
Wajah kami terus dibuat bingung dan mulut mulai kelu menjawab. Banyak kejutan pertanyaan dari para orangtua.
"Gimana, Dio?" tanya Papa.
"Akupun juga sama, tuan besar. Tidak ada kata lain selain aku akan berusaha membuka gembok dan meruntuhkan pertahanan Non Dilla demi membina rumah tangga yang bahagia. Cinta tak selamanya harus mengawali dengan cara berpacaran, sebab cinta bisa tumbuh seiringnya waktu berjalan jika kami selalu bersama. Yaa ... contohnya seperti hari-hari kemarin, yang kemungkinan Non Dilla sudah mulai ada rasa padaku," Kesombongan Dio menatap sinis bahagia padaku.
"Aku? Apa ngak salah?"
"Enggak. Itu kenyataan."
"Ciiieh, kepedean amat jadi orang. Kalau ngomong jangan asal njeplak saja, kamu tuh yang kemungkinan sudah jatuh citrong duluan sama majikan sendiri," tuduhku tak mau kalah.
"Kapan ... kapan? Memang ada 'kah? Non juga jangan asal tuduh saja."
"Ada. Jangan banyak memungkiri. Dasar aneh."
"Hidih, asal saja tuh mulut nyeplos. Kamu kali kemarin yang sedih akibat kutinggal pergi, sebab sudah ada benih-benih cinta padaku," jawab Dio tak mau kalah.
Ingin kuremas saja mulut embernya itu. Dio memang pria paling ngeselin sedunia. Kalau bukan pria saja sudah kuajak gelud sampai keok.
"Dasar bocil tidak mau mengaku."
"Apa ... apa? Non, kali banyak ngeles."
"Ngak juga. Dasar munafik. Siapa juga yang bela-belain pinjam uang adikku Andi, untuk membeli seribu kelopak bunga mawar? Siapa yang berusaha sekuat tenaga untuk menyetir mobil? Takkan aku yang melakukan semua itu! Bilang saja kamu duluan yang jatuh citrong padaku, tapi tidak mau mengakuinya sebab malu-malu kucing," ucapku yang nyolot kasar, akibat kesal atas pengakuan Dio.
Pletak, sebuah jitakan kecil dikepala telah didaratkan oleh Mama.
"Haaiiist, anak ini. Ngak ada sopan-sopannya, tidak malu apa sama calon mertua kamu? Kamu yang sopan sedikit sama Dio, sebab kodrat dia adalah laki-laki jadi nanti kamu harus patuh dan hormat padanya," Kemarahan Mama menasehati.
Kepalaku tertunduk malu, dengan mata telah melirik kearah Dio yang sudah tersenyum-senyum tertahan, akibat merasa menang atas pembelaan Mama. Mulutku sudah komat-kamit ngedumel marah, dikarenakan geram melihat ekspresi Dio yang kini kelihatan super menyebalkan sekali.
__ADS_1
"Sudah ... sudah jangan keras sama anak-anak."
"Betul itu. Mereka bertengkar kadang tanda sayang yang masih malu-malu."
Sekarang para tetua malah ikutan menuduh kami. Bertengkar tanda sayang? Tidak salah tuh? Yang ada bertengkar karena sama-sama tidak mau mengalah. Kalau belum ada kebenaran yang hakiki atas adu mulut, pasti diantara kami tidak ada yang mau mengalah.
"Jaman sekarang cara berpacaran anak muda memang beda, banyak kejutan dan rahasia yang tak terduga, beda sekali sama jaman kita dulu, yang mau apel sama calon suami saja, harus ijin beminggu-minggu dulu untuk ketemuan. Itupun kalau sudah ketemuan apel dirumah, harus ada jarak lima meter saling duduk untuk berbicara," ujar Ibu Dio.
"Waaah, bener ... bener itu. Sampai-sampai kalau mau sahut menyaut berbicara, harus ngetok sesuatu benda dulu agar bisa fokus atas apa yang dibicarakan pasangan. Hahaha, jaman yang begitu lucu-lucu pastinya," saut keterangan Papa.
"Hahahahha, betul ... betul," Suara menggelegar para orang tua tertawa puas, dimana aku dan Dio hanya bisa nyimak saja obrolan mereka.
Zaman memang sudah berbeda. Ternyata banyak perbedaan gaya dan sikap berpacaran. Dahulu memang jadul, tapi masih ada rasa sopan untuk saling apel, bukan seperti zaman now yang main gesit berpegangan walau didepan umum sekalipun.
Setelah perbicangan panjang lebar kami, akhirnya para orang tua sudah pulang. Sementara ini orang tua Dio akan tinggal dikediaman rumah utama milik orang tua, sebab katanya masih tidak tega meninggalkan anaknya yang terluka. Bisa jadi, kalau mau menjenguk tidak kerepotan bolak-balik antar kota. Sementara itu aku sekarang harus tetap bersama Dio untuk merawatnya.
"Apakah kamu serius, apa yang Non ucapkan tadi?" tanya Dio kelihatan penasaran.
"Yang bilang kalau kamu tidak setuju atas perjodohan ini, sebab Non masih tak bisa menerimaku agar masuk ke dalam hatimu," jelas Dio.
"Bukan gitu, Dio. Aku masih tidak percaya saja atas perjodohan ini. Ditambah lagi aku belum mengenal kamu lebih dalam, apakah kamu baik atau orangnya jahat. Sejujurnya masih ada keraguan yang tengah menyelimutiku, tapi aku sekarang akan berusaha untuk menepis semua itu agar bisa menerima kamu apa adanya, sebab yakin saja kalau kamu adalah orang yang bisa diandalkan dalam segala hal termasuk membahagiakan diriku," tuturku menerangkan.
"Baiklah, aku bisa memahami. Tapi walau kamu tidak bisa menerimaku, aku akan gencar supaya jalanku untuk mendapatkan cintamu bisa mulus," jawab Dio.
Deg, bunga mulai bermekaran didalam hati. Kuncup bunga siap menyambut kumbang datang agar bisa menghisap manisnya madu. Begitu juga tentang hati ini, yang akan siap membuka hati agar Dio bisa melabuhkan hatinya.
"Widuuuh, seriusan ini Dio mau gencar ingin mendapatkanku? Hihihihi, ternyata kamu mulai jatuh hati beneran terhadapku, Dio. Asiiiknya, ternyata kamu sekarang tegas mengambil keputusan mengenaiku, heeem ... apa kamu begitu takutnya jika diriku akan beralih ke orang lain? Sehingga kamu tak gentar untuk menerima perjodohan ini. Kalau begitu baguslah, aku pastinya akan membuka diri untukmu juga," guman hati berbicara dengan wajah sudah berseri-seri.
"Kenapa dengan wajah kamu, Non? Aku perhatiin kamu dari sembari tadi tersenyum-senyum terus? Ada yang lucu 'kah atas semua ucapanku barusan?" tanya Dio.
"Hehehee, ngak kok Dio. Aku hanya teringat dengan kekompakan orang tua kita yang ngebet banget ingin kita menikah, sepertinya kayak lucu dan ngak nyangka saja," jawabku atas pertanyaannya.
__ADS_1
"Ooh. Baguslah kalau kamu setuju juga tadi. Aku pikir kamu akan menolaknya."
"Mana bisa aku menolak, sedangkan tahu sendiri kalau orangtuaku itu kelihatan sayang tapi sebenarnya keras. Kalau tidak nurut saja pasti sudah terbujur kaku akibat dicekik."
"Hahah, baguslah kalau ada orangtua begitu, jadi anak tidak banyak berulah dan macam-macam."
"Apanya yang bagus. Berasa dikekang saja."
"Mereka begitu sebab terlalu sayang, tidak ingin anaknya terjadi apa-apa. Mungkin Non sendiri yang bandel, sehingga mereka melakukan ucapan dan tindakan dengan cara agak keras mendidik."
"Ciih, siapa juga yang bandel. Aku tuh cuma banyak membangkang saja sih. Paham, kalau mereka sayang, tapi tidak enak banget. Mau menghirup udara kebebasan kesini situ sesuka hati terus saja diawasi."
"Membangkang itu sama saja. Non, terlalu ingin bermain bebas sehingga bisa saja lupa diri, makanya orantua agak ketat menjaga dan mengawasi. Paham?"
"Hmmm, sangat paham."
"Huuahhh, ya sudah. Aku mau tidur lagi. Ngantuk banget nih, habis minum obat.
"Hmm, tidur saja."
"Non, tidak apa-apa 'kan aku tinggal tidur."
"Iya, santai saja. Lebih baik kamu banyak istirahat supaya cepat sembuh."
"Jangan ke mana-mana selama aku tidur. Tetap disini menunggu, awas!"
"Iya, bawel."
"Diih, selamat malam."
"Hmm, malam juga."
Walau tidur harus duduk tidak apalah, yang penting bisa jaga Dio dan tubuh terhangatkan oleh selimut yang dibawa orangtua tadi.
__ADS_1