
Karena telah mendapat izin dari Randy, akhirnya Rania mengatur pertemuannya dengan Dirga. Mendengar Rania yang ingin bertemu dengannya, Dirga langsung tersenyum bahagia. Dia bergegas menuju tempat yang di katakan Rania. Bahkan dia rela menunda rapat yang akan di laksanakan sebentar lagi.
"Pak! Sebentar lagi rapat akan di mulai. Bapak mau ke mana?" Tanya sekertaris Dirga ketika melihat Dirga keluar dari ruangannya secara terburu-buru.
"Saya ada urusan sebentar. Tunda saja rapatnya sampai dua jam ke depan," Ucap Dirga santai sambil terus mengayunkan langkahnya.
"Tapi, Pak,"
"Tapi apa? Kau itu sekertarisku, jadi kau harus menuruti semua ucapanku. Tunda rapatnya, dua jam lagi aku akan kembali," Ucap Dirga tegas sehingga membuat sekertarisnya itu langsung terdiam.
Tidak mau membuang-buang waktu, Dirga kembali melangkahkan kakinya menelusuri koridor kantornya dengan terburu-buru. Sesampainya di parkiran, dia langsung masuk ke mobilnya dan menatap jam yang melingkar di tangannya.
"Lima belas menit lagi, aku harus sampai di sana lebih cepat," Ucap Dirga menekan pegal gas lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dia tidak mau Rania menunggunya terlalu lama. Dia terus melewati jalanan kota yang begitu padat dengan terburu-buru. Rasa rindu dan juga bersalah terus menyelimuti hatinya. Sehingga membuatnya merasa sangat bahagia ketika Rania mengajaknya untuk bertemu.
Setelah menempuh waktu beberapa menit akhirnya Dirga sampai di sebuah cafe yang telah di janjikan Rania. Dia dengan cepat turun dari mobilnya dan masuk ke cafe itu lalu mencari keberadaan Rania. Dia melihat Rania duduk di sudut ruangan bersama Cheesy. Dengan cepat Dirga menghampirinya dengan senyuman yang mengembang indah menghiasi wajah tampannya.
Senyuman yang telah lama pudar bersama hubungannya dengan Rania. Bahkan Dirga sudah lupa kapan dia tersenyum untuk yang terakhir kalinya. Hancurnya hubungannya dengan Rania membuat kehidupannya juga hancur. Bahkan sampai sekarang dia masih menyimpan nama Rania dengan baik di dalam hatinya.
"Maaf telah membuatmu menunggu," Ucap Dirga dengan napas ngos-ngosan karena berlari.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku dan Cheesy juga baru sampai. Oh ia! Aku sudah memesan makanan dan minuman untuk kita," Ucap Rania tersenyum.
"Baiklah!" Ucap Dirga tersenyum sambil menatap Cheesy yang duduk diam di sofa bayi yang sengaja Rania bawa.
"Dia sangat cantik ya. Bahkan wajahnya sama persis dengan Tika," Ucap Dirga menatap kagum wajah gembul Cheesy yang sangat imut dan cantik.
"Ia! Dia sangat cantik. Bahkan dia sangat beruntung, karena bisa memiliki orang tua yang sangat menyayanginya," Ucap Rania tersenyum.
"Apa kau sangat menyayanginya?"
"Ia! Aku sangat menyayanginya. Bahkan bagiku dia dan Mas Randy adalah hartaku yang paling berharga,"
Jantung Dirga seakan berhenti berdetak medengar ucapan Rania. Dia tidak menyangka jika Rania dengan cepat melupakan dirinya dan menerima kehadiran Randy. Jujur saja, dia merasa sangat terluka ketika mendengar Rania wanita yang paling dia cintai menyebut nama pria lain di depannya.
"Aku senang melihatmu bahagia dengan kehidupan barumu," Ucap Dirga tersenyum terpaksa.
"Tapi aku tidak suka melihat dirimu yang sekarang," Ucap Rania to the point sehingga membuat Dirga langsung terdiam menatapnya.
"Bahkan aku tidak bisa mengenal dirimu yang sekarang. Karena dirimu sekarang bukanlah Dirga yang aku kenal dulu. Dirga yang selalu menghargai wanitanya, dan tidak bisa melihat wanitanya terluka sedikit saja. Tapi sekarang," Ucap Rania menghentikan kata-katanya sambil menatap Dirga dengan tatapan penuh kekecewaan.
Mendengar ucapan Rania, Dirga hanya diam menunduk. Dia tau yang di maksud Rania adalah sikapnya kepada Arin selama ini. Memang dulu dia memperlakukan Rania dengan sangat istimewa. Bahkan dia selalu membuat Rania sebagai prioritasnya. Namun, itu semua karena dia mencintaimu Rania, bahkan sampai sekarang.
__ADS_1
"Ga! Aku tau kau belum bisa menerima takdir kita. Tapi yakinlah jika ini adalah takdir yang terbaik yang Allah berikan untuk kita," Ucap Rania mengengam tangan Dirga.
"Apa kau mencintaiku?" Tanya Rania sambil menatap lekat mata Dirga.
"Ia! Aku sangat mencintaimu. Bahkan sampai sekarang namamu tetap tersimpan dengan indah di dalam hatiku," Ucap Dirga meneteskan air matanya.
"Kalau begitu terimalah kendaraan Arin dan juga bayi yang ada dalam kandungannya. Lalu lupakan aku, dan cintai anak istrimu," Ucap Rania menatap mata Dirga dengan mata berkaca-kaca.
Jujur saja hatinya sangat terluka ketika mengucapkan kata-kata itu. Akan tetapi itu semua demi kebaikan mereka. Di mana mereka kini tidak akan bisa bersatu lagi. Karena jika mereka memilih untuk mengikuti ego mereka, maka akan begitu banyak hati yang akan terluka. Maka jalan yang paling baik untuk mereka adalah perpisahan. Perpisahan untuk kebaikan mereka, walaupun harus menyisakan luka di hati mereka.
"Maaf! Aku tidak bisa," Ucap Dirga melepaskan gengaman tangan Rania.
"Berarti kau tidak mencintaiku," Ucap Rania tersenyum sinis sambil menghapus air matanya.
"Kenapa kau mengatakan itu? Aku sangat mencintaimu, Ra!" Ucap Dirga menatap tajam Rania.
"Jika kau mencintaiku maka ikuti perintah ku. Kembalilah bersama anak istrimu dan lupakan aku," Ucap Rania tegas.
Mendengar ucapan Rania, Dirga hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Dia menatap Rania dengan perasaan hancur. Dia memang sangat mencintai Rania. Namun, untuk menuruti permintaan Rania akan terlalu berat untuknya.
Bersambung......
__ADS_1