Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Perjodohan Yang Berlanjut 1


__ADS_3

Para orangtua kelihatan kepo dan ingin masuk saja dengan urusan kami. Walau sudah dewasa, kasih sayang mereka tetal tercurah dengan khawatir berlebihan.


"Oh ya, bagaimana hubungan diantara kalian? Pastinya baik-baik saja 'kan?" tanya istri Om Ahmad.


"Hehehe, kami baik-baik saja kok, Buk. Ngak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," jawab Dio menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Beneran yah! Ngak ada saling ngambek dan berjauhan lagi 'kan? Sebab kami para orang tua disini sangat prihatin dan khawatir sekali kalau kalian tidak bisa bersatu lagi," ujar Mamaku.


Lihat, kami berdua jadi bahan pembicaraan serius. Kelihatan kompak saja ingin menguak hubungan kami.


"Hhahaha, kalian apaan sih! Mana mungkin kami bertengkar, lagian kejadian kemarin itu cuma kesalahpaham saja," jawabku memungkiri.


"Baguslah kalau begitu, itu yang kami inginkan agar kalian tetap bersatu. Jadi kalau kalian sudah tahu telah dijodohkan dan sudah berbaikan, maka Papa akan secepatnya mengatur acara tunangan kalian," ucap Papa santai.


"Apa?" Kekagetanku dan Dio secara kompak.


"Aaahhh, papa. Kenapa harus secepat itu, bukankah kami belum bilang kalau kami akan setuju atas perjodohan ini. Lagian hati kami belum tentu sama-sama suka, siapa tahu Dio belum siap sebab masih ada seorang cewek yang menjadi pacarnya sekarang," Alasanku berusaha menolak.


__ADS_1


Dio melihat kearahku, dengan mata melotot tajam, mungkin karena tak suka atas penuturanku yang menuduhnya.


Sebenarnya disebalik itu semua, hati tersenyum lebar atas keputusan Papa, tapi disebalik itu juga aku masih ragu atas perasaan Dio apakah dia juga sudah menaruh hatinya untukku.


"Om yakin sekali, kalau seratus persen Dio sedang tidak mempunyai pacar yang akhir-akhir ini dekat dengannya, sebab dari dulu Dio itu anaknya pendiam, yang boleh dikatakan takut sama cewek sehingga pacarpun sampai sekarang tak ada," cakap Om Ahmad membeberkan rahasia Dio.


Dalam hati sudah tertawa jahat. Dulu dia itu terlalu culun dan polos, pasti akan susah mendapatkan pasangan walau sekedar pacar saja.


"Siapa juga takut sama perempuan? Aku itu cuma malas saja yang namanya pacaran, Bapak. Sebab bakal ada banyak dosa dan godaannya," Suara nyolot Dio menjawab.


Aku hanya bisa tertawa cekikikan pelan dalam hati saat mendengar perkataan Dio, yang berarti dia selama ini adalah jomblo akut, yang pastinya tak mengenal benar apa itu artinya nama pacaran.


"Nah 'kan, betul."



"Dih, jomblo saja bangga!" sindirku.


"Gimana? Apakah kalian setuju? Sebab minggu depan kalian itu akan kami resmikan untuk bertunangan," terang apa.

__ADS_1


"What?" Kembali kaget.


"Kenapa lagi, Dilla?"


"Apa itu ngak terlalu cepat, Pa? Enggak ... enggak, aku tidak bisa menerima secepat itu, karena pernikahan tanpa dasar cinta akan sering membuat sebuah pertengkaran dan ujung-ujungnya akan retak, yang pastinya berakhir dengan perceraian," tolakku lagi.


"Haiisst, anak ini! Jauh amat pemikiran kamu. Cinta bisa berjalan seiringnya waktu, yaitu atas kedekatan kalian berdua. Tak payah memikirkan yang aneh-aneh, sebab Mama dan Papa yakin sekali kalau Dio bisa membahagiakan dan menjaga kamu," saut Mama yang kini ikut berbicara.


"Iya, Nak Dilla. Ibu pasti akan senang jika kamu menjadi menantuku. Lagian Dio adalah anak baik yang tidak pernah neko-neko dalam bertindak, sehingga kamu ngak perlu khawatir berlebihan gitu. Jika anak ibu macam-macam dan menyakiti kamu, orang tuanyalah yang pertama kali akan mengulek dia jadi berkedel," tutur Ibu Dio penuh kelembutan, sambil tangan kasarnya mengelus pelan pipiku.


"Aduh, Bu. Apa'an sih."


"Shtttt, dengarkan kami bicara," Beliau menyuruh anteng.


"Iya Dilla. Dalam berumah tangga cinta bisa dipikirkan belakangan, walau belum sama-sama mengenal jauh. Keharmonisan rumah tangga hanya ada satu kekuatan yaitu saling percaya terhadap masing-masing pasangan. Jangan mudah berburuk sangka terhadap pasangan, jika kamu tidak ingin rumah tangga yang dibina akan hancur. Sering-seringlah saling mengenggam erat tangan. Berikan semua kasih sayangmu hanya untuk suami. Bila terjadi pertengkaran diantara kalian, kalau bisa salah satu dari kalian harus bisa mengalah, biar api kemarahan yang kadang mewarnai bisa melebur oleh kelegowoan mengalah pada diri sendiri untuk pasangan. Cinta yang hakiki bisa kamu dapat jika dalam hati kamu bisa tulus mencintai suami tanpa lelah dan pamrih, maka dari itu kalian mulai sekarang berusahalah untuk menumbuhkan cinta dihati kalian, yang kelihatannya masih kosong dan binggung, yaitu dengan cara saling mengisinya oleh sebuah kasih sayang," ucap panjang lebar Mama, sambil berusaha menangkupkan tangan kami berdua agar bersatu.


"Ya Allah, apa yang diiginkan para orang tua ini adalah sungguhan? Begitu besarnya harapan mereka untuk kami bersatu dalam ikatan pernikahan. Ahhh, apakah aku harus benar-benar pasrah atas perjodohan ini? Tapi apakah Dio akan bisa menerimaku yang boleh dikatakan adalah perawan tua, yang sedangkan dia masih ingin bersenang-senang membujang? Semoga saja Dio mau, amiiiiin!" bathin hati yang bingung.


"Insyaallah ma. Dilla tak sepenuhnya bisa berjanji, tapi tetap akan kuusahakan membuka hatiku untuk Dio agar bisa masuk ke dalam kehidupanku. Aku tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, sebab kalian semua begitu besarnya berharap kami bisa bersatu. Semoga saja aku bisa menerima Dio apa adanya, hhhhhh ... tapi-? Apakah Dio juga bisa menerimaku," jawabku yang sudah berkaca-kaca akibat tersentuh penuturan Mama yang penuh harapan.

__ADS_1


Mungkin akibat baru mengenal Dio, makanya hati begitu berat ingin menerimanya menjadi imamku kelak. Takut jika tidak bisa mengimbangi Dio yang masih bocil. Usia yang sudah matang, membuat agak ragu juga apakah bisa hubungan nanti lebih mendekatkan kami.


__ADS_2