Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Dia Masih Membelanya


__ADS_3

Netra hanya bisa sibuk menatap layar gawai, yang sesekali melirik ke arah dua insan yang sudah lama tak dipertemukan itu. Tawa mereka sangat menganggu telinga. Ingin kulemparkan asbak rokok saja kearah mereka, biar gelak tawa itu tidak kuat-kuat.


"Kenapa juga dia bahagia banget si kutu kupret itu datang? Berasa jadi obat nyamuk saja disini. Pasti si Reyhan kesal sebab ada aku, yang sedang mengawasi dia?"


"Aaah, sudahlah. Biarkan saja dia kesal, toh ini ruangan Dilla juga, kenapa diriku yang jadi tak enak hati? Justru seharusnya dia yang tak enak berada disini, sebab telah berani berduaan bersama istri orang?"


"Kenapalah, dia kembali? Padahal kemarin sudah bagus Dilla benci juga sama dia. Sekarang apa? Kok malah bahagia banget sama tuh orang," Hati ngedumel terus tidak senang.


"Aku pamit dulu, Dilla. Masalah kerjasama ini semoga berjalan lancar, dan kita akan jadi teman yang baik lagi dalam menjalankan bisnis bersama," ucapnya ingin pergi.


Dalam hati bersorak ria, akhirnya musuh yang dulu sempat kubenci pergi juga, tanpa harus berbuat kasar mengusir dia lagi. Kalau beneran lama, pasti tak segan-segan kutendang kasar agar tidak betah lagi datang kemari.


"Iya, Reyhan. Semoga saja bisnis ini akan berkembang dengan baik dan lancar-lancar saja," jawab Dilla ramah.



"Iya, terima kasih atas kebaikanmu," ucap Reyhan.


"Aku pergi dulu, Dio!" imbuh berusaha pamit.


Dalam hati semakin dibuat tidak senang. Sepertinya dia memang sengaja ramah, supaya Dilla akan terus terkesima. Muka tebalnya mudah ditebak, dan aku tidak mempan sama sifatnya yang sok mencari perhatian.


"Emm. Hati-hati dijalanm. Pasang mata biar ngak nabrak," jawabku kasar sambil masih sibuk main handphone.


"Astaga, Dio. Kamu kok gitu sih bicaranya?" Mulai mengeluh lagi.


"Sudah tidak apa-apa kok, Dilla. Santai saja."

__ADS_1


Senyuman yang kelihatan dibuat-buat. Rasanya ingin kurobek saja tuh bibir.


"Ya, sudah. Kamu hati-hati dijalannya nanti."


"Terima kasih atas perhatiannya."


Berkali-kali dihati mengatakan "Yes akhirnya pergi juga."


Mungkin Reyhan sudah merasa dan tahu jika aku tidak menyambutnya dengan baik, hingga dia sekarang pergi tanpa mengulang-ulang kata lagi, sebab tahu diri ini tak menjawabnya dengan ramah.


Menghirup udara dengan lega. Merasa senang bisa mengotrol emosi. Kata-kata kasarnya kemarin masih terekam jelas dipikiran. Hinaan itu masih tidak kuterima dengan baik, namun Dilla sepertinya dalam kondisi tidak sadar akan kebusukan Reyhan yang sedang ditutupi topeng.


"Kamu kenapa sih, Dio?"


"Ngak ada apa-apa. Lagian kenapa apanya?"


Ingin rasanya jawaban memberontak, tapi takut jika pertengkaran akan terjadi pada diri kami. Tidak enak rasanya jika saling berdiaman, hanya gara-gara meributkan masalah Reyhan saja.


"Tidak baik yang bagaimana? Bukannya aku tadi sudah menyapa dan berbincang dengan kosa kata dengan baik dan benar. Dasar dianya saja yang mungkin tidak terima," ketus masih menyimpan rasa menyebalkan.


Kedengarannya akan menimbulkan emosi saja. Jika dilayani perdebatan tidak akan ada habisnya.


Gawai yang sempat kupakai untuk bermain game, kini telah kumatikan segera kerena Dilla kelihatan tak suka apa yang kulakukan.


"Ah, sudahlah. Malas ngomong sama kamu. Soalnya kamu kelihatan banget tidak senang dia datang,"


"Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa? Lagian kamu kenapa sich harus bekerjasama bersama Reyhan, kayak tidak ada orang lain saja yang mau diajak? Bukannya kamu banyak kenalan bisnis dan artis selain dia?" balik keluhku.

__ADS_1


"Aku mengajaknya sebab dia memang tulus dan ada niatan baik bekerjasama. Kasihan, pekerjaan dia lagi seret, ya aku bantuin. Kamu kenapa kayak tidak suka gitu, sih? Aneh!" tanya Dilla yang merasa aneh pada diriku, dengan tangannya sibuk bersedekap didepan.


"Tidak ada. Bantuin sih kira-kira orangnya. Kalau jahat kenapa harus dipertahankan. Bukan aku tidak suka, cuma was-was dan jaga-jaga saja, karena kamu tahu sendiri jika Reyhan kemarin sudah menghinaku sampai mati kutu, dan tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut ini, mengerti?" ketus lagi.


"Aku mengerti dan tahu, tapi semua orang bisa berubah menjadi lebih baik, ya termasuk yang dilakukan Reyhan sekarang ini," kekuh Dilla masih membela orang yang tak kusukai.


"Apa kau yakin jika dia bakalan berubah? Apa kau tidak cukup melihat mulutnya yang pandai menghina? Apa kau juga percaya atas sifatnya itu yang baik? Bukankah kau dulu dikhianati dan bisa-bisanya membuat perempuan itu bisa hamil. Itukah yang kau percaya sekarang darinya?"



"Paham, Dio. Dia dulu sangat banyak kesalahan. Kalau diteliti, mungkin itu juga salahku sebab waktu pacaran dulu selalu mengabaikan dia, yang padahal dia butuh support dan kasih sayang. Sekarang dia begitu hancur, termasuk karir dan keuangannya, maka aku disini merasa bersalah dan harus bertanggung jawab. Oleh sebab itu mengajak kerjasama dan memberikan peluang dia untuk kerja lagi. Apa itu menurut kamu salah yang telah kulakukan ini?"


"Sudah ... sudah, aku tidak mau berdebat lagi denganmu. Yang jelas aku tidak suka atas kedatangan Reyhan kesini, dan ingatlah! Walau dia sudah berubah seratus persen menjadi baikpun, aku akan tetap tidak suka dan terus mengawasinya," jawabku yang mulai ada emosi.


Makin lama makin memancing emosi saja. Heran juga sama Dilla, kenapa ngotot sekali bahwa bisa berubah. Racun apa yang sudah mengrogoti pikirannya, sehingga merasa benar dan tidak salah menduga. Mungkin lidah Reyhan pandai bermain kata, sehingga racun itu terus menjalar dalam pikiran bahwa bisa menjadi lebih baik.


Istri yang membela mantannya itu, semakin terdengar memuakkan hingga aku kini melenggang pergi meninggalkan Dilla yang masih tetap berpendirian teguh membela.


Tak kupedulikan tatapan tajam Dilla, yang nampak tak puas ingin mengajak berdebat lagi. Bagiku tak ada gunanya saling berpegang teguh dalam berdebat, jika ujung-unjungnya pasti akan tersulut api emosi, hingga terjadi pertengkaran hebat nanti.


"Hadeh, kenapa kau masih membela dia?Apa kamu tidak merasakan apa yang kurasakan kemarin, hah?"


"Sakit sampai menusuk hati, rasanya! Aaah, mungkin karena mereka sudah lama bersama, jadinya kata-kata Reyhan lebih dipercaya dari pada diriku yang baru beberapa bulan jadi suami."


"Bikin emosi saja, sih. Mual jika mendengar kamu terus membelanya. Sekarang apa lebih penting dirinya daripada diriku? Ciiih, rasanya ingin kubejek-bejek saja tuh muka mantan kamu, biar kamu bisa lihat sikapnya yang busuk."


Ngedumel sendiri diruang lain. Tangan berada dipinggang, ketika terus menerus berdecak kesal. Ternyata Dilla masih tidak peka aku begitu membencinya. Dari ujung rambut sampai kaki, eneg lihat muka yang sok bermuka dua itu.

__ADS_1


__ADS_2