Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Kesengitan Dikejar Musuh


__ADS_3

Dengan cara ngebut sekarang motor sudah berjalan dengan kekuatan penuh, untuk menghindari mobil hitam dibelakang kami yang sudah ngebut juga terus mengikuti kami.


Dengan sialnya orang yang mengendarai mobil itu, berkali-kali telah meluncurkan pelurunya ke arah kami.


Pletak, timah panas berhasil mengenai badan belakang motor kami lagi.


Tangan Dilla begitu kuatnya memeluk perutku, yang nampak dia begitu ketakutan. Berkali-kali kepala berusaha menengok ke arah belakang, untuk mencoba melihat apakah musuh masih tidak mau menyerah mengejar kami.


Sebab musuh nampak tak mau diam ingin mencelakai kami, dengan terpaksa motorpun gasnya kuputar kuat dengan full kekuatan penuh, agar bisa leluasa berjalan melewati mobil-mobil didepan kami yang mencoba menghalangi laju motor.


Motor berkali-kali telah berseleat-seleot mengatur perjalanan, agar tidak bisa menabrak mobil orang lain yang sedang melaju cepat juga.


"Coba kamu telepon pengawal yang diperintahkan papa untuk mengawal keselamatan kita," suruhku pada Dilla dengan membuka kaca helm agar dia bisa mendengarkan lebih jelas perintah.


Mulutnya mendekat ditelinga, agar bisa kudengar baik.


"Emm, baiklah."


Kini tangan Dilla sudah sibuk mencari gawai, yang dia simpan dalam tas selempangnya. Panik, membuat dia lama mencari nomor-nomor para bodyguard.


Suara nada panggilan sudah berbunyi, dan langsung saja kuambil earphone yang disodorkan Dilla untuk dipasang ditelinga ketika helm terlepas. Tangan masih sibuk menyetir, dan semua dibantu Dilla. Motor mulai kulajukan pelan, ketika jarak antara mobil musuh agak jauh. Biarpun kena tilang, yang lebih utama segera meminta bala bantuan dulu.



[Kalian cepat datang kejalan raya xxx yang hampir dua puluh kilometer kami baru memasukinya, sebab ada orang yang berusaha mengikuti kami]

__ADS_1


[Baik ... baik, bos. Kami akan secepatnya menyusul ke sana]


Tut ... tut, dengan segera telephone kumatikan, sebab pandangan masih fokus kearah jalanan, saat musuh masih saja sibuk mengejar kami.


Helm kukenakan lagi. Selain menjaga keselamatan, nanti takut kena teguran polisi. Terus tancap gas, agar bisa banyak waktu untuk penukaran.


Hampir lima belas menit berkutat dalam perjalanan, hingga pada akhirnya nampak mobil yang berisi pengawal bayaran yang berlainan arah dari posisi kami, telah cepat tiba menjemput.


"Kamu akan kupindah tempat, untuk ikut mereka sekarang," suruhku dengan berbicara bernada mengeraskan suara.


Laju motor masih standar, tapi angin yang menerpa kencang membuat suara pecah tidak jelas jika didengarkan.


"Tapi, Dio. Bagaimana dengan kamu?" tanya istri khawatir.


"Baiklah, kalau menurut kamu bagus dan diri ini bisa aman," jawabnya yang akhirnya menurut.


Tanpa rasa takut kini aku berusaha memotong jalan, dengan tangan memberi aba-aba dulu pada mobil pengawal sewaan, agar segera mendekat pada laju motor kami. Sempat banyak yang menekan bel, karena berusaha membahayakan mobil lain, ketika motor menyeberang mendadak.


Untung saja jarak musuh dengan motor kami tadi sedikit jauh, hingga dengan rasa lega bisa menyuruh Dilla segera ikut masuk mobil. Semua harus gerak cepat, agar musuh tidak menyerang secara brutal.


"Kalian jaga istriku dengan baik. Antarkan dia sampai ke rumah dengan aman. Kalau ada apa-apa segera hubungi tuan besar dan kerahkan pengawal lain untuk menjaga," perintahku pada sekitar empat pengawal yang datang menjemput.


"Siap, bos!" jawab mereka kompak.


"Tapi, Dio. Apakah kamu tak mau ikut untuk masuk mobil?" tanya Dilla ada guratan aneh dan cemas.

__ADS_1



"Untuk sementara ini, aku tak akan ikut kamu sebab ingin memberi pelajaran pada musuh itu dulu," jawabku menyimpan guratan kekesalan.


Rasanya masih ada dendam yang tersimpan dihati. Belum puas jika membuat musuh terkapar, ketika kemarin-kemarin berani membuat Dilla terluka parah.


"Tapi, Dio. Aku tidak mau kamu kenapa-napa, apalagi nanti sampai celaka ataupun terluka," ucap Dilla begitu khawatir.


Sangat paham apa yang menjadi kegelisahannya, namun yang utama sekarang dia harus dalam keadaan baik. Jangan sampai yang kedua kalinya mengalami luka.


"Doakan saja aku baik-baik saja. Lagian kamu tidak usah berlebihan khawatir begitu, karena diri ini yakin dan lihai bisa mengatasinya," jawabku mencoba menenangkannya.


"Tapi, musuh itu tidak bisa diremehkan. Aku takut,"


Matanya nampak berkaca-kaca, sepertinya tidak tega membiarkan diri ini menghadapi sendirian. Jika tidak dilawan, pasti musuh akan semakin bringas memburu kami. Dipikirnya kami manusia lemah, yang bisa dianggapnya enteng takut oleh serangan-serangan dia. Justru dengan melawan, kami ingin menunjukkan kalau bisa mengalahkan dia, walau musuh lihai dalam hal apapun itu.


Keningnya yang harum bau shampoo kini telah kukecup mesra, dengan maksud agar bisa sedikit mengurangi kekhawatirannya padaku.


Kugenggam erat tangannya, untuk terus menyakinkan bahwa suaminya ini bisa menghadapi musuh yang dipersenjatai timah, yang bisa-bisa melukai tubuh ini saat peluru itu bisa tembus melesat masuk ke dalam kulit.


"Ayo ... ayo, cepat ... cepat kalian bawa Nyonya dari sini," perintahku panik ketika melihat mobil musuh sudah mulai mendekat.


Bhug, dengan kuat pintu mobil kubanting.


Bruk ... bruk, dengan kasar tubuh badan mobil telah kugebrak, agar pengawal sewaan segera membawa pergi jauh. Semoga tidak ketahuan, ketika mobil kami dan musuh telah bersimpangan jalan, bahkan dekat sekali jarak antara kedua mobil jika mengenali.

__ADS_1


__ADS_2