Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Pemotretan Kerja Sama


__ADS_3

Penampilan figuran harus profesional, dan harus tepat dilakukannya didepan kamera. Subjek akan terlihat lebih bagus dan sesuai yang diinginkan. Tubuh tinggi dan semampai, dengan kaki yang lebih panjang dan pinggang lebih ramping, membuat Reyhan nampak perfeck hari ini. Namun demikian, bekerja sama dengan model profesional, pose yang tepat, ternyata bisa lebih mudah diwujudkan, tanpa harus mengatur dan mengajari, sehingga tidak akan memakan waktu yang banyak dan bikin darting orang yang memotret.


Hari ini mengawasi dia untuk melakukan kerja sama pekerjaan. Baju yang dipakai adalah dari hasil perusahaanku. Semua diatur oleh para pegawai, dari lokasi, hiasan, dan merias wajahnya. Semoga ini berhasil untuk mengembalikan nama baiknya. Walau sudah tercemar akut, namun karena sudah mengenal kebaikannya ketika pacaran dulu, apa salahnya jika membantu. Lagian dia sangat butuh pekerjaan itu untuk memyambung hidup.


[Hallo, sayang. Apa masih lama disana?]


Nama suami tertera mesra. Kunamai bocil termanis. Awalnya dia tidak senang, namun hasil rayuan mautku bikin dia pasrah.


[Sepertinya iya. Eeh, ngak tahu dech, sebab ada beberapa majalah yang ingin juga kerjasama mengunakan dia sebagai model utama. Memang kenapa? Hmm, sepertinya sudah ada bau-bau sudah rindu, ya?]


[Mana ada. Buat apa rindu, kalau setiap hari bisa ketemu]


[Hilih, beneran nich. Tapi 'kan dari tadi pagi kita ngak ketemu, cuma mengantar saja habis tuh ngak bersama]


[Ya iyalah, buat apa rindu, kalau setiap saat bisa memeluk kamu]


[Oklah, kalau begitu. Aku pulangnya agak sorean saja 'lah]


[Haist, kenapa jadi sore. Bukannya pemotretan itu hanya sebentar saja?]


[Nah 'kan, ketahuan kalau dari nada kamu rindu pengen ketemu sama istrimu yang tersayang ini]


[Eghem ... hmm, iya aku ngaku kalah. Ya sudah, cepat katakan kapan kembali ke perusahaan. Garing disini sendirian tidak ada kamu]


[Sabar kenapa. Pokoknya janji,kalau sudah selesai langsung kembali ke perusahaan]


[Beneran ya, awas kalau bohong]


[Iya, sayang. Janji]


Nada sambungan diputuskan. Ada-ada saja kelakuan Dio. Kalau cinta pasti bawaannya rindu terus. Kalau ada pasti ada saja hal-hal yang dipertengkarkan, entah itu masalah sepele contohnya masakan, pakaian tidak disiapkan, atau yang lainnya, tapi kalau tidak ada pasti akan dicari-cari bahkan kebingungan tidak tahan ingin ketemuan.


Entah berapa baju lagi Reyhan berganti. Yang jelas dia terus saja berpose didepan kamera. Kelihatannya dia mulai lelah, dari cara dia malas berpose cool lagi.


"Hai, Dilla. Maaf kamu jadi mengawasinya terlalu lama," Sepertinya Reyhan tidak enak hati ketika melihatku berdiri terus.

__ADS_1


Air mineral dia teguk, sampai habis hampir setengahnya. Rasa haus nampak tidak tertahan lagi.


"Eeh, ngak pa-pa, Kok. Ini resiko pekerjaan. Gimana, apa sudah selesai pemotretannya?"


"Mungkin sebentar lagi. Sekarang cuma istirahat sebentar. Lagian lelah juga berpose kanan kiri dan berdiri terus dari tadi."


Kakinya digoyang-goyangkan, tangan direntangkan keatas, kemudian ditarik kaut. Terlalu pegal walau hanya sepele.


"Yang sabar dan semangat, demi karir dan nama baik kamu kembali. Jangan mengeluh apalagi malas-malasan." Tangan terangkat untuk memberikan dukungan.


"Iya, pokoknya aku sangat ... sangat berterima kasih sama kamu, karena sudah membantu sampai sejauh ini. Tanpa bantuan kamu, pasti hidupku akan lebih terpuruk dan sengsara."


"Sama-sama, Rey. Kita adalah teman, jadi apa salahnya jika saling menolong. Tidak usah sungkan begitu, ok."


Sebuah panggilan terdengar memanggil teman modelku. Sepertinya kerja akan dilanjutkan lagi.


"Ya sudah, aku kembali ke pemotretan dulu, seperti akan dimulai. Semoga ngak lama."


"Iya balik sana, gih. Entar, malah kena marah juga."


Komunikasi sangat penting apabila bekerja dengan seorang model. Pada saat yang sama, penting juga untuk menjalin hubungan baik dengan subjek. Hal ini membantu membuat mereka santai dan terbuka, sehingga pada gilirannya akan menghasilkan foto potret wajah yang lebih baik.


Beberapa menit kemudian, akhirnya selesai juga. Reyhan langsung menghampiriku, yang tengah bersiap kembali ke perusahaan. Tas selempamg sudah bertengger dibahu.


"Wah, mantap dan keren kerja kamu hari ini. Senang lihat pose kamu hari bagus-bagus semua."


Pujilah mereka sebanyak mungkin.


Setiap orang senang disanjung, bahkan untuk hal-hal yang sepele sekalipun. Lakukanlah sebanyaknya, mungkin ini akan membantu membuat suasana pemotretan lebih menyenangkan dan membangkitkan rasa percaya diri sang model.


"Makasih tuan putriku yang cantik."


"Hah, maksudnya apa nih? Kok kamu manggil--?"


"Hehehhe, kelupaan. Dulu 'kan aku sering bilang begitu. Masak kamu lupa ketika masa kita pacaran."

__ADS_1


"Enggak juga sih, tapi status kita sudah beda sebagai teman saja."


"Iya, sangat paham. Oh ya, kamu mau balik keperusahaan 'kan? Gimana kalau aku antar saja?"


"Enggak usah. Malah bikin kamu repot nanti. Lagian kamu pasti lagi capek banget 'kan?"


"Ngak pa-pa, Kok. Bukankah kita searah jalannya. Daripada kamu naik taxi. Emm, tadi ke sini diantar sama suami kamu 'kan?"


"Iya juga sih. Kalau kamu ngak merasa direpotkan, ya ayo."


"Oke. Let's go."


Senyuman manisnya memperlihatkan kalau dia sekarang sudah kembali bersemangat.


Dari pada tidak aman naik taxi. Memang lebih baik diantar Reyhan saja. Lagian dia orang baik, jadi tidak akan melakukan hal yang tak diinginkan. Beberapa menit kemudian, kami sampai juga ditujuan. Jalanan yang tidak begitu macet, membuat lebih sampai cepat.


"Thanks ya, sudah repot mau mengantar," Berbicara sambil melepas sabuk pengaman.


"Iya sama-sama."


Kubuka pintu mobil. Kaki sebelah terjuntai ingin segera keluar.


"Eeeh, tunggu Dilla."


Reyhan tiba-tiba menarik tanganku, dan secara kilat dia mencium bibir yang sedang merah merona akibat lipstik.


Plak, kutampar pipinya, akibat tidak terima yang dia lakukan.


"Kamu jangan kurang ajar, Rey. Mentang-mentang kita sudah berbaikan, kamu seenaknya melakukan hal ini," Emosi begitu memuncak.


Bibir langsung aku lap kasar menggunakan tangan, rasanya tidak rela saja jika disentuh oleh mulutnya.


"Maafkan aku, Dil. Aku sangat merindukanmu."


"Maaf juga, aku bukan perempuan mur*han, dan kamu tahu sendiri kalau aku sudah punya suami. Jadi jangan pernah kau lakukan hal barusan itu lagi, atau aku akan berbuat sesuatu yang tidak pernah kau pikirkan. Cam 'kan itu!" acam dia ketika emosi sudah naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa menahannya," Tertunduk lesu dengan memasang wajah memelas.


Kutinggalkan dia cepat-cepat, sebelum suatu hal yang tak diharapkan akan terjadi lagi.


__ADS_2