
Keadaan masih aman. Entah sampai kapan harus menjalani kehidupan dengan ketakutan oleh musuh, namun persiapan untuk menghadapinya sudah matang. Kini kami berdua telah disibukkan dengan membersihkan apartement, setelah beberapa bulan ditinggal menginap dirumah mertua.
"Duh, capeknya. Banyak banget sih debunya disegala tempat. Bikin pegel badan aja nih," Keluh Dilla sudah mengelap keringat yang membasahi kening.
Alat penyedot debu dia yang memakai. Sedangkan diriku membersihkan bagian atas yang ada sarang laba-labanya.
"Namanya sudah lama kita ngak bersihinnya, ya pasti akan capeklah. Sini, mendekat sebentar!"
Habis turun tangga langsung mengelap keringatnya, menggunakan kemeja berlengan panjang.
"Makasih, honey."
"Emm. Walau bau acem begini tetap cantik juga ya istriku ini," puji dengan membisikkan ditelinganya.
"Hadeh. Mengejek atau menghina ini?"
"Itu sama saja, sayang!" Mencubit pelan pipi chubbynya.
"Tapi aku lelah pikiran sama tenaga!" Manja yang langsung memeluk.
"Hhhh, ya sudah aku bersihin sendiri saja."
"Wah, benarkah? Yeaaah, bisa santai nih."
Pletak, tangan menyentil keningnya.
"Memang sengaja ngak mau ikutan ngerjain 'kan?."
"Hehehe. Anda betul sekali. Kamu 'kan cowok, jadi pasti kuatlah bersihin semuanya. Semangat, hehehe!" Sikap romantisnya yang langsung mengecup bibir kering efek sedang kehausan.
"Ya udah sana. Istirahat saja, tapi entar bantuin lagi."
"Sipp, bosku."
"Awas kalau leyeh-leyeh."
"Bereslah."
Kegembiraan itu terpancar dengan adanya lompatan kecil. Dirumah memakai baju yang sedikit agak terbuka dengan rok mini, namun tak jadi masalah sebab hanya mata keranjangku saja yang bisa melihat. Kalau sampai diluar saja, pasti langsung kurobek ditempat itu baju. Sebagai suami harus menjaga lekuk tubuhnya, agar tidak disedekahkan kepada pandangan orang lain. Jika telihat jelas, sudah berdosa juga akibat orang lain bisa menzinakan mata mereka.
Sesosok istri selalu di identikkan dengan sifat manjanya. Ketika menyebut kata istri, akan terlintas bahwa dia makhluk yang tidak bisa dipisahkan dari karakternya yang selalu manja dan ingin diberi perhatian lebih.
__ADS_1
Sebenarnya manja bukanlah sesuatu yang patut untuk dipermasalahkan, sebab Allah Swt menciptakan makhluknya. Laki-laki dan perempuan memiliki sifat alamiahnya masing-masing. Ketika ada istri yang tidak ada kepribadian manja pada dirinya, justru hal itu perlu dipertanyakan.
Badan cukup lelah juga sebenarnya, namun jika tidak dibersihkan maka akan banyak penghuninya, seperti hewan maupun hal yang tak kasat mata akibat terlalu lama ditinggal. Lagian jika rumah bersih akan lebih nyaman dan enak ditempati.
Pluk ... pluk, kulit jeruk telah dibuang merata-rata dibawah sofa. Dilla begitu santai memakan buah itu sambil membaca majalah. Mendengus kesal. Sudah lelah membereskan yang lain, malah ditambah kerjaan saja.
"Benar-benar nih, Dilla. Pengen ditabok saja," Dalam hati begitu dongkol.
"Sayang, apa tidak bisa kulitnya kamu kumpulkan, lalu nanti buang ditempat sampah." Sepelan mungkin berbicara sambil memberikan senyuman palsu.
"Entar saja. Lagi malas. Biar saja kubuang dibawah, nanti kupungut kok. Lagi seru-serunya nih baca majalah, yang sekarang banyak gosip artisnya. Sayang banget ketinggalan info kalau tidak dibaca," menjawab tapi tidak melihat orang yang tengah diajak bicara.
Menarik nafas, lalu menghembuskan secara berat. Kalau ada maunya susah dibilangi. Untuk sementara kubiarkan saja dulu, lagian masih ada satu tempat lagi yang harus kubersihkan yaitu dapur. Tangan terus mengelap keringat yang menetes, rasanya hari ini terik matahari sangat menyengat.
"Aaah, akhirnya semua beres dan bersih," Kelegaan hati.
"Ternyata kalau rapi dan bersih enak dipandang juga."
Mengambil handuk untuk bergegas membersihkan diri. Badan yang kotor mulai terasa lengket, akibat debu dan keringat. Begitu tidak nyaman rasanya, sehingga harus diguyur dengan air.
Karena dapur tadi tidak dipakai, jadi tidak ada yang perlu dibersihkan terlalu lama.
"Astagfirullah. Hadeh, kenapa nih orang bandel banget tidak mau buang kulitnya," Dalam hati sudah menahan kedongkolan.
"Kalau begini terus, rumah bisa penuh oleh sampah," sindirku tak terima.
Bukan hanya kulit jeruk saja sekarang, bekas snack mulai dibuang sembarangan juga.
"Maaf, dech. Nanti aku bersihkan." Berbicara sambil tetap fokus melihat majalah.
Dilla tidak melihat diri ini terus melewati tubuhnya yang tergolek santai disofa. Efek fokus sama majalah sampai tidak sadar akan kehadiranku. Semua telah selesai, lalu pergi ke tong sampah diluar apartement.
Kedua tangan kelekatkan, dengan menarik kuat ke atas, agar cepat bisa meregangkan otot-otot yang mulai kaku. Tangan mengusap tekuk yang kaku juga, akibat tadi membersihkan melihat ke atas terus.
"Astaga, Dilla? Aaah, kamu ini." Berteriak tidak sopan lagi.
"Issh, ada apa lagi sih? Ngak sopan banget manggil istri."
"Gimana aku bisa sopan, kalau kamu terus saja membuang sampah sembarangan," protes yang sudah tidak tahan melihatnya.
"Mana ... mana? Ini tuh sedikitpun."
__ADS_1
"Hadeh, gimana ngak sedikit, jika aku baru saja menyapunya, tapi kamu masih saja buang sembarangan. Apa kamu mau suamimu ini loyo efek kecepek'an?"
"Sabar ... sabar dulu kenapa, bocil. Tadi ngak lihat dan terasa, kalau sudah bikin kamu susah."
"Wah, hebat banget, ya. Bisa kurang ajar manggil bocil. Memang kamu mau aku hajar?" Emosi sudah tidak terkontrol lagi.
"Hah, mau menghajar? Wah, sudah mulai berani kamu ingin nyakiti istri. Lihat saja nanti. Aku akan bilangin papa."
"Hm, bilang sono. Dasar anak manja. Paling-paling kamu yang akan kena mental kemarahan beliau, sebab kesalahan memang awalnya dari kamu."
"Wuih, kamu mulai berani juga ya sekarang. Apa sudah hilang rasa cinta kamu itu."
Kami terus saja berdebat, tidak ada yang mau mengalah. Bahkan saling berbicara ingin benar sendiri-sendiri.
"Kalau rasa cinta ngak usah dipertanyakan lagi. Kamu sudah tahu itu."
"Tapi kenapa kamu tadi bentak-bentak segala? Jahat banget sih! Huwaaaaa," Wajahnya mulai memperlihatkan kesedihan.
"Hehhe, aku tadi cuma bercanda doang. Maksudnya kuhajar dalam kamar, hahahhaha!" Kini kugendong paksa dia.
"Isssh, nakal banget sih kamu. Turunin ngak? Dasar bocil usil banget."
Dilla mengigit lenganku dengan kuat.
"Haisst, lepaskan gigitannya ngak? Sakit banget ini, tahu. Makanya jangan pancing emosiku. Mulai sekarang rasakan akibatnya kuajak mojok dikamar."
Dalam mengendong dia menuju ke kamar, barisan gigi itu masih menancap di lenganku.
"Enggak."
"Wah, minta dihajar beronde-ronde dalam ring nih."
"Aaaah, tidaakk. Tolong, bocil mau memperkos*," teriakkan yang begitu mengema keras sekali.
"Huust, didengar tetangga nanti kalau kita mau uwu-uwuan."
"Issh, mulai nakal banget sih kamu ini."
"Biarin, sama istri sendiri ngak ada larangan dan pamtangannya, hahahaha."
"Isssh, sengaja ada maunya."
__ADS_1
Ternyata berhasil juga mengerjai Dilla. Masih saja dia terlalu polos mengenai hal begituan, padahal usia tak lagi muda lagi.