Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Pesan Ibu


__ADS_3

Hatiku terasa tak karuan lagi rasa buncahannya, sebab begitu deg-degkan sekali saat kini acara ijab qobul akan dilaksanakan. Para periaspun dari sembari tadi selalu memoleskan bedak kewajahku, padahal 'kan tanpa makepun diri ini sudah merasa cukup tampan.


"Wah, anak Ibu hari ini tampan sekali," puji beliau yang kini sudah masuk ke kamar rias.


Terdengar ketukan sepatu mengalun-alun mendekat. Kulit yang kecoklatan sangat kontras dengan kebaya warna merah. Semua tamu termasuk keluarga diharuskan berseragam warna sama. Sanggul membulat sempurna dibelakang rambut. Wajah yang sudah bergaris sangat anggun bagaikan putri solo, yang kalem, menawan, dan penuh wibawa.


"Benarkah itu, Bu!" balik tidak percaya.


"Beneran, Nak. Masak Ibu bohong! Walau orang lain mengatakan kamu jelekpun, kamu itu selalu tampan dihati Ibu ini, yang melebihi siapapun itu," terang beliau.


Barisan gigi sangat rapi, hingga senyuman itu terus memancarkan aura kebahagiaan.


"Makasih, Bu. Atas pujiannya.

__ADS_1


Tangan kucium takzim. Dengan sentuhan lebar itu, tanpa henti merawat sampai kini sudah dewasa. Lelah beliau harus dihargai dengan kebaktian sebagai anak. Cukup jadi anak penurut dan berbalik memberikan kasih sayang, adalah dambaan setiap orangtua ketika akan melepas masa lajang.


"Tanpa terasa kamu sekarang sudah dewasa, saat tangan kecilmu dulu sering Ibu genggam. Hehhhh, tak menyangka kamu telah jadi pria dewasa yang kini sudah akan berubah status yaitu menjadi seorang imam bagi istrinya, bukan sebagai anak yang selalu kumanja dan timang-timang," ucap Ibu mengelus pipiku dengan mata telah berkaca-kaca.


"Ibu jangan bilang begitu, Bu. Sampai kapanpun aku adalah anak kamu yang masih butuh kasih sayangmu. Dimanapun aku berada dan walau sudah tidak didekatmu lagi, aku akan tetap jadi anak yang ingin kamu bela maupun manja," jawabku berusaha menghilangkan kekhawatiran beliau.


"Aku tahu, Dio. Entah mengapa, Ibu rasanya tak tega melepaskanmu untuk berpisah denganku. Sungguh dulu cinta Ibu siang malam selalu tercurah untukmu, tapi sekarang rasanya akan beda, sebab kamu akan berjauhan denganku, yaitu saat-saat ingin kasih sayang Ibu dalam hati ini ingin tercurah padamu. Tangan kecilmu yang lembut dulu selalu kuciumi."


"Hhhhh, tapi apalah dayaku sekarang ini, saat telapak tangan kamu yang besar ini akan jadi tumpuan istrimu agar tetap menyayanginya. Jadilah suami yang selalu dibanggakan, jangan jadi suami yang selalu menyakiti hati istrinya. Kamu adalah anak baik dan selalu patuh oleh kata-kataku, maka sekarang ini tugas itu akan beralih fungsi menjadi tanggug jawab kamu untuk membimbing istrimu. Ingatlah Dio, janganlah sekali-kali kamu membentak ataupun berkata kasar pada istrimu, walau kalian sedang dalam pertengkaran hebat sekalipun. Kamu tetaplah harus sabar menghadapi istrimu yang kemungkinan suatu saat nanti bisa sangat menyebalkan. Gunakan tangan kamu sebaik-baiknya untuk terus mengenggam erat tangannya, jangan sampai tangan ini kamu kotori untuk menampar atau melukai Dilla," nasehat panjang lebar beliau sambil menitikkan airmata, yang kini telah mengalir pelan melewati pipinya.


Setiap berada didekatnya begitu nyaman dan tenang. Tempat curhat terbaik jika ada masalah adalah orang yang sudah mengandung selama sembilan bulan.


"Ibu sangat yakin kamu bisa menjadi pria matang, yang pasti akan bisa menjaga Dilla dengan baik," cakap beliau menepuk-nepuk pelan pundakku.

__ADS_1


"Iya, Bu. Amin. Setiap doa orangtua akan dijabah baik."


"Iya, Nak. Amin. Berbahagialah selalu dan jaga dia dengan baik."


Obrolan kami begitu menghayutkan jiwa, saat berulang kali nasehat Ibu terus saja terlontar untukku. Tiada kasih Ibu melebihi apapaun didunia ini. Walaupun aku sudah besar begini, ternyata Ibu masih saja menganggapku sebagai anak kecil yang masih butuh perhatian dan kasih sayangnya.


Ruangan sudah penuh oleh kerabat, dan temanku serta Dilla, untuk menyaksikan acara sakral yang sebentar lagi mulai memuncakkan acara. Berkali-kali akupun menghembuskan nafas kasar akibat grogi, dan untungnya ada orang tua dibelakangku yang selalu mensuport anaknya yang kini dilanda kecemasan akut.


"Bismillah, semoga acaranya lancar dan tidak ada halangan."


"Hufff, tenang ... tenang, Dio. Jangan kau grogi begini. Ucapan ijab qabul itu hanya sedikit, jadi jangan dibuat pusing."


"Duh, kenapa aku mulai gemetaran begini. Jantung apa kau tidak bisa tenang sedikit? Jangan bunyi terus, bisa gawat dan ambyar nanti acaranya," guman hati yang terus saja tidam tenang.

__ADS_1


Hawa panas mulai melanda. Padahal ruangan sedang berAC. Sendi mulai goyah tidak bisa tenang. Ibu tahu jika aku dilanda grogi, sehingga tisu terus beliau lapkan dikening, yang mulai memunculkan air sebesar biji jagung. Bapak tak lupa ikut menyemangati juga, ketika tangan beliau bertepuk pelan ditangan yang mulai basah.


__ADS_2