
Setelah sekian jam bergulat dengan kertas, akhirnya kami berdua dengan waktu singkat bisa menyelesaikan tumpukan itu, dan kini telah membawa kami untuk segera pulang.
Langkah sudah sampai ditempat parkiran, untuk segera masuk didalamnya, namun belum masuk sudah ada sesuatu yang janggal pada mobil.
"Yah, ternyata ban mobilnya telah kempes," keluhku yang sedang berjongkok melihat keadaan mobil.
"Terus gimana, nih? Perutku sudah lapar banget ini mau makan," jawab Dilla bingung.
Bibir monyong dengan manja. Makin mengemaskan saja tingkahnya. Walau sudah berumur, tapi dia bagaikan wanita yang masih muda. Kemanjaannya itu kalau tidak bisa diimbangi, makin membuat kewalahan dan kerepotan saja. Menuruti semua yang bisa kulakukan.
"Gimana ya, sedangkan mobil cadangan milik kita sedang tidak ada disini. Emm, oh iya. Bukannya kita ada cadangan motor yang tersimpan dalam gudang. Bagaimana kalau kita pulang pakai itu saja? Lagian biar cepat kita mampir makan dan sampai dirumah," tanyaku memberi ide.
"Benar juga. Tapi aku takut naik motor, sebab tidak biasa dan tidak pernah. Apalagi kalau berbelok-belok mendadak gitu, pasti kepala bawaannya akan pusing. Kalau ada mobil menyalip pasti bikin jantung deg-degkan, akibat kaget disalip tiba-tiba."
Sikap bergelayut manja dilenganku. Menghela nafas kasar, paham akan dia pinta. Seakan-akan dia ingin agar jangan naik motor.
"Jangan takut berlebihan begitu, sayang? 'Kan sekarang ada suami kamu, jadi tak payah takut begitu. Nanti aku akan jagain kamu dengan sepenuh hati, sama seperti dalam lubuk hati ini yang selalu menjaganya, gimana?" ucapku memuji diri sendiri sambil mengoda.
Bersikap sok cool. Mencari perhatian, agar bisa dianggap hero kesiangan, yang siap menjaga kapanpun itu. Tapi, memang sebagai suami harus selalu siap apapun kondisinya. Jangan sampai menolak, takut malah bikin ngambek saja sebab keinginan tidak dituruti.
"Dih, gombalan keluar lagi. Bukan gitu, Dio. Aku takut masuk angin saja sih. Pasti angin akan kencang meniup badan kita."
"Aku kerokin nanti, sampai memerah semua nanti. Kalau perlu sampai leher-leher kamu juga bakal kubikin memerah juga, gimana? Pasti ajib-ajiblah tuh, hehehe!" jawabku santai mengodanya sambil memeluk.
"Ciih, pasti ujung-ujung ada maunya. Kebiasaan banget mencari kesempatan dalam kesempitan. Kalau aku lengah, pasti maunya sat set menuruti keinginanmu."
"Hahahhah, tebakanmu kok selalu benar."
__ADS_1
"Dasar. Punya suami selalu berotak mesum."
"Hahaha, harus itu. Biar kamu tambah lengket sama abang kamu yang tercinta ini, dan didalam hatimu selalu ada namaku,"
"Hadeh. Emang aku lem, bisa bikin lengket."
"Yah, anggap saja begitu. 'Kan makin lengket makin tanda tidak bisa terpisahkan. 'Kan ... 'kan?"
"Hmm, iya'in sajalah. Dari pada pembahasan kita semakin terarah, akibat ucapan kamu yang ngalor ngidul. Orang bicara apa, dianya jawab apa juga. Sangat ... sangat tidak nyambung."
"Biasalah, mau godain kamu. Kalau sudah monyong tuh bibir, 'kan makin sexy aja tuh wajah kamu."
"Mana ada wajah sexy, yang ada tuh tubuh, sayangku. Udah ah, keburu sakit juga nih perut akibat telat makan."
"Oke."
Menahan tawa, ketika helm itu tambah kelihatan aneh dikepalanya.
"Jangan senyum-senyum begitu, kenapa? Tuh 'kan menghina banget. Jadinya terlihat jelek 'kah? Aku memakai pengaman berkendara ini," Curiganya.
"Hehehe, enggak kok sayang. Kamu bukan tambah jelek, tapi tambah comel dan kian mengemaskan," pujiku mencubit pelan pipinya.
"Benarkah? Awas kalau bohong. Nih, tangan bisa melayang." Kepalan tangan ditujuk kearahku.
"Hadeh kejam amat sih. Nggak, kok. Suer, terkewer-kewer."
"Baiklah kalau begitu. Ayo cepetan kita pergi cari makanan, sebab perut terus keroncongan minta diisi, nih!" pintanya.
__ADS_1
"Oke, tuan putri."
Kami begitu tertawa bahagia, dengan suasana angin sepoi-sepoi menerpa tubuh kami, hingga rasa-rasanya angin dingin itu begitu menjalar tembus sampai kedalam baju. Karena teringat akan baju Dilla yang berlengan pendek, kini motor kuhentikan sebentar dan mencoba turun.
"Kamu pakai ini, nanti beneran akan masuk angin seperti yang kamu takutkan tadi," ucapku saat jas telah terlepas dan berusaha kepasangkan ketubuh Dilla.
"Tapi 'kan Dio. Kamu itu yang menyetir motor, dan pastinya angin akan lebih bertambah banyak menerpa kamu nanti," jawabnya berusaha menolak.
"Tak apa, sayang. Aku sudah terbiasa naik motor kayak beginian, jadi pakailah dan nurut saja atas keinginanku," paksa mulut mengomeli.
"Baiklah, kalau bisa membuat kamu lega."
Mesin mulai hidup lagi. Memang agak dingin sekali hari ini, namun kutepis yang penting istri akan sehat tubuhnya. Netra fokus ke arah jalanan yang semakin ramai. Banyak mobil yang berusaha berbalapan dengan kami. Tidak mau mengalah untuk menyalip juga, agar lebih cepat sampai tujuan.
Perjalanan agak jauh. Berhenti sebentar untuk mengibas-ngibaskan telapak tangan ketika rasa pegal datang. Dilla ikutan turun, mungkin merasa lelah juga, walau hanya duduk dibelakang.
Pletak, tiba-tiba ada sebuah tembakan yang telah meluncur, tapi meleset mengenai badan motor.
"Aaaaaaa!" teriak Dilla terkejut, seketika menutup kedua telinganya.
"Aaah, sial. Ternyata ada yang membututi kita. Ayo, Dilla! Cepat ... cepat kamu naik motor, sebelum musuh berhasil mencelakai kita," tegasku menyuruh.
"Iya, Dio."
Dengan suasana tergesa-gesa, akhirnya kami berdua sudah bertenger duduk dijok motor. Tangan dengan sekuat tenaga berusaha memutar gas, agar secepatnya bisa meluncur pergi karena musuh yang memakai mobil hitam dibelakang nampak mulai mendekati motor kami.
Brum ... brummmmm, dengan secepatnya gas kuputar dengan kuat.
__ADS_1