Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Melawannya Tak Kenal Takut


__ADS_3

Setelah perintah efek kepanikan, kini akhirnya mobil sudah tergerak melaju pergi, seketika hilang dari pandangan. Dalam hati bermunajatkan doa, agar Dilla dikawal selamat sampai rumah.


"Ayo, kita beri pelajaran pada mereka," suruhku pada seorang pengawal sewaan.


"Baik, bos!" jawabnya setuju.


Helm untuk pelindung kepala segera kami pakai. Tanpa membuang waktu, langsung saja pengawal sewaan kusuruh menyetir motor, agar diri ini lebih leluasa membalas kelakuan musuh. Geram rasanya selalu jadi incaran dia. Dianggapnya kami takut, sehingga dia bebas menyerang.


Tangan sudah membawa pemukul bisbol, yang sempat kupesan dari para pengawal tadi, sebelum mereka datang menjemput. Tidak perlu takut jika dia dipersenjatai pistol. Tidak boleh kalah oleh akal, jangan hanya mengandalkan kekuatan saja.


Dengan laju kendaraan yang berlainan arah, sekarang tindakan ingin memberi pelajaran siap terluncurkan. Ketika sepi kendaraan lain, kami memotong jalan untuk menyebrang. Pumukul bisbol sudah kegegam erat, siap terayun saat mobil musuh tinggal beberapa meter mendekat dari motorku.


"Rasakan ini. Aku tidak akan menyerah untuk mengalahkanmu juga. Jangan pikir kau bisa menang dari kami," Pandangan fokus agar tangan ketika berayun akan tepat sasaran yang ingin kupukul.


Satu tepukan dipundak, anak buah paham kalau aku menyuruh dia untuk menambah kecepatan. Banyak yang membunyikan klakson, saat perjalanan kami menghalangi mereka untuk melaju ke depan. Kami berdua tidak kenal takut lagi. Kaca helm kubuat, berancang-ancang siap meluncurkan tangan.


Bruuk ... braak ... krontang, dengan kuatnya satu pukulan kuat telah mendarat dikaca depan mobil musuh. Menoleh sebentar kebelakang, untuk memastikan kalau tindakan tadi tidak sia-sia.

__ADS_1


Braaak, dengan kasar mobil musuh akhirnya tumbang juga, menabrak sebuah pohon besar dipinggir jalanan. Mungkin pecahan kaca begitu rusak parah, membuat pemandangan sang pelaku tak jelas melihat jalanan, hingga siap tak siap mobilnya penyok menabrak.


Sleot ... brum, dengan mengerem mendadak kini motor kami siap untuk berbalik arah lagi sesuai arus jalanan, yang mana sang pengawal bersama diriku ingin mencoba melihat keadaan musuh. Motor mulai melaju mendekati mobil, yang sudah nampak didepannya telah mengepulkan asapnya.


Tanpa rasa takut, kini aku mencoba turun dari motor, dan berjalan kearah mobil dan mencoba mengintip dikaca hitam mobil, apakah orangnya baik-baik saja atau sudah terluka parah. Terlihat ada dua orang dengan kepala tak berdaya seperti pingsan. Ada beberapa darah kelihatan mulai memgalir dari kening dan hidungnya. Tangan berusaha membuka pintu agar bisa memastikan lebih jelas, namun sialnya pintu tak bisa dibuka.


"Aah, sial ... sial. Kenapa pintunya dikunci dari dalam? Semoga saja dia mati, agar tak bisa mencelakai kami lagi," guman hati yang masih ada rasa gelisah.


"Sial, kenapa orang seakan-akan pada mau kesini? Aku jadi tidak bisa memastikan kalau masih hidup atau mati," Kekesalan.


Karena tidak ingin berlama-lama ada masalah lagi sama itu orang, maka harus gerak cepat menghindar. Ada rasa takut juga, saat semua orang mulai menatap kearah mobil musuh, yang kemungkinan juga ingin melihat keadaan orang didalamnya. Takutnya kalau kami masih disitu, akan dituduh sebagai pelaku utama. Demi keamanan kami harus kabur.


"Baik, bos."


Dengan perasaan lega, kini akhirnya aku bisa menumbangkan musuh, yang tadinya tak mau menyerah terus mengejar ingin membunuh. Namun disisi lain ada rasa cemas juga, sebab lawan tak bisa kukenali dengan jelas siapa dia, apakah benar-benar keluarga orang yang membunuh kakak Dilla untuk balas dendam atau bukan.


Weeesss, dengan rasa sudah tersadar dari lamunan, kini aku dibuat begitu kaget saat ada mobil yang kasar tiba-tiba menyalip kami dengan cepatnya.

__ADS_1


"Bukankah ... bukankah, itu ... itu adalah mobil musuh tadi?" Tebakanku yang tak menyangka.


"Sepertinya iya, Bos. Duh, ternyata dia masih memburu kita. Gimana nih?


"Lajukan motornya dengan cepat. Ayo ... ayo!" Menepuk pundaknya berkali-kali agar segera melakukan apa yang kusuruh.


Hati mulai gelisah lagi, karena musuh ternyata tidak mau menyerah dan kuat tidak ingin mengalah begitu saja.


Terlihat dari jauh, tangan terkeluar sedang menodongkan senjata.


"Awaasss, hati-hati!" Kepanikan saat dia siap membidik kami.


"Aaahh, sial. Kenapa pistol itu siap meluncur?


"Tapi, Bos?"


Dooor ... buuup, tanpa persiapan yang matang, akhirnya sebuah timah panas telah terdarat ditubuh pengawal, hingga tanpa keseimbangan laju motor kami akhirnya mulai tak seimbang, yang lama-lama sepertinya akan terjatuh.

__ADS_1


Sleees, dengan kasar badan motor telah jatuh dibadan aspal secara tak siap, hingga mau tak mau tubuh kami berdua telah terseret jauh menyetuh badan aspal, saat laju motor tadi digas kuat.


__ADS_2