Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Berani Mangusai Bibirnya


__ADS_3

Ceklek, pintu telah terbuka, dengan Dilla sudah sibuk menatap keindahan pemandangan diluar kamar dari balik jendela. Tanganpun telah selesai meletakkan koper pakaian dekat lemari yang disediakan hotel. Akibat ada beban pikiran yang sedikit sedang mengacau, melangkah menuju ranjang, lalu menjatuhkan bobotku di situ, untuk memulihkan sejenak pikiran dan tenaga yang kelelahan.


"Apa yang harus kulakukan? Hhhh ... apa yang harus kulakukan untuk menaklukkan hati istri, biar nanti aku bisa menguasai dalam diri Dilla seutuhnya?" Bathin hati galau dengan pikiran yang melayang-layang.


Badanpun segera kubangkitkan dari tergeloknya kasur, yang kini melihat kearah Dilla yang masih saja sibuk dengan tatapan kosongnya melihat kearah luar. Kaki berusaha kulangkah dekat dengan Dilla, dengan tangan tanpa ragu lagi untuk memeluknya dari belakang.


"Maafkan aku, jika ada salah sama kamu. Tak sepatutnya aku melakukan itu, hanya gara-gara keinginan tahuku dalam kediamanmu tidak bercakap padaku tadi."


Mengalah demi kuutuhan cinta kami dalam permulaan menjalin hidup bahagia berumah tangga.


"Tak sepatutnya kamu meminta maaf, justru akulah yang kemungkinan terlalu membesarkan ego hingga merajai jiwa, dengan memunculkan desiran kemarahan," jawabnya serius.


"Ooh, memang kamu marah kenapa? Apa gara-gara aku dekat dan sudah ngobrol sama Maya tadi?" tanyaku yang berhasil mencari sebabnya.


Suka mengodanya. Bagiku hal yang paling kusuka, saat mulut wanitaku itu adalah mulutnya bagaikan sudah dikucir. Tidak ada senyum sekali, namun selalu baper.


"Tahu pun. Kalau sudah tahu ngapain tadi nekat mau nyosor saja?" imbuhnya bertanya.


"Sebab ingin!" jawabku santai.


"Ciiiiieh, dasar pembohong. Kamu itu ingin tapi malu, sama aja bohong, Mas Dio!" jawabnya manja yang mengelus pipiku pelan, saat kepala kusandarkan mesra dibahunya.


"Hehehee," jawabku cegegesan.


"Apapun yang kau miliki boleh kumiliki selamanya. Wajarlah aku ingin mencobanya."


"Dih, mencoba tapi dia ketakutan sendiri."


"Mana ada. Mau coba."


"Ogah, kamu saja masih banyak keraguan."


Tangan lembut itu menjewer pipi dengan sayang. Sepertinya yang dikatakan Dilla ada benarnya. Butuh extra keberanian agar dia bisa luluh juga.

__ADS_1


"Ayo kita makan saja! Dari berangkat dari Indonesia sampai datang ke kota ini, perut belum terisi makanan sama sekali," pinta Dilla.


"Ayo!" jawabku menyetujui.


Pelukan yang sempat menghangatkan kisah kami, kini kulepas untuk melangkah menuju restoran hotel. Tangan kami tak lepasnya terus sama-sama mengenggam erat, dengan obrolan kami yang tak lucu tapi terus saja bibir kami tersenyum lebar, akibat rasa romansa bahagia pernikahan yang sekarang ini terjadi.


"Kamu mau makan apa?" tanyaku saat melihat buku menu.


"Terserah apa aja, yang penting sekarang ini aku mau merasakan semua menu dari serba daging saja, sebab entah mengapa hari ini pengen makan menu-menu itu," ucap Dilla menerangkan.


"Ok, baiklah. Kita pesan saja sesuai keinginanmu," jawabku menyetujui.


Tak butuh waktu lama hidangan kini telah berada dimeja setelah beberapa menit kami pesan. Semuanya serba dari bahan daging, namun berbeda-beda menu cara memasaknya.


"Hai Dio?" sapa seseorang.


Betapa terkejutnya diri ini saat menoleh ke arah sumber suara, yang mana terlihat ada Maya tepat berada ditempat duduk kami.


"Hai juga," balik sapaku dengan tersenyum ramah.


"Bolehkah aku bergabung dengan kalian makan disini? Lihat! Semua meja sekarang telah penuh didudukki para pengunjung. Ngak enak kalau ikut numpang gabung duduk sama orang yang tidak kukenal. Heeh, untung saja tadi aku melihat kamu ada disini. Sungguh suatu takdir yang tak terduga, bahwa kita dipertemukan lagi disini," cakap panjang lebar Maya.


Wajahku kini melihat orang yang duduk didepanku yaitu istri sendiri. Terlihat mukanya sudah menampakkan ketidaksenangnya atas kedatangan Maya. Namun terlihat Dilla begitu tak ambil peduli atas pertanyaan Maya, hingga akupun binggung harus membuat keputusan apa? Kepala kugaruk lama yang padahal tidak gatal sama sekali.


"Hallo ... hallo, Dio. Bolehkah aku duduk disini sama kalian?" tanya Maya lagi.


"Ooh, boleh ... boleh! Silahkan," jawabku yang tersadar melamun menatap Dilla.


Klotek, suara sendok dibanting kuat oleh Dilla kepiring makannya, hingga akupun seketika melihat ke arahnya akibat kaget. Mendelikkan mata. Wajah itu nampak ingin menerkam saja. Tidak ada bagus-bagusnya, yang ada membuatku bingung saja.


"Kalian boleh makan sepuasya, sebab aku rasanya sudah kenyang. Maaf permisi dulu, silahkan duduk disini, Maya! Hmm, puas-puasin makananan, ya!" Keramahan dengan muka masam, telah ditunjukkan Dilla.


Tanpa berucap sepatah katapun kepadaku, sekarang Dilla sudah nyelonong pergi saja dari hadapanku. Sungguh sial dalam situasi ini. Pikiran kalut jika susah untuk menjelaskan. Cukup sadar diri jika keputusan tadi salah, membiarkan wanita lain ikut serta dalam moment berdua kami.

__ADS_1


"Maafkan aku Maya, sebab tak bisa menemani kamu makan. Permisi dulu, maaf ... maaf banget," ujarku pamit.


Sebelum Maya menjawab, akupun langsung bergegas mengejar Dilla yang sudah hilang dari pandagan netraku.


"Tunggu ... tunggu .... tunggu, sayang!" panggilku berulang kali pada Dilla yang kelihatan sedang ngambek, dengan langkahnya terburu-buru biar aku tak berhasil mengejarnya.


"Ngapain sih ngejar, sono noh temenin teman kamu yang lagi butuh belaian teman," ketus Dilla yang kini memperlambat jalannya.


"Tunggu dulu 'lah! Kita bicara baik-baik," cegahku yang sudah mencekal lengan tangannya.


"Ngak perlu."


"Tapi kamu butuh penjelasan."


"Haaaist, ada apa lagi sih! Lepaskan tanganku," pintanya dengan nada marah.


"Aku ngak akan melepaskanmu, sebab kamu adalah yang terpenting dalam hidupku sekarang ini. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi tanpaku, paham!" jawabku serius, dengan cepat-cepat menarik telapak tangannya untuk kugenggam erat menuju masuk kamar hotel.


"Jangan cepat-cepat, Dio! Aku kewalahan nih" pinta Dilla yang tidak bisa mengimbangi langkahku.


Sepatah ucapanpun tak keluar dari mulutku, yang mana diri ini tengah sibuk tetap ingin menarik tangan Dilla. Sedikit tidak suka cara dia menjawab. Sebagai pria seharusnya dihormati, walau semarahpun itu tetap derajat istri harus melemah lembutkan berbicara.


Ceklek ... braaak, pintu kubuka kasar, yang kemudian kututup secara cepat dan kuat.


Cuuup, dengan tanpa persetujuan Dilla, bibirku telah berhasil kudaratkan mengenai tepat dibibirnya. Dilla terlihat membelalakkan mata, saat aksiku begitu bringas dan tak sabarnya merasakan kehangatan kulit manis dari bibirnya. Nafas terus menderu. Badan mulai panas dingin. Kucoba rendamkan dengan membringaskan aksi. Sempat kewalahan mengimbangi ciuman yang tak sabaran ini.


Perlahan namun pasti ternyata Dilla sekarang bisa mengimbangi aksiku yang terus saja saling m*lum*tkan bibir diantara kami. Kutatap muka Dilla yang putih kemerahan khas gadis luar negeru. Kata cantik dan manis masih pantas disematkan untuknya.


Rasa manis nan harum dari mulutnya telah membuat candu, seakan-akan sayang sekali untuk segera melepaskan aksi brutal kami. Balasan demi balasan lidah makin menghilangkan kendali. Berhenti sejenaj untuk menghirup udara, karena nafas mulai tersendat-sendat tak bisa benar mensta aksi. Entah kekuatan dari mana, tanganku tiba-tiba tergerak untuk mengelus perlahan belakang punggungnya, hingga getaran sesuatu yang merajai jiwa begitu aneh dan terasa baru pertama kalinya tengah terjadi.


*********


Hayo mereka mau ngapain ya? Ojo baper-baper🏃🏃🏃awas ketularan aksi Dio dan Dilla. Tunggu kebaperan lainnya😁

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir ke karya rempahan rempeyek punya saya. Semoga menjadi berkah atas like, coment, vote kalian yang diberikan untuk author ini. Semoga dukungan kalian, diganti oleh Allah dengan sesuatu yang luar biasa yang tak disangka-sangka dari arah manapun datangnya yaitu REZEKI, Amiiiiiiiiiiiiiiiin ya robbal alamin.


__ADS_2