keningnya binggung. Hingga akhirnya Kebingungannya terpecah ketika melihat empat bocah perempuan yang mengunakan gaun cantik menghampirinya. Siapa lagi jika bukan para bocil pintar itu, mereka berjalan mendekati Arin sambil membawa bunga di tangan mereka masing-masing.
__ADS_1
"Hai, Tante! tante cantik sekali malam ini. Bahkan aura kecantikan tante mampu menutupi aura kecantikan kami yang luar biasa. Tapi tidak apa-apa, asalkan Paman Dirga bahagia kami juga merasa bahagia. Tante memang wanita yang cantik, jadi pantas saja jika tante mendapatkan pria setampan dan juga sehebat Paman Dirga," ucap Aulya dengan mentelnya.
"Karena Paman Dirga juga mencintai tante, maka Aulya akan merelakan calon suamiku itu kepada Tante. Sebelum aku berubah pikiran tolong terima bunga ini ya. Jaga bunga ini dan suami kita baik-baik. Jangan sampai tante menyakitinya. Jika sampai itu terjadi maka Aulya akan turun tangan secara langsung," ucap Aulya kembali sambil memberikan bunga yang ada di tangannya kepada Arin.
Mendengar ucapan Aulya, Arin hanya bisa terkekeh kecil. Bukan hanya Arin, semua tamu juga tertawa mendengar ucapan Aulya yang sudah seperti orang dewasa saja. Sedangkan Zhia dan Rayyan hanya mampu mengelengkan kepala mereka pelan melihat tingkah putrinya itu.
Setelah Arin menerima bunga dari Aulya, Sinta, Yuki dan Fiona juga memberikan bunga yang ada di tangan mereka. Tidak lupa mereka juga mengucapkan selamat kepada Arin dan mencium lembut wajah Arin. Melihat tingkah para bocah itu, Arin hanya tersenyum sambil mencium gemas mereka. Setelah selesai, para bocil itu langsung turun dan kembali ke kursi mereka.
Setelah para bocil perempuan itu turun, Arin kemudian melihat para bocil pria yang datang mendekatinya. Kali ini bukan bungga, akan mereka bernyanyi dengan begitu merdunya. Mereka menyanyikan lagu yang begitu romantis dan juga sangat menyentuh. Dia tengah-tengah nyanyian mereka, Dirga muncul dengan membawa sebuket bungga di tangannya sambil mendekati Arin.
Berlahan air matanya lolos membasahi wajah tampannya, ketika mengingat semua perbuatannya kepada Arin. Bahkan dia bisa merasakan penderitaan yang Arin rasakan selama hidup bersamanya. Melihat tangisan Dirga, Arin dan para tamu langsung menatapnya dengan penuh haru. Bahkan ada juga yang meneteskan air matanya melihat kesedihan Dirga.
__ADS_1
"Tapi aku akan berusaha menjadi pangeran berkuda putih itu. Aku akan berusaha menjadi pangeran yang akan menjadikanmu ratu dalam kehidupanku. Aku akan menjadikanmu satu-satunya di dalam hidupku. Aku akan mengungkir indah namamu di hatimu, sehingga tidak akan ada yang mampu memisahkan kita. Jika aku di berikan satu kesempatan, maka aku akan memilih kembali ke masa lalu dan merubah semua masa lalu kita," ucap Dirga sambil menghapus air matanya.
"Tapi masa lalu tetaplah masa lalu. Kita tidak akan pernah bisa mengubahnya dan mengulanginya kembali. Tapi kita bisa memperbaikinya tanpa harus kembali ke masa lalu itu. Karena tujuan hidup kita bukanlah ke masa lalu, tapi ke masa depan. Ayo kita lupakan masa lalu kita, dan membuka lembaran baru bersama. Ayo kita melangkah kedepan secara bersama-sama, jangan biarkan masa lalu menjadi penghalang masa depan kita," ucap Arin tersenyum sambil menghapus air mata Dirga.
"Aku sudah memaafkanmu dan melupakan semua masa lalu kita. Sekarang ayo kita bangkit bersama-sama, tanpa di hantui masa lalu," ucap Arin tersenyum sambil menatap lekat mata Dirga.
Mendengar ucapan Arin, Dirga langsung menagis penuh haru. Dia menangkup kedua tangannya di wajah Arin lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Maafkan aku, Sayang. Aku mencintaimu. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu," ucap Dirga memeluk Arin dan menciumi wajahnya dengan lembut.
"Aku juga mencintaimu, Sayang," ucap Arin membalas pelukan Dirga.
__ADS_1
Melihat itu, semua orang langsung bersorak ria. Mereka bertepuk tangan dan memberikan semangat untuk Dirga dan Arin. Para bocah juga tidak mau kalah, mereka langsung berteriak sambil memberikan dukungan kepada Arin dan Dirga. Rania yang melihat itu hanya bisa diam sambil menitikkan air matanya. Dia merasa bahagia karena Dirga telah mendapatkan kebahagiaannya walaupun tidak bersamanya.
Bersambung......