
Kembali ke tempat wanita yang akan mendampingi seumur hidup. Tidak mau kena semprot jika datang terlambat menjemput. Dia wanita yang unik. Kadang kemarahannya menjadi keimutan tersendiri bagiku. Kalau berbicara halus, nampak sisi manjanya mulai keluar. Harus sabar dan bisa mengimbangi tingkah polahnya.
"Kamu habis dari mana?" tanya majikan saat mulai memasuki ruangannya.
Pintu kututup rapat, agar orang lain tidak kepo jika kami sedang berduaan.
"Dari rumah utama orang tua kamu!" jawabku datar.
Dia bersedekapkan tangan didada. Tatapan heran mulai muncul.
"Kenapa? Apakah orang tuaku memanggil kamu?" tanya lagi.
"Iya. Papa Non memanggil, hanya ingin membicarakan hal-hal yang perlu dilanggar dan tidak, saat kita bertunangan besok," jelasku.
"Ooh."
Wajah majikan sudah tersenyum-senyum tertahan, mungkin bahagia atas peneranganku atas tunangan itu, tapi dia kelihatan terlalu gengsi dan tak mau jujur untuk menunjukkan atas kegembiraan acara kami besok.
Orang yang selama ini dekat ketika kami sering perang mulut, kini akan jadi teman seranjang. Dalam hati selalu berdoa, kami akan tetap dekat dalam ikatan rumah tangga yang sakinah mawardah warohmah.
*********
Perasaan begitu tak teratur atas detakan jantung, saat aku begitu groginya menghadapi acara pertunangan yang akan dilaksanakan satu jam lagi. Wajah telah dipoles secara perlahan-lahan oleh dua perias yang sudah disewa tuan besar juga. Kini aku hanya menerima enak saja, tanpa harus berpayah-bayah menangani semuanya, dikarenakan calon mertua merasa kasihan saat lukaku belum sembuh betulan jika untuk mengatur semua.
Detingan jarum jam terdengar begitu kerasnya mengema, seakan-akan ikut larut merasuk dan menyorakki jantungku yang dag dig dug membunyikan detakkannya.
Semua orang telah hadir, yang kutak tahu siapa-siapakah tamu undangan sekarang? Rasanya semua terlihat asing, kecuali ada beberapa keluarga besar bapak dari kampung yang datang.
"Wah ... wah, tampan sekali keponakan Tante ini!" puji adik Bapak saat aku menyapa mereka satu persatu.
"Siapa dulu dong bapaknya. Bapaknya saja tampan apalagi anaknya," Kesombongan beliau.
Semua kelihatan menahan senyum. Raut wajah gembira. Dihari bahagia ini tidak boleh ada kesedihan.
"Ciieh, muka hitam gitu saja bangga. Dio itu patutnya harus dibilang mukanya nurut sama Maknya sebab putih," simbatan Ibuku yang tak senang.
"Kalian ini diacara bahagia anak kalian malah ribut masalah ikutan siapa wajah Dio. Yang jelasnya sama persis dengan wajah kalian berdua, sebab tanpa kalian membuatnya dengan benih melody cinta, tak akan tercetak yang namanya anak kalian Dio," simbatan keluarga yang lain.
"Hehehee, tahu aja kalian ini!" Bapak clamitan malu sendiri.
"Ya tahulah, tapi sayangnya kami tak tahu proses membuatnya, sebab pintu kamar kemarin telah rapat kamu tutup," saut jawab adik Bapakku yang lain
__ADS_1
"Hahahhaha," Semua orang sedang tertawa riang akibat berhasil meledek bapak.
"Benar tuh. Mau ngitip saja susah, padahal bagi ilmunya bisalah, gimana mencetak keturunan yang baik dan bagus."
"Hahahaha, ada-ada bae kalian ini"
Akupun hanya dapat mengusap tekuk, sebab tak tahu arah pembicaraan mereka. Malu sekali atas ucapan para keluarga, tapi disisi lain hati begitu gembira saat semuanya telah terkumpul menjadi satu, digedung ruangan terbuka menyaksikan acara pertunangan.
"Sambutlah calon mempelai perempuan, yang sekarang akan segera kumpul dengan kita semua disini! Beri tepuk tangan yang meriah!" ucap pembawa acara.
Wajah kami seketika menoleh kearah sebuah pintu yang sudah terlingkar oleh lengkungan bunga. Tak luput juga semua tepuk tangan telah hadir riuh sekali menyambut kedatangan Dilla.
Semua mata kini tertuju ketempat itu, yang tak terkecuali diriku. Hati terasa begitu membuncah, yang terus saja bertalu-talu tak karuan lagi rasanya. Tangan mulai berkeringat dingin, untuk segera menyambut hangat tangan wanita yang kini akan berubah status menjadi pengantinku. Tangan ibuku telah mengelus lembut lenganku, yang seakan-akan tahu atas kegrogian yang terjadi pada anaknya ini.
Plok ...plok ... plok, tepukan semakin kuat saat Dilla dan kedua orangtuanya kini telah muncul dihadapan kami semua.
Mata begitu terbelalak terpesona, saat wanita yang akan berubah jadi istriku begitu cantik dengan gaun warna putih yang kontras dengan kulitnya. Wajahnya yang dari dulu cantik, kini ditambah semakin memukau keindahan pesonanya oleh polesan riasan tipis, sehingga aura ayunya keluar bagaikan bidadari.
"Aku pasrahkan anakku kepadamu, jagalah dia dengan sebaik-baiknya. Kamu adalah menantu yang kuyakini pasti akan bisa menjaganya sampai maut memisahkan kalian."
Seakan-akan bumi menimpa badan. Mulai sekarang tanggung jawab besar akan mengiringi langkah menuju janah kehidupan.
"Untuk Dilla anakku, sayang. Kamu sekarang telah berubah status bukan sebagai anak manja yang perlu kasih sayang orang tua lagi, ketika dulu sering kali kami berikan, tapi status kamu akan berubah menjadi istri manja yang akan dipenuhi kasih sayang oleh suami kamu. Jadilah istri yang selalu menurut pada suami dan jadilah wanita yang selalu dibanggakan oleh suami, serta jadilah wanita yang selalu tunduk atas perintah suami, sebab syurga kamu bukanlah ditelapak kaki kami lagi, melainkan ditalapak kaki calon suami kamu yaitu pria yang ada didepan kita sekarang ini, yaitu Dio!" ucapan trenyuh mertua.
Semua orang terhayut atas ucapan beliau, dan terlihat Dilla telah menitikkan airmata. Akupun rasanya berdesir-desir halus dengan perasaan yang begitu tak tahu lagi rasanya, saat tanggung jawab kini telah terlimpahkan padaku.
"Apakah kamu mau menjaga Dilla dengan baik, Dio?" tanya beliau yang masih memakai mic.
"Iya, Papa. Aku akan menerima Dilla dengan ikhlas dan menjaga baik, agar bisa mempersatukan kami dalam ikatan rumah tangga," jawabku mantap.
"Terima kasih, Dio."
Semua orang telah menitikkan airmata, yang bukan berarti kesedihan melainkan hadirnya kebahagiaan.
Seikat bunga telah tergenggam ditangan, yang diberikan ibuku. Langkah selanjutnya kini adalah meraih tangan lembut Dilla, untuk mencoba memegang supaya bisa melamarnya.
Aku tak tahu harus mulai dari mana supaya engkau percaya.
__ADS_1
Tapi aku mohon dengarkanlah kata hatiku ini.
Keindahan wajahmu yang menghiasi hari-hariku, seakan-akan telah berhasil menghipnotis diriku.
Senyumanmu yang indah tak luput membuatku oleng untuk menaruh hati ini padamu.
Saat engkau berjauhan dariku, sungguh betapa aku menyadari bahwa aku mulai sadar akan rasa cintaku padamu.
Ragamu yang menawan, telah berhasil melumpuhkan dan mengobrak-abrik hatiku.
Dikeindahan malam, bayangan wajahmu selalu saja menghias dalam pikiran.
Duniaku rasanya tak terelakkan untuk terus selalu memujamu.
Hari-hari panjangku terus saja tak bisa lepas tentangmu agar bisa menyebut namamu.
Sungguh hatiku telah runtuh oleh pesona cintamu
Aku berharap dengan adanya cintaku padamu kamu bisa mencintaiku juga.
"Maafkan aku jika selama ini berbuat kasar maupun ada kata-kata yang menyakitimu. Bukan berarti aku tak suka, tapi semua itu kulakukan agar kamu sadar atas semua tindakan yang kurasa tak pantas engkau lakukan."
"Terima kasih Dilla, engkau adalah orang pertama yang mengajarkan aku tentang apa itu rasa cinta. Mengajarkan diri banyak hal tentang arti kutulusan, kesetiaan, dan terutama cara menaklukan cinta yang merajai jiwa itu bagaimana?."
"Maukah engkau menikah denganku? Aku sangat mencintaimu melebihi apapun yang ada didunia ini."
Tak kupedulikan tatapan orang-orang yang ikut terhayut atas pengungkapan hatiku. Yang penting sekarang cincin dalam kotak kecil berwarna merah, kini berusaha kusodorkan pada Dilla.
Dilla hanya menatap wajahku dengan tatapan seksama, diiringi bulir-bulir airmata yang mengalir perlahan membasahi pipinya yang cantik. Lama sekali Dilla tak menjawab, hanya menatap kosong kearahku dengan tangisan yang kian bertambah sesegukan.
"Iya, Dio aku mau menerima lamaran ini," ujar Dilla yang akhirnya buka suara.
"Alhamdulillah," jawab semua orang kompak merasa bersyukur.
Tanpa malu-malu langsung kupeluk tubuhnya, akibat kekegembiraan yang tak terkira lagi rasanya. Semua orangpun tak terkecuali ikut tersenyum sumrigah, akibat melihat adegan kami yang kelihatan penuh kemesraan.
"Uuuh ... selamat Dio ... selamat Dilla!" sorak ramai orang mengucapkan bahagia.
Kami berdua hanya bisa tersenyum malu-malu tapi juga bahagia. Wajah para orang tua dan keluargapun tak luput juga merasakan kebahagiaan yang kami ciptakan untuk membina rumah tangga
__ADS_1