Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Keromantisan Di Pantai


__ADS_3

Berjalan duluan. Meninggalkan Dio yang berjalan lelet. Ukiran senyuman itu seakan mengejek, kalau diri ini sudah bagaikan anak kecil yang senang melihat air, ketika tak henti-hentinya kaki berlompatan kecil.


"Isssh, kenapa berhenti mendadak sih. 'Kan bikin nabrak kamu gini," keluh Dio.


"Maaf."


Memang salah, ketika kaki tiba-tiba mengerem.


"Aku mau itu!" Suaraku manja minta dibelikan oleh suami.


Ada seorang pria paruh baya sedang menjajakan dagangannya. Banyak anak kecil dan Ibunya sedang antri membelikan mereka.


"Haaaiiist, kayak anak kecil aja makan itu!" ujar Dio berusaha menolak.


"Ayolah, sayang. Ya ... ya, lagian aku suka itu, boleh ... boleh, ya!" rengekku meminta dengan mengoyang-goyangkan tangannya.


"Tapi, yang antri anak kecil semua. Apa tidak malu."


"Enggak! Ngapain malu. Aku suka!" Mulut cemberut.


"Nih, beli sendiri." Lembaran uang tersodorkan.


"Ogah, beliin!" Merengek lagi.


"Hadeh, sudah besar. Bisa beli sendiri 'kan?"


Cuuup, kuncium pipi kiri Dio agar dia mau membelikan apa yang aku minta.

__ADS_1



"Haaah, ini nih kalau ada maunya!."


"Ayolah ... ayo!" rengekku manja.


"Heeh, iya ... iya!" Kepasrahannya menjawab, dengan ekspresi terkejut atas perlakuanku.


"Terima kasih!" ucapku tersenyum lebar.


Tertawa cekikikan sendirian, melihat Dio antri sama emak-emak. Banyak yang mencoba mengoda Dio, mungkin mereka sudah gemes melihat wajahnya.


"Kamu mau?" tawarku.


"Ngak usah, kamu makan saja! Bikin tersiksa saja tadi," tolaknya.


"Enak apaan. Nih, pipi suami kamu jadi melar, akibat tangan mereka jahil mencubitnya. Apalagi sama si anaknya, minta ngajak bermain tepuk tangan dulu. Bukannya dapat giliran agar lebih cepat, malah molor waktu diajak bermain."


"Ngak pa-pa kali, demi istrimu yang cantik ini."


"Hmm, lain kali tapi ogah. Lebih baik aku membelikan kamu emas segunung, langsung datang ketempatnya, dari pada garing nunggu atrian panjang kayak kereta seperti tadi."


"Iya ... ya, maaf. Lain kali enggak lagi."


"Hmm, yang penting kamu suka dan senang." Balasnya memberikan senyuman paksa.


__ADS_1


Dio membelikan dua eskrim untuk kumakan, sebab sudah ditawari tapi dia tak mau.


"Ya ampun, belepotan sekali makan begini saja!" keluh Dio mengusap ujung bibirku dengan jempolnya, agar sisa-sisa bekas es krim hilang.


Tanpa terduga jempol Dio yang ada bekas es krim, tiba-tiba dimasukkan ke dalam mulutnya, dengan ekspresi muka mengecap penuh menikmati sisa bekas dari mulutku.


"Ya ampun, apa Dio ngak jijik ya! Bekas sisa es krim ini? Heeeh, apakah ini yang dinamakan cinta? Hingga apapun rasa jijik bisa ditepis? Kenapa Dio selalu saja membuat hatiku kian meleleh atas semua tindakannya, hingga akupun tak kuasa untuk tetap lengket untuk terus menyayanginya. Cintamu padaku begitu besarkah, Dio? Hingga kelihatan sekali kamu akan mengorbankan apapun demi diriku? Kalau cintamu itu benar-benar tulus, aku akan melebihi apa yang kamu berikan padaku, Dio!" ucapku dalam hati dengan mulut masih sibuk memakan es krim, tapi mata selalu saja sibuk melirik menatap lekat-lekat wajah Dio.


Kamipun terus saja melanjutkan aktifitas keromantisan kami, dengan cara minum secangkir minuman berdua. Sebab tak tahan ingin melihat keindahan pantai, jadi acara makan-makan di kafe kami sudahi secepatnya.


Suara deburan ombak tarasa begitu mengema ditelinga, yaitu disaat kami mulai mendekati keindahan panorama alam air ini. Hembusan angin yang kencang begitu terasa menerpa sejuk diwajahku, yang mana kini tak luput jua rambut telah berterbangan mengikuti arah angin, hingga rambutpun sekarang sedikit berantakan



"Gimana? Kamu suka?" tanya Dio yang sudah menghampiriku tengah mematung melihat pantai.


"Eeem," jawabku mengangguk.


Tangan Dio terus saja membelai dan membenahi rambutku yang kian lama kian berantakan, dimana kini beralih untuk langsung saja memeluk tubuhku dari belakang, dengan dagu sudah manja disandarkan lekat dibahuku.


"Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan bahwa hatiku kini sungguh-sungguh sangat mencintaimu melebihi apapun didunia ini," cakap Dio yang mempererat pelukannya padaku.


"Aku percaya kamu sangat mencintaiku, terima kasih, Dio. Aku juga sangat mencintaimu, dan baru saja aku menyadari bahwa kamu itu sangat berarti untukku, maka dari itu aku pinta padamu jangan pernah sekali-kali meninggalkanku, walau keadaan apapun dimasa depan nanti," tuturku dengan hati sudah mulai bergetar, akibat goyah agar tak menitikkan airmata yang sedikit lagi meluncur disudut pelupuk mata.


"Aku janji tak akan pernah meninggalkanmu apapun keadaan kita nanti," ucapan Dio yang kini berbalik saling berhadapan dengan tubuhku.


"Aku pasti akan selalu mencintaimu selamanya, walau seandainya badai rintangan telah menerpa rumah tangga kita," imbuh perkataan Dio, sambil mengusap pelan pipiku yang sudah ada tetesan embun airnya.

__ADS_1


Dengan kuat tubuh Dio telah kupeluk, hingga diapun berbalik memelukku dengan erat juga. Keindahan panorama pantai diiringi suara deburan ombak begitu ramainya terdengar, yang seakan-akan hanyut ikut dalam kegembiraan a kami


__ADS_2