
Kedekatan kami semakin mesra sebagai pasangan, bukan lagi antara majikan dan anak buah. Rasannya senang juga mempunyai calon istri yang ternyata cintanya mengebu hanya tercurah untukku juga.
"Pagi Dio!" sapa Dilla yang main nyelonong masuk kamarku sembarangan.
"Pagi juga," sapaku balik yang kini mengeliatkan tubuh, yang masih bermalasan ditempat tidur.
"Tumben banget pagi-pagi datang kesini?" tanyaku.
Duduk bersejajar dengannya. Dia selalu berias biasa saja namun casual. Auranya semakin cantik dan menawan. Pria selalu tertarik untuk memilikinya, namun tak semudah menjentikkan jari bisa meraih.
"Ngak boleh apa calon sendiri masuk ke kamar kamu?" tanyanya balik.
"Bukan gitu, sayang."
"Terus?"
"Ya, aneh saja tumben kamu masuk sini pagi-pagi dengan pakaian sudah rapi begitu?"
"Oh, ini?" Tunjuk dibajunya.
"Iya. Memang mau kemana?" imbuhku lagi sambil kuusap pelan wajahnya yang lembut, ketika sudah semakin dekat duduk kami.
"Ini tuh gara-gara mama sih! Beliau nyuruh kita untuk segera fiting baju pernikahan. Jadi pagi-pagi aku bangunkan, agar bisa kamu antar dan kita akan memilih pakaian itu," jelasnya.
"Ooh, tapi aku belum apa-apa lagi. Lihat sendiri 'kan! Aku saja baru bangun tidur,"
__ADS_1
Menunjuk pakaian tidur yang masih melekat dibaju. Bau mulutpun masih jigong belum sikat gigi. Muka masih berantakan yang setitik airpun belum membasahi.
"Iya, aku paham. Aku tunggu disini saja, kamu mandi sana 'gih, sebab aku ngak mau mama nanti mulutnya ngomel-ngomel terus, akibat kita ngak jadi berangkat hari ini," Dilla menyuruh.
Lengsung pipi hanya sebelah, menambah kesan manis diwajahnya. Sifat dan wajah sama-sama elok nan cantik, cuma karena selalu dimanja sering kali mau menang sendiri. Walau usia masih muda, namun derajat sebagai pria jangan direndahkan. Harus saling menghormati dan menjaga perasaan, agar hubungan kami terus lancar dan jangan sampai ada perselisihan.
"Heeh, ok 'lah. Aku mandi dulu, kamu tunggu disini," suruhku.
"Heeem. Jangan lama-lama, keburu siang dan tutup."
"Iya, mungkin lima belas menit cukup."
Kakipun sudah melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Air shower terasa segar sekali saat tetesannya telah sempurna menguyur tubuhku. Busa merata membersihkan bagian kulit yang kotor. Aroma jeruk dari sabun begitu menyegat keharumannya. Rambutpun tidak lupa bersampoo. Tidak ada seselipun yang ketinggalan mengosok.
"Aaah, kenapa aku sampai lupa bawa baju ganti? Mana Dilla diluar pulak."
Ceeekleeek, perlahan-lahan pintu telah kubuka dengan menyembulkan kepala sedikit keluar, untuk melihat Dilla masih ada apa tidak dalam kamarku.
"Aaah, sial ... sial. Dilla masih ada dikamarku juga. Aaduuh gimana nih!"
"Hadeh. Terpaksa dah, sekarang ini aku harus keluar berlilitkan handuk saja," Kekesalan hati yang binggung.
"Semoga saja dia tidak melihat ke arah sini!"
Perlahan-lahan aku buka pintu dan kaki sudah terjingkat berjalan pelan-pelan, dengan maksud agar tak ada berbunyi suara langkahnya, supaya Dilla tak melihat keadaanku yang memalukan seperti ini.
"Apa yang kamu lakuk-?"
__ADS_1
"Aaaaa, astagfirullah haladzim!"
Kekagetan Dilla saat melihat keadaanku, yang seketika dia langsung memalingkan muka dan berbalik badan tak melihat.
Tengkuk hanya bisa kuusap pelan, akibat tak tahu harus gimana lagi saat kepergok berlilitkan handuk saja sebatas pinggang.
"Kamu itu gila apa, Dio! Ngak pakai baju," keluh Dilla.
"Hehehe, Maaf. Tadi karena buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, jadi kelupaan untuk bawa baju ganti," terangku.
"Ooh, tapi ngak juga harus keluar dengan keadaan gitu, sementara aku ada disini, 'kan bisa teriak nyuruhku keluar dulu. Atau jangan-jangan kamu memang sengaja mau pamer?" jelasnya.
"Enggak sayang."
"Enggak gimana? Kamu bisa minta tolong ambilkan juga."
"Iya ... ya, maaf. Sekarang kamu keluar dulu 'gih, masak mau melihat yang lebih ekstrim lagi ketika aku mau memakai baju," suruhnya.
"Iccch, bocil ngak ada akhlak."
"Hehehe, maaf. Ok!"
"Heem, ok 'lah. Tapi jangan lama-lama, takutnya aku nanti yang kena semprot omelan mama," ucap Dilla penurut.
"Siip 'lah."
__ADS_1
Seketika Dilla telah berjalan tergesa-gesa keluar dari kamarku. Tangan sibuk memilih baju dalam lemari. Badan sudah terbungkus oleh pakaian kemeja putih, yang secepatnya sekarang harus menemui Dilla. Rambutpun telah kusisir rapi, dengan baju telah kusemprot menggunakan minyak wangi khas kepunyaanku.