Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Perkelahian Sengit


__ADS_3

Rambut sudah acak-acakkan tak berbentuk lagi, akibat tamparan yang begitu kuatnya telah mendarat hingga kini telah terasa sekali panas nyut-nyutan.


"Kamu tak akan kubiarkan lepas begitu saja, haaah! Plak ... plaaaaak," ancamnya yang menambah tamparan lagi.


Mulutku sekarang hanya bisa terdiam tidak ingin meminta lebih, sebab takut-takut jika orang yang menamparku sekarang akan bertambah murka, akibat sekarang ini aku telah banyak meminta padanya. Kini bibir rasanya sudah bisa mengecap sesuatu yang amis, yang kemungkinan ada darah sedikit yang keluar, akibat empat tamparan kuat berhasil mengenai pipiku. Dalam hati aku hanya bisa berdoa agar suami tercinta secepatnya datang.


"Kenapa? Apa selemah ini kekuatan kamu?" ujarnya lagi menjambak rambutku.


"Ya Tuhan, datangkan Dio secepatnya. Jangan sampai pria didepanku akan benar-benar melukai!" Ketakutan yang tak terperi lagi rasanya.


"Lepaskan dia!" Suara seorang laki-laki telah datang.


"Haaaiiist ... si*l*n kamu itu," Suara Dio mengema sedang kesal.


"Syukurlah kamu datang dengan cepat, Dio!" guman hati senang.


Pria didepanku ternyata tak memperdulikan kedatangan Dio, yang mana masih saja sibuk menjambak rambutku.


"Jangan ikut campur urusanku. Pergi kau dari sini, atau kau sendiri akan terluka!" ancamnya dengan penuh keberanian.


"Banyak cin cong."


Bhuuuuuuuuugh, sebuah tendangan kaki telah berhasil mendarat kuat ditubuh pria yang menganiayaku, hingga tanpa keseimbangan tubuh, pria itu telah oleng terjerembab di ubin keramik. Matanya menyorotkan api kemarahan yang berkobar-kobar.


"Kamu ngak pa-pa?" tanya Dio yang kini mencoba membantuku berdiri.


"Aku baik-baik saja!" jawabku lemah sambil memegang pipi yang tertampar.


"Sekarang kamu menepilah. Pria ini sepertinya tidak bisa diremehkan."

__ADS_1


"Emm, kamu hati-hati."


Aku sudah menepi sedikit. Dio yang emosi mulai tidak sabar ingin menghadapi pelaku.


"Hiiiicssh, siapa kamu? Sudah berani-beraninya menyusup masuk sini. Kamu jangan sok jagoan sama yang lemah dengan melukai istriku," Kemarahan Dio.


"Cuuuih, kamu ngak perlu tahu siapa aku. Yang jelas aku akan memusnahkan kalian berdua. Dasar manusia bodoh," jawabnya yang tak takut dengan meludahkan air liur dilantai.


"Aaaaah, banyak b*c*t kamu!" ucap Dio yang kini sudah berlari maju untuk memberi pelajaran pada pria itu.


Braaas ... braas, sebuah kepalan tangan Dio telah terlayang ingin memukul wajah pria itu, tapi dengan mudahnya si pria dapat menghindar. Tangan Dio tak mau menyerah begitu saja, sebab saat mau memukul ke arah kanan bisa mengelak. Kini kepalan tangan Dio telah kembali terlayang untuk menonjok pria itu dari sebelah kiri, tapi apesnya lagi-lagi bisa menghindar dengan cekatannya.


Sriiiing ... braaas, dengan lihai juga si pria kini telah mengayunkan sebuah pisau, yang mengkilat-kilat akibat terangnya sinar lampu ke arah Dio.


"Aaaaa!" Suara kesakitan Dio, akibat tergores oleh sedikit pisau memanjang dipipinya.


"Ayo maju! Sebegitu mudahnya 'kah dirimu kalah? Hadapi aku jika kamu berani, jangan ngomong didepan saja berani," tantang pria itu.


"Aku akan siap melayani kamu sampai KO," jawab pria itu.


Perkelahianpun tak dapat terelakkan lagi dengan saling pukul, hingga akupun mundur-mundur menjauhi perkelahian sengit diantara mereka. Terlihat pria itu jago juga ilmu bela diri, hingga Dio berulang kali tak bisa mengimbangi pria itu, sampai-sampai wajah Dio sering kali kena pukulan dan layangan tangan. Suami kelihatan mengambil nafas dalam-dalam, saat perkelahian satu lawan satu begitu sengit dan menegangkan sekali.


"Gimana? Apa segitukah tenaga kamu habis untuk melayani perkelahian kita," ejek pria itu saat berhasil membuat Dio kewalahan, ketika tidak bisa mengimbangi ilmu bela diri pria itu.


"Aku tak akan menyerah begitu saja, hanya gara-gara kamu pintar ilmu bela diri. Aku akan melayani perkelahian ini sampai kamu bisa tertaklukkan dan menghajar babak belur wajah dibalik topengmu itu," Balik jawab Dio dengan penuh berani.


Sebab aku begitu takut akan terjadi apa-apa dengan Dio, dengan tangan gemetaran kini kucoba buka gawai, untuk menekan tombol handphone agar bisa menelpon pihak kepolisian, supaya bisa membantu kami yang sedang kesusahan.


Tut ... tut ... tut, nomor terus saja kutekan, dengan mimik wajah terbagi dua, sebab melihat layar gawai dan perkelahian mereka.

__ADS_1


[Hallo Pak, tolong ke perusahaan xxx, sebab kami ingin minta bantuan kepada pihak Bapak, agar bisa membantu kami atas kasus ada penyusup datang ke perusahaan kami, yaitu dengan cara mencoba mencelakai orang]


[Hallo juga, baiklah. Kami akan segera datang ke sana, yaitu untuk membantu atas laporan anda]


[Oh iya Pak. Terima kasih. Cepetan datang ke sini, Pak!]


[Baiklah, sama-sama]


Walau tindakanku sudah benar menelpon pihak kepolisian, tapi tak luput jua untuk menghilangkan seluruh badan yang masih saja merasa gemetaran, akibat khawatir melihat keadaan Dio, yang kian lama kian tak bisa mengimbangi kelihaian pria itu dalam berkelahi.


Bhaak ... bhuugh, sebuah tendangan kasar telah menjatuhkan Dio terjerembab jatuh terkapar dilantai.


"Sini kamu! Dasar tak guna. Hahaha, dasar pria tak guna," Kemarahan pria itu yang kini sudah mengangkat kursi besi milik tamu.


Akupun begitu shock saat pria akan menghantamkan kursi itu ke tubuh Dio, yang tak berdaya terkapar dilantai. Tanpa pikir panjang lagi, kaki telah kucoba melangkah sekuat tenaga untuk berlari, mencoba menolong suami tercinta.


Brruuuukkk ... bhraagkh, kursi itu telah berhasil mendarat ditubuhku, saat diri ini telah berhasil meringkuk memeluk tubuh Dio, yaitu supaya bisa melindungi suami agar tak kena hantaman kursi.


"Aaaaa ... awwww," Suaraku kesakitan yang luar biasa, sebab terasa sekali bahwa kursi dengan kuatnya terdarat ditubuhku.


"Tidak ... tidak ... tidak ... Dilla ... tidak!" ucap Dio yang menyadari bahwa diriku kini telah menyelamatkan dan melindunginya.


Rasa sakit yang mendera membuat netraku sekarang mulai berkunang-kunang, sebab sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit yang luar biasa. Badan kini mulai terkulai lemas ambruk ke sebelah kanan, yang ternyata dengan sigap Dio telah menagkap tubuhku, agar tak terjerembab langsung jatuh dilantai.


"Dilla ... bangun ... Dilla ... bangun!" pinta Dio menepuk-nepuk pipiku, yang kemungkinan agar aku bisa sadar sepenuhnya, saat mata mulai sayu-sayu terpejam.


"Hahahaha, m*mpus kamu! Ternyata mudah juga melumpuhkan istri kamu itu, hahahaha!" celoteh pria itu mengejek kami sebab telah menang.


"Haaaaaaissst ... aaaaah, dasar bajing*n!" Kemarahan Dio yang kini maju lagi untuk menghajar lawan.

__ADS_1


Tubuhku tergeletak terbiar saat Dio maju berkelahi lagi. Mata mulai terasa berat sekali untuk tertidur, dengan kondisi mulai lemah tak tertahan lagi. Netra akhirnya terpejam juga, tapi masih bisa mendengarkan perkelahian Dio dan pria itu begitu sengitnya saling baku hantam.


__ADS_2