
Kini hampir satu bulan penuh, dengan herannya musuh tak ada pergerakan untuk menyerang, hingga hati sempat bertanya-tanya apakah dia memang takut sebab ada pengawalan ketat dari kami, atau sedang merencanakan sesuatu yang bisa-bisa membuat kami kewalahan menghadapinya nanti, namun walau begitu aku tetap tak boleh lengah untuk terus menjaga keselamatan istri.
Dengan secangkir kopi dalam menemani suasana menatap keindahan alam diluar gedung perusahaan, sekarang kinerja otak sedang berpikir keras memikirkan tindakan apalagi yang dilakukan musuh nanti.
"Kemana kau, musuh? Kenapa kau tidak muncul lagi? Sangat menunggu kedatangan kamu lagi. Cepatlah muncul, agar bisa menghajarmu sampai puas."
Tidak sabar ingin melayani dia lagi. Tangan mulai merasakan gatal, ingin memberikan mahakarya luka memerah pada wajahnya.
"Andaikan aku tahu tempat persembunyianmu, maka tidak perlu menunggu lama agar bisa membuatmu kewalahan menghajar."
Setiap hari berlatih ilmu bela diri. Kekuatan harus ditambah dan dipersiapkan, supaya bisa mengimbangi musuh yang kuat. Mertua telah menyewa sifu yang terbaik, dan sempat kelelahan ketika mengusai teknik berkelahi yang rumit, namun ketika terus berusaha tetap bisa mengusainya dengan mudah.
Membanting, mematahkan, dan bergerak cepat dari lawan adalah teknik dasar utama yang harus dikuasai. Jika salah melakukan pelatihan, tak segan-segan kena marah dan suruh mengulang berkali-kali. Hal yang penting adalah tidak menyerah dan terus berusaha belajar.
Kini hari-hari terus saja dipadati, oleh aktifitas membantu istri kerja dan menjaganya, walau harus disela-sela belajar teknik beladiri yang benar. Kalau bisa membagi waktu untuknya juga harus diperhatikan.
"Yes, akhirnya ada waktu juga menemui kekasih hatiku," Berjalan bersiul sebab terlalu gembira.
Setelah dirasa fress dan nyaman dalam menghadapi masalah yang terjadi sekarang, kini langkah kaki sudah berjalan untuk menuju ruangan istri yang sedang berkerja. Tak butuh lama untuk sampai ke tempat tujuan, sebab jarak tempat yang sempat kusingahi tadi tak begitu jauh.
"Semoga dia akan kaget jika kubuat kejutan begini, hihihi! Siapa suruh disuruh kerja diruangan lain. Tunggu kedatanganku, sayang!" Dalam hati merasa senang.
Segaja tidak memberitahu. Pasti kalau dia uring-uringan sangat lucu, dan aku suka itu. Wajahnya mengemeskan kalau sedang cemberut. Bisa bermanja ria sama dia, kalau sudah ngambek. Memang sengaja mencari perkara, agar dia marah dan aku bisa membujuk dengan manja memeluk.
__ADS_1
Tangan sudah tertahan, untuk segera membuka knop pintu ruangan kerja, saat terdengar keras gelak tawa istri sedang ceria lepas bersama seorang pria.
"Kamu terdengar bahagia sekali bersama seorang pria didalam, Dilla? Siapakah dia? Apakah aku mengenalnya? Emm, rasa-rasanya aku mengenal sekali suara itu, apakah dia itu ... dia itu?" tanyaku dalam hati mencoba menebak.
Mencoba mendekatkan kuping lagi. Ingin mendengar hal penting apa yang dibicarakan. Kesal mengrogoti jiwa, rasanya sudah tidak tahan mendengar semuanya. Makin lama ketika menguping, makin memuakkan saja celotehan dan tawa mereka. Walau mereka tidak sedang bergosip, dada mulai sesak dan panas saja.
Ceklek, pintu kubuka perlahan. Sebab masih penasaran siapakah dia, dengan terpaksa mau tak mau aku harus masuk. Betapa terkejutnya diri ini saat mengetahui siapa geragan yang datang. Istri dan tamu menoleh kaget ke arahku.
"Reyhan? Kamu?" Kekagetanku.
Melihat kearahnya dengan heran. Dia sangat santai duduk menyambut kedatanganku, begitupun dengan Dilla yang juga biasa saja melihat pertemuan kami.
"Wah ... wah, kita ternyata masih saja dipertemukan dalam suasana yang damai ini," jawabnya yang santai.
"Santai dan sabar, Bro. Jangan pakai emosi,"
Mukanya yang sok cool ingin kutabok saja. Mentang-mentang dia artis, berasa sok paling ganteng sedunia. Memang banyak fans sama pengemar perempuan yang mengandrugi, namun bagiku kesombongan wajib ditampar, agar bisa sadar diri ada yang lebih dari dia.
"Ciih. Apakah ada hal-hal yang tak penting mengharuskan kamu datang kesini, hingga rela jauh-jauh datang ke sini tanpa undangan? Jika mau buat ulah silahkan keluar dari sini segera, sebab pintu masih terbuka lebar untuk kamu segera melangkah pergi," ketusku menjawab sambil mengusir.
"Wow ... wow, begitu kasarnya kau menyambut tamu kamu ini. Apakah kau ini tak pernah sekolah dan belajar, bagaimana menyambut tamu yang baik itu gimana?" keluhnya tak suka.
"Enggak. Jangan banyak ngomel, silahkan keluar."
__ADS_1
Usir secara terang-terangan. Muak lihat mukanya yang songong. Entah mengapa, ingin sekali melihat dia pergi secepatnya. Sekarang berani mengusir karena ada kuasa dan hak, sebagai suami dari perusahaan yang kupijakki sekarang.
"Tenang, Dio. Reyhan ke sini dengan niatan baik, untuk mengajak bekerjasama bersama perusahaan kita, jangan menuduh dulu," Pembelaan ucap Dilla.
"Benarkah itu? Sayangnya aku tidak percaya. Atau jangan-jangan kamu hanya-?" tanya tak percaya.
"Hidiiih, jangan berpikiran aneh-aneh dan menuduh sembarangan. Orang ini dikasih tahu malah tidak percaya."
"Ya iyalah, sebab mulutmu itu sangat berbisa."
"Berbisa yang bagaiana? Lagian semua orang pernah berbuat jahat, tapi bukankah semua bisa berubah ingin jadi lebih baik, ya seperti diriku sekarang. Benar tidak, Dilla?" tanya Reyhan pada istri.
"Iya, Rey."
Aku hanya diam seketika tak bisa berkata apa-apa lagi, saat istri sekarang lebih berpihak pada mantan kekasihnya itu.
Pembelaannya sangat memuakkan. Bukannya diusir malah dipertahankan, entah sudah diracuni apa pemikiran istriku itu, sehingga dia sekarang jadi penurut dan ingin mantan berlama-lama diruangannya.
"Aaah, sial. Apa yang kamu lakukan disini, Reyhan? Apakah maksud kau datang benar-benar mengajak berbinis, atau hanya kepura-puraan kamu ingin menghinaku lagi seperti hari-hari kemarin?" guman hati yang bertanya sebab ada perasaan aneh padanya.
Karena tak suka atas kedatangan Reyhan, kini kerjaanku hanya bisa memandangi tingkah polah mereka berdua, saat sedang sibuk membicarakan bisnis disofa ruang tamu, diiringi tertawa cegigisan mereka berdua menceritakan masa-masa indah ketika berpacaran.
Kalau dibiarkan takutnya malah kecolongan diapa-apakan Dilla nanti. Sepertinya Reyhan orang yang gigih dan tidak mudah menyerah, sehingga ada rasa was-was juga. Siapa sih yang rela melihat dia bisa tertawa dengan orang lain? Hanya orang yang bodoh bisa membiarkan kekasih bebas bersama. Maka dari itu setiap gerak-geriknya harus diperhatikan dengan mata tajam.
__ADS_1
Reyhan sempat melihat kearahku juga, dengan netra seperti menyalakan permusuhan, tapi aku tetap pura-pura tidak tahu. Sementara ini siap melayani apa kemauan dia sekarang, tapi nanti jangan harap bisa lolos atas tujuannya mampir ke sini. Fisarat sangat tidak baik atas kedatangannya yang tiba-tiba, namun harus bisa kutepis agar Dilla tidak mengetahui ataupun tersingung.