Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Membeli Baju


__ADS_3

Ketika keluar kamar tidak sengaja kami berpapasan, sehingga mau turun ke lantai bawah secara bersamaan berjalan. Terlihat dari jauh calon mertua tengah sibuk membaca koran, sambil menyruput sebuah minuman yang tersedia dalam cangkir. Dilla hari ini cuti kerja, jadi bisalah kami berdua akan menghabiskan waktu bersama-sama seharian.


"Wuiiih, menantu Mama hari ini tambah cakep aja nih!" puji calon mertua perempuan, saat diri ini menemuinya yang tengah santai duduk disofa ruang tengah.


"Dari dulu Dio itu memang tampan, ngak usah lebay gitu, kenapa! Ayo cepetan kita berangkat, Dio!" ketus jawab Dilla pada mama mertua.


Tangan sudah menyalami beliau. Sambutan hangat dari beliau. Tangan lembut namun sudah berkerut,sangat menguarkan handbody aroma khas bunga mawar.


"Ayo cepetan. Jangan lama-lama disini, bisa-bisa mamaku akan embat kamu juga," ucap Dilla yang kini telah menarik tanganku.


"Hei, anak kurang ajar. Mama sendiri dikatain, sini kamu!" Kamarahan mertua tak suka.


Aku hanya bisa tertawa geli melihat tak akurnya antara ibu dan anak ini. Langkah sudah berjalan tergesa-gesa akibat Dilla menarikku kuat untuk tetap mengikuti jalannya.


Klek. Pintu mobil kubukakan untuk Dilla.


"Terima kasih," ucapnya ketus.


Kaki sudah dengan cepat memutari mobil dari belakang untuk segera masuk. Kelihatan muka Dilla kini masam tak sedap sekali untuk dipandang.


"Kamu kenapa sih! Sensi amat. Mama tadi itu hanya bercanda, jangan dimasukkan di hati," keluhku yang kini sudah melajukan mobil.

__ADS_1


"Gimana tak suka, masak mama sendiri ngomong ceplas-ceplos kayak gitu, kan akunya jadi gedek tak suka," jawabnya sudah memonyongkan bibir.


"Heeeh, iya ... ya. Mama memang salah bicara kayak gituan, lagian aku tak akan berpaling darimu, jadi tidak usah khawatir terlalu berlebihan kayak gitu," ujarku telah mengelus pipinya menggunakan satu tangan, sebab tangan satunya telah memegang kemudi.


"Hihihihi, iyakah? Awas saja kalau kamu bohong, kamu tahu apa ini 'kan!" cakap Dilla menunjukkan kepalan tangan.


"Waaah, sadis banget! Oke ... okelah, aku tak akan menghianati cinta kamu," jawabku serius.


"Makasih Dio, ternyata orang tua kita tak salah menjodohkan. Heem, apakah ini yang dinamakan takdir ya?" ucapnya.


"Mungkin, sebab takdir itu adalah sebuah rahasia ilahi," jawabku.


Akhirnya kami sampai juga ke tempat fiting baju, yang sebelumnya telah di boking oleh orang tua Dilla. Lagi-lagi aku harus memutari mobil, untuk segera membukakan pintu untuk Dilla yang ingin turun dari mobil.


"Aku suka yang elegan tapi simple," jawabku.


"Oowhh."


"Mbak, pilihkan baju pengantin yang simple tapi elegan dan pastinya muat dibadanku," suruh Dilla kepada pegawai toko.


"Mari mbak, coba kesini! Akan saya tunjukkan baju yang anda maksud," jawab pegawai toko.

__ADS_1


Akupun hanya nengikuti langkah Dilla dari belakang, saat diapun sedang sibuk mengikuti langkah pegawai toko. Mata tak lepas untuk terus melihat baju-baju pengantin yang kelihatan begitu mewahnya.


"Wah, baju-baju ini kelihatan mahal sekali! Apakah ini ngak terlalu berlebihan? Heeh, tapi apalah dayaku saat calon mertua bersikukuh membiyai semuanya," keluhku dalam hati.


"Dio, enaknya yang mana?" Suara manja Dilla bertanya.


"Emm, dua-duanya bagus. Tapi aku suka yang putih itu, kelihatan cocok sekali untuk kamu pakai," jelasku.


"Oh ... ok."


"Mbak, saya ambil yang putih ini saja. Kata calon saya, aku cantik sekali pakai yang putih ini," ucap Dilla pamer. Pegawai toko sudah tertawa kecil dan rasanya aku malu sekali.


"Ya ampun, sayang. Kenapa bilang begitu, padahal aku ngak bilang begitu, percaya diri amat kalau kamu cantik," keluhku berucap saat pegawai toko pergi membungkus pakaian.


"Aku harus memuji diri sendiri, sebab kamu jarang bilang aku kayak gitu. 'Toh pada kenyataannya aku memang cantik, karena kalau ngak cantik mana mungkin kamu mau sama diriku," jawabnya yang super pintar.


"He'eh, memuang cantik. Hingga akupun kesemsem sama kamu," pujiku mengajak bercanda.


"Hihihii, masak."


Urusan memilih bajupun telah selesai, dan kamipun meluncur ke tempat lain lagi untuk melakukan proses Foto praweding. Sungguh ini semua diluar dugaanku bahwa semuanya serba mewah, dengan hati sudah ciut merasa tak percaya diri atas semua yang dilakulan keluarga calon istri.

__ADS_1


Dilla lagi-lagi berfoto menggunakan gaun putih yang kontras dengan kulit ayunya. Akupun merasa bahagia mendapatkan istri yang ternyata mencintai pria sepertiku, yang miskin tak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia.


__ADS_2