Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Makin Eneg Dia Bermulut Manis


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dan sedikit ada candaan, kami berdua akhirnya pergi untuk meluncur ke sebuah tempat makan, agar bisa mengisi perut yang mulai melilit lapar diwaktu siang ini.


"Gimana? Enak tidak makanannya?" tanyaku saat mengajak direstoran serba masakan Padang.


"Emm, enak ... enak sekali. Aku suka masakan Padang, sebab dulu diwaktu kecil mama selalu mengajak makan ditempat seperti ini, namun semenjak aku dewasa hingga sampai sudah bisa bekerja sendiri, sekarang tidak pernah makan kayak ginian lagi," jawabnya tak bisa jenak berbicara nyaman, saat mulut Dilla kini sudah dipenuhi makanan.


"Baguslah kalau kamu suka," jawabku sambil memberikan senyuman manis padanya.


Kami berdua terasa begitu menikmati makanan dengan penuh kelezatan, karena semua lauk begitu enak dimakan, dengan bumbu rempah begitu banyak dibubuhkan dan dimasak sedimikian rupa khas bumbu kota Padang.


"Hei, Dilla!" sapa seseorang.


Betapa terkejut saat melihat siapa gerangan yang menyapa, dan ternyata adalah si Reyhan yang sempat membuat diri ini terbakar oleh rasa tak senang.


"Haiiist, kenapa Reyhan ada disini pulak? Apa yang dia lakukan disini? Apa jangan-jangan dia sengaja mengikuti kami? Aaah, dasar si Reyhan ini perusak suasana rumah tangga kami yang baru saja adem ayem ini," guman hati yang tak suka atas kedatangan Reyhan.


"Eeh, kamu juga ada disini juga, Rey?" jawab Dilla yang merasa kaget.


Lagi-lagi sikapnya manis. Sangat memuakkan dan ingin mengeluh saja, tapi Reyhan sedang ada didepan kami jadi tidak enak saja mengatakan yang sebenarnya.


"Iya, nih. Kebetulan aku tadi mau beli nasi untuk dibungkus, tapi karena kalian lagi makan disini, kenapa aku tidak ikut gabung saja makan bersama kalian, gimana?" usul Reyhan yang membuat hati ini mulai kesal.


"Oh, iya ... iya. Tentu saja boleh!" jawab Dilla ramah.


"Terima kasih," jawab Reyhan yang langsung duduk ikut bergabung.

__ADS_1


"Sial, kenapa juga Reyhan ikut gabung juga. Awas kamu Reyhan, akan kuingat perbuatan kamu ini, agar kelak aku bisa membalas ini semua, jika kau ada pacar nanti," ucapan hati yang begitu gondok tak suka.


Sendok garbu sampai kutancapkan kasar, untuk mengambil daging rendang. Hanya itu yang bisa terlakukan, ketika mengekspresikan ketidaksukaan.


Aku kini hanya bisa pasrah tak bisa berkata-kata, sebab jika menolak takut Dilla tersinggung, namun ketika menerima sungguh rasanya hati begitu tidak ikhlas dan tak suka. Netra hanya bisa sesekali melirik dan memperhatikan, dengan tangan dan mulut sibuk bersama makanan.


"Oh ya. Minggu depan jadi 'kan kamu yang kontrol semua pemotretan nanti?"


"Uhuk ... uhuk," Tiba-tiba nasi menyedak tenggorokan.


"Kamu ngak pa-pa, sayang?" Dilla cekatan memberikan air putih dalam gelas.


"Hmm, aku baik-baik saja."


Dalam hati terus saja bertanya, apakah masih banyak sisa cinta untuk istriku itu? Sampai netranya itu menyorotkan seperti kecemburuan. Namun, kepura-puraan tetap terjadi agar kami tidak bertengkar. Lagian banyak hak untuk manja sebab dia milikku yang sah selamanya.


"Kenapa tidak hati-hati sih makannya," keluh yang masih memberikan perhatian.


"Namanya juga tersedak, 'kan ngak sengaja."


"Tapi tetap harus hati-hatilah. Kalau makan pelan-pelan saja kenapa, sih! Bukannya makanannya akan dihabiskan orang lain juga."


Ingin membuka mulut menjawab, tapi keburu tertahan saat Reyhan masih menyorotkan mata tidak senang.


"Bukan takut diambil orang, tapi lebih tepatnya ingin lebih cepat selesai agar bisa pergi dari si Reyhan mantan pacarmu ini," Hanya dalam hati bisa menjawab.

__ADS_1


"Gimana, Dilla. Atas pertanyaanku tadi?"


Kelihatan banget mau cari muka dan meminta perhatian. Masih bersikap pura-pura tidak dengar, dengan cara syebuk mencicipi makanan.


"Eeh, iya, Rey. Kamu tadi bilang apa?"


"Yang masalah pemotretan."


"Oalah. Iya, aku akan mengawasi dulu sementara itu, sebab kerja sama dengan agensi kamu baru pertama kali, takutnya ada hal-hal yang tidak diingikan terjadi. Kamu tahu sendirilah masalah reputasimu yang turun dratis, akibat cewek yang kamu hamili kemarin."


Dalam hati bersorak ria, ketika Dilla menyingung masalah itu.


Yang terdengar dari para wartawan, bahwa Reyhan masih mengantung status itu wanita, yang boleh dikatakan belum menikahi secara sah. Ada yang mengatakan gara-gara terjebak, dan ada juga itu hanya alibi si cewek agar bisa mendapatkan Reyhan.


Tapi menebak memang Reyhan sendiri sebagai pria bajing*n, yang suka gonta ganti perempuan. Ketampanan, reputasi, dikenal banyak orang, sebagai modal dia memikat banyak wanita untuk dijadikan pasangan sementara.


"Eghem ... Hemm. Maaf jika membuat kamu repot. Terima kasih banyak masih mau membantuku saat jatuh. Tak tahu lagi jika tidak ada kamu. Pasti hidupku jadi berantakan dan tak tentu arah lagi." Wajahnya sedih dengan menundukkan kepala.


"Tidak apa-apa, Rey. Aku sangat mengenal baik kamu. Teman, harus saling menolong jika salah satu diantara mereka butuh bantuan." Dilla menepuk pelan tangan Reyhan.


"Iya, Dilla. Terima kasih sebanyak-banyaknya. Hanya kamu teman yang masih setia, dan wanita terbaik mau mengerti akan diriku."


Sikap mereka bikin jenggot makin kebakaran saja. Air putih kuteguk secara kasar. Panas hati yang kini melanda, bikin tangan satunya mengepal kuat.


Sepertinya Reyhan memang sengaja agar Dilla memperhatikan dia saja, sampai lupa diri kalau suami disamping harus dijaga hatinya. Namanya juga artis, pasti pandai barakting di layar kaca dan dunia nyata seperti berkata manis didepan Dilla.

__ADS_1


__ADS_2