Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Kacoa Besar Bikin Kaget


__ADS_3

Mentari pagipun telah menyapa, dengan bunyi nyayian suara burung yang saling bersahutan memerdukan kicauannya. Hotel sangat asri banyak pepohonan hijau. Mata yang masih berat telah kupaksakan untuk bangun, sebab telah terbayang atas kejadian semalam, yang mengharu biru atas rasa malu bercampur oleh kebahagiaan.


Cuuup, tanpa terduga kening telah terdaratkan oleh sebuah ciuman sapaan pagi.


"Sudah bangun ternyata. Pagi, sayang!" sapa Dio.


"Pagi juga," sapaku balik dengan malu-ma


Merapikan selimut sampai sebatas dada. Hawa dingin masih menusuk tulang. Muka saling berhadapan. Senyumnya mengembang penuh sesuatu yang tak kumengerti.


"Apakah semalam aku telah membuat kamu tidak tidur nyenyak? Lihatlah? Lingkaran hitam di bawah mata kamu itu tuh, mulai ada!" ucap Dio sambil mengelus-elus pelan pipiku.



"Hehehhe, enggak kok! Siapa bilang, aku baik-baik saja, walau ada yang-?" Suaraku tertahan tak bisa melanjutkan kata-kata lagi.


"Apaan itu?" Kepolosan Dio bertanya.


"Haiiist, macam tak tahu aja kamu. Udahlah ngak penting, 'toh kamu sendiri nanti akan tahu. Lagian kamu sekarang masih bocil jadi ngak perlu tahu," Kekesalanku menjawab.


"What? Bocil? Heeeh, nona! Gini-gini aku sudah dewasa, buktinya aja tadi malam aku melumpuhkan pertahanan kamu, ha ... hahahahha!" Kegembiraan Dio tertawa berhasil mematahkan ucapanku.


"Tau 'aah. Dah pergi mandi sana! Aku mules mendengarkan ucapan kamu, sekarang mau lanjut bobok cantik aja, ngantuk banget nih," jawabku kesal, dengan merubah posisi tidur membelakanginya

__ADS_1


"Ya elah, masak gitu aja marah. Maaf deh, yaa sayang. Seandainya saja kata-kataku tadi membuat kamu jadi malu ataupun tersingung," rayu Dio yang kini tangannya melingkar dipinggang untuk memeluk dari belakang, diiringi oleh dagu menempel di lengan tanganku.


"Heeh, iya ... iya. Udah ah, aku beneran ngantuk banget ini," jawabku yang masih pura-pura memejamkan mata.



"Ok, deh! Kalau begitu aku mandi aja," ujar Dio pamit.


"Heeeem," jawabku lemah, sebab sudah beneran mau tidur.


Pelukan terlepas. Pembaringan sedikit bergerak, tanda Dio sudah bengkit meninggalkanku. Tak pedulikan lagi apa yang dilakukan Dio sekarang, yang jelas mataku tak tahan lagi untuk meneruskan suasana alam mimpi.


Suara air shower dari dalam kamar mandi terdengar mengalun mengemericikkan suara airnya, manandakan bahwa Dio sekarang benar-benar telah mandi. Masih malas mau ngapa-ngapain. Akupun masih berposisi tetap sama, yaitu meringkuk dalam selimut untuk melanjutkan ngantuk. Nyaman dan hangat sekali.


"Aaaaaaaaaa, tidaaak" teriakku dengan sekencang-kencangnya.


Kemudian berusaha mengibaskan hewan itu pergi jauh dari wajah. Selimut terlempar ke samping. Bulu kuduk mulai merinding semua.


"Ada apa? Ada apa?" tanya Dio yang telah datang.


"Aaaaaaaaa, kecoak Dio!" teriakku lagi memberitahu.


Jijik dan geli melihatnya. Hidung berkali-kali kuusap, agar bekas dihinggapi hewan itu hilang. Bergetar semua tubuh jika mengingatnya.

__ADS_1


Akibat kaget ingin menghampiri Dio, yang telah setia datang untuk membantu. Segera melompat dari kasur. Tanpa berpikir panjang lagi, langsung saja aku berlari bangkit dari tempat tidur agar Dio mau menangkap memelukku.


Bhhuuuugh ... srrreeeeets, tiba-tiba tubuhku terjatuh ke lantai yang sedikit lagi hampir memeluk Dio. Tapi naasnya semua terjadi begitu kilat, saat diri ini terjatuh tengkurep sebab kaki tertinggal terjerat oleh selimut. Tangan begitu aneh saat memegang handuk, yang padahal dipikir-pikir aku belum mandi. Kepala berusaha kudongakkan keatas, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Buju bune, kenapa kecoak yang kulihat didepan mataku sekarang ini kelihatan besar! Sekali" bathin hati heran, yang melihat sesuatu yang baru pertama kali kulihat, dengan berkali-kali tak tahan meneguk s**aliva.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa," teriak kami kompak, saat Dio melihat wajahku dan aku melihat ke arahnya.


"Sial!" umpatnya marah.


Dengan cekatan kelempar handuk Dio jauh-jauh.


Sebab begitu kagetnya, langsung saja diri ini menutup mataku dengan kedua tangan akibat sadar apa yang baru saja terlihat didepan mataku. Tak tahu lagi apa yang Dio lakukan, untuk menutupi tubuh dan senjatanya.


"Ya Tuhan, apakah apa yang kulihat barusan adalah beneran? Gila ... gila, aku benar-benar tak waras dibuat malu oleh Dio sekarang! "


"Aaah, bagaimana aku bisa menghadapinya sekarang? Sementara dia telah mempermalukan dirinya sendiri didepan mataku. Tapi ... tapi, bukankah dia suamiku, mungkin wajar kali aku mengetahuinya. Haaahahaaaah, merepotkan sekali hewan kecoak itu! Gara-gara kamu kecoak, aku jatuh dan akhirnya membuat Dio malu," rancau hati yang gundah dan malu.


Perlahan-lahan kugeser jari jemariku untuk mencoba melihat Dio, apakah masih berdiri didekat tempatku jatuh, apa sudah pergi akibat kaget atas kejadian yang memalukan tadi.


"Aaaah, untung ... untung saja Dio sudah pergi. Nasib ... nasib, pasti aku akan malu sekali berhadapan dengan Dio nanti," ucapan hati yang merasa lega, dengan cara mengelus-elus dada.


Kejadian beberapa menit yang lalu telah menghadirkan rasa canggung diantara kami. Sekarang aku dan Dio telah duduk di sofa untuk menikmati sarapan pagi, yang barusan habis diantarkan oleh pihak hotel.

__ADS_1


Wajahku sungguh tak berani menatap suamiku sendiri Dio. Yang kulakukan sekarang ini hanya bisa menundukkan kepala, sambil menikmati makanan perlahan-lahan. Tidak ada yang mengawali obrolan. Mencoba melirik, ternyata Dio sedang mengawasi penuh selidik. Tangannya bersedekap ingin sekali mengusik kediamanku.


__ADS_2