
Kekecewaan itu membuatku harus tergolek tak berdaya tiduran di keramik. Ketika bangun memegangi kepala yang teramat sakit. Ingatan akan penghiatan terekam jelas di ingatan.
Entah, bingung juga antara menerima dan tidak kenyataan itu, jadinya aku hanya terus mematung. Mungkin, bukan tentang komitmen rasa cinta dalam diri kami, tapi ulah Dilla itu seolah-olah tak lagi menghargaiku sebagai suami.
Rasa haus ditenggorokan membuatku harus terbangun. Berhenti sejenak dipintu, takut jika bertemu Dilla pasti akan lebih sakit, hanya karena melihat wajahnya saja.
Ceklek, kubuka pelan pintu.
Deg, begitu kaget juga melihat dia tergolek tiduran diubin keramik, didekat pintu. Matanya yang sembab nampak bikin muka kusut. Serasa diruangan sempit ketika melihatnya. Aku terhimpit, dan mulai merasakan susah untuk sekedar bernafas saja.
"Selamat atas penghianatanmu yang sudah membuatku kecewa, dan terima kasih sudah mengingatkanku akan kesadaran tentangmu."
Hati kian gudah gulana. Kembali hati dilanda nestapa. Ingin rasanya kulupakan masalah ini mati-matian, tapi semua terus kembali memutar diingatan.
Tidak tega melihatnya jika nanti masuk angin akibat tiduran dibawah, maka sepelan mungkin ingin mengangkatnya dipembaringan, yang dulu selalu dihiasi kebahagian, namun yang ada sekarang malah tak sudi lagi jika ingin masuk kedalamnya, kini keadaanlah yang membuat terpaksa.
Nafas kasar kuhempaskan lewat indra penciuman. Melihat wajahnya ada rasa iba, namun rasa sakit ini tak bisa ditoleransi lagi.
"Kau kemarin adalah milikku seutuhnya, namun belakangan aku sadar, ada orang lain yang berusaha mencurimu dariku. Apakah kau mulai terlalu muak dengan perjodohan kita, sehingga belakangan kau tega menyembunyikan perselingkuhan kalian?
"Sakitnya bagai tertusuk ribuan jarum, tidak sebanding dengan sakitnya melihatmu selingkuh di depan mataku."
Koper kuseret perlahan dari persembuyian disamping lemari, takut jika membangunkan dia. Baju satu-persatu mulai kuambil. Untuk sementara aku harus pergi dulu dari hadapannya, mungkin aku atau dia butuh untuk merenungi kesalahan masing-masing. Diri ini telah lalai menjaga, dan dia telah lupa menjaga kehormatan sebagai seorang wanita.
__ADS_1
"Aku memang tidak tampan, tidak rupawan, tidak menarik dimatamu, dan banyak uang. Tapi ada hak yang tidak kau penuhi untukku. Yakni kasih sayang dan kesetiaan."
Pintu mulai kututup. Wajahnya yang tertidur pulas, perlahan namun pasti menjadi yang terakhir kulihat. Entah sampai kapan, yang jelas menghindarinya dulu itu keputusan tepat saat ini. Sama-sama harus ambil langkah aman.
Tes, sudut pelupuk mata tak tertahan lagi menitikkan airnya.
"Maafkan aku yang sementara ini meninggalkan kamu sendirian. Dengan kita saling berjauhan begini, mungkin kamu akan sadar kesalahan itu."
Kuat tak kuat, tetap harus meninggalkannya sendirian. Jalan pertama tujuan adalah rumah orantua.
Disana bisa menenangkan jiwa dan pikiran dulu. Siapa tahu ada nasehat dan langkah-langkah bisa kuambil selanjutnya, setelah ceramah orangtua yang selalu sabar menjalani hidup ini. Mungkin harus banyak belajar dulu dari para orangtua agar rumah tangga adem ayem, tidak ada gangguan, bahkan seperti keadaan sekarang diterpa badai perselingkuhan, itu bagaimana?.
Tin ... tin, klakson kubunyikan agar orangtua tahu kalau anaknya sekarang sedang bertandang. Koper untuk sementara sengaja tidak kubawa, takut kalau mereka malah akan semakin marah, ketika dianggap kabur tidak bisa menyelesaikan masalah. Pikiran kusut, butuh beberapa asupan ketenangan dan kedamaian.
Mencium takzim kedua tangan mereka.
"Lagi kangen saja, Bu. Jadi malam-malam begini sengaja bertandang."
"Lalu mana menantu Ibu, kok dia ngak kelihatan?" Beliau clingukkan melihat ke arah mobil.
"Maaf, banget, Bu. Dilla, tidak bisa ikut sebab dia lagi banyak kerjaan," Terpaksa berbohong.
"Duh, sayang banget. Padahal, Ibu kangen banget sama mantu yang paling cantik sedunia itu," puji beliau.
__ADS_1
"Lain kali saja akan Dio, bawa kesini. Mungkin waktunya tidak tepat. Lagian masakan Ibu nomor satu, jadi beberapa hari kedepan ingin mencicipinya."
"Aaah, kamu bisa aja nih memuji." Beliau menepuk pelan bahu.
"Sudah, kalian tidak usah ribut-ribut malam begini, takutnya kena omelan tetangga juga, karena suara kalian berdua terlalu berisik," simbat Bapak.
"Aah, Bapak ini. Namanya lagi juga kangen-kangenan."
"Iya, Bapak tahu. Tapi ngak enak hati jika kita kena tegur tetangga, labih baik Bapak negur kalian duluan."
"Iya ... iya, Pak. Ngak usah sewot segala."
"Dih, Ibu ini. Bukan sewot, tapi menegur, paham? Lagian anak baru saja datang bukannya diajak masuk dulu, tapi malah dikasih pertanyaan seabrek."
"Hehehe, iya ... yah. Ya, sudah kita sekarang masuk semua. Sudah malam ini, hawanya dingin sekali diluar."
"Baik, Bu." Memberikan senyuman paksa.
Rasanya tidak ada daya lagi untuk tertawa, ketika hati telah hancur berkeping-keping. Tidak ada suami yang menginginkan ini semua terjadi, namum masalah kali ini mungkin mau mencoba menguji dan meningkatkan kwalitas keimanan serta kesabaran.
Didalam kamarpun tidak bisa tidur tenang. Pikiran terus terganggu dan melayang-layang entah kemana. Banyak sekali pertanyaan dan jawaban yang harus dibuktikan.
"Rasanya aku sudah lelah dengan perilakumu akhir-akhir ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk tetap mempercayaimu, namun sayang aku tidak bisa menahan rasa kecewaku padamu. Semoga kau terus mengingat bahwa titik tertinggi dari kecewa adalah tidak peduli lagi. Maaf, jika aku harus pergi tanpa memberitahumu dulu."
__ADS_1
Beberapa dari bekas luka lama belum sepenuhnya sembuh total. Ia dapat merekah dan berdarah lagi hanya karena ucapan yang sangat enteng, maka untuk sementara menghindari perdebatan hebat. Takut kalau salah ucap berbicara maka pertengkaran tidak akan berujung, malah kami akan sama-sama tersakiti hanya karena lidah yang tak bertulang ini. Bisa saja sebab emosi tidak terkontrol bisa jadi perkataan meleset kemana-mana, bahkan bisa mengungkit masa lalu yang tak perlu diungkit lagi.