
Dalam perjalan ke negara Singapura, diri ini tak menyangka saja ketemu dengan teman lama. Saat sedang asyik mengobrol dengan teman menceritakan masa-masa waktu sekolah, terlihat sekali istri seperti tak suka terhadap percakapan kami, namun aku cuekkan saja dia, sebab setelah sekian tahun tak ketemu Maya teman baikku, pasti rindu berbicara akan kenangan lama tentang kami. Lagian kami tak ngapa-ngapain, jadi tak sepantasnya jika Dilla bersikap seperti itu.
"Apakah aku telah salah terlalu mencuekkan Dilla, sampai dia tak mau berbicara padaku?" tanya dalam hati saat kami sedang menaiki taxi untuk menuju hotel.
Netra Dilla tak lain hanya menatap pemandangan luar dari kaca taxi, yang masih sama yaitu tak mau berbicara padaku.
Sampai tangannya kuusahakan diatas tanganku, dia masih sama saja tak bergeming untuk mengajakku berbicara.
"Heeh, sepertinya istriku sekarang ini ngambek beneran deh! Mana mungkin dia tak marah, kalau mengajak bicarapun tidak ada sama sekali? Emm, apa yang harus kulakukan untuk membujuknya? Apa aku harus rayu terus-menerus biar dia luluh?" bathin hati yang merancau gelisah.
"Kamu kenapa sih, sayang?" tanyaku mengoda sebab sudah tak tahan didiamkan begini.
Tidak enak kalau suaranya tak tergiang. Bagaikan orang asing saja tidak ada obrolan.
"Aku ngak pa-pa," jawaban ketusnya, dimana dia telah membuka pintu taxi dan segera turun sebab kami sudah sampai.
"Tapi dari diam kamu itu, nampaknya lagi marahkah?"
"Enggak!" bantahnya cepat.
Suara sudah jelas kalau dia lagi malas berbicara padaku. Mau membujuk, tidak ada celah untuk memudahkan merayu.
"Ya, sudah kalau ngak mau ngomong."
"Ngak penting."
Lagi-lagi belum sempat melakukan transaksi pembayaran pada taxi, Dilla sudah nyelonong pergi duluan tanpa menungguku lagi. Dengan secepatnya aku berjalan kecil-kecil tapi cepat untuk mengejarnya, tapi sekarang terasa lambat akibat tangan telah kewalahan sedang menyeret koper.
"Hei sayang, tunggu! Jangan cepat-cepat jalannya. Bantuin kenapa?" panggil teriakku.
__ADS_1
"Ogah!"
Hadeh, wanita kalau ngambek memang susah didekati. Dimintai tolong saja harus memohon. Barang bawaan sedikit banyak, hingga tangan sempat kewalahan membawanya, untung saja ada trolli yang telah disediakan dari pihak hotel.
Terlihat Dilla sedang melakukan chek in kamar hotel, dan begitu dongkolnya diri ini saat ingin menghampririnya, lagi-lagi dia pergi tanpa menunggu lagi. Cepat juga mengecek nama kami, mungkin saja sudah dibooking dari Indonesia, maka kami tidak bersusah payah mengeluarkan identitas lagi.
Kling, suara lif telah terbuka.
Dengan sigap dan cepat akupun berlarian kilat, agar dapat mengajar Dilla yang sudah masuk duluan ke dalam lif. Badan sampai miring supaya leluasa masuk. Awalnya takut tergincit, namun ternyata lift masih berpihak tidak tertutup rapat.
"Kamu kenapa sih?" imbuh tanyaku.
"Sudah kubilang ngak kenapa-napa , ya ngak kenapa-bapa, paham!" jawabnya ambigu.
"Ngak mungkin, muka kamu kelihatan sekali sedang tak suka dan marah begitu kepadaku? Kenapa? Apa gara-gara aku ketemu Maya tadi?" tanyaku yang kini sudah memepet tubuh Dilla ke sudut lif, hingga tubuhnya melengkung ingin jatuh.
Tangan mengunci kiri kanan. Aku menghela nafas, sebelum menghirup aroma tubuh dibaluti parfum.
"Atau apa? Kamu itu ngak akan bisa lari dariku, sebab seluruh ragamu kini telah halal kumiliki," ucapku yang tak gentar oleh ketakutan.
"Kamu jangan macam-macam, Dio. Ini di lift, bisa saja orang-orang akan masuk dan melihat kita," ucap Dilla ketakutan.
"Buat apa kamu khawatir begitu, 'toh aku ngelakuian sama istri sendiri," jawabku santai
"Ok, kalau itu keinginanmu, aku akan siap layani!" balas Dilla yang berani, yang kini tak menyangka dan terpikirkan olehku.
Diri ini begitu tidak menduga atas tindakan Dilla sekarang. Dengan penuh berani dan percaya diri, membuat wajah kamipun telah sangat berdekatan hingga tak menyisakan jarak lagi. Hembusan nafasnya saat berbicara dari bibirnya yang merah merona, begitu tercium harum dan wangi sekali. Entah mengapa diri ini kini merasa ciut, atas keberanian Dilla yg sepertinya yang ingin main nyosor ke bibirku.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau takut? Bukankah kamu menginginkan ini?" tanya Dilla.
"Kamu jangan mendekat dan berlebihan begini," jawabku yang sudah memundurkan kaki, satu langkah ke belakang.
"Apaaahh? Apakah aku tidak boleh meminta hak dari bibir manismu ini?" cakap Dilla yang kian melangkah maju ingin berbalik memepetku.
"Aku ngak takut, cuma ... cuma-!" Suaraku tertahan akibat sudah mentok berdiri di sandaran badan lif.
"Cuma apah, sayang. Wajahmu sangatlah tampan dan mengairahkan, apalagi dengan bibir mungilmu yang nampak sexy ini. Aku ingin sekali merasakan dan mengoyahkannya, apakah menurutmu ini salah?" tanya istri yang sekarang ini melangkah berani. Berhasil meraba bibirku dengan jari telunjuknya.
"Ya salam, kenapa aku jadi ketakutan begini? Padahal Dilla hanya meminta diriku untuk menciumnya. Apakah karena aku belum pernah melakukan ini pada perempuan, sehingga jadinya aku takut-takut jika istri akan menelan pil pahit, sebab aku tak bisa melakukan teknik berciuman yang mesra itu bagimana?" cerocosku dalam hati gelisah, akibat perbuatan istri sendiri.
"Hahhahha, ternyata kamu lebih parah dariku, Dio. Lihat ... lihat! Keringat yang ada dikeningmu sekarang ini? Pasti kamu sangat grogi dan takut atas tindakanku barusan. Lagian aku juga ogah melayani ciuman jika orangnya saja tak peka, yang boleh dibilang mungkin terlalu memaksakan," ucap Dilla tertawa penuh kemenangan akibat berhasil mengerjaiku.
Kling, suara lif telah terbuka menandakan kami hampir sampai ditujuan utama kamar hotel, yang mana semuanya sudah ditempah oleh mertua.
Dilla sudah berjalan duluan meninggalkanku, yang mana masih saja terbengong atas ucapan maupun tindakan Dilla barusan. Entah mengapa rasanya ada rasa hati yang nye'lekit tak suka, atas perkataan istri tentang 'ogah melayani ciuman'.
"Apakah aku sebodoh dan seculun itu? Hingga Dilla sampai hati mengatakan itu? Aaah ... sial ... sial, ternyata kamu itu baru sadar Dio, bahwa kamu sangatlah kurang berani untuk menaklukkan istrimu sendiri. Awas kamu Dilla, kamu akan merasakan sesuatu yang lebih, atas apa yang kamu ucapkan barusan," Kemarahanku berkata dalam hati.
Keberanian kurang seratus persen. Tidak pernah mendekati, apalagi berkencan dengan seorang wanita, hingga terbelakang jauh tidak mengerti apa-apa. Keadaan orangtua yang miskin, membuatku harus ikut kerja keras membantu perekonomian, hingga mendekati wanitapun tidak ada waktu.
Sepulang sekolah, pasti ada saja kerjaan meringankan beban mereka. Walau harus bergulat dengan beceknya sawah tetap kujalani, asalkan orangtua tidak kewalahan atau kecapek'an bekerja. Lagian hasil peras keringat mereka, aku juga yang bakalan menikmati. Banyak pengalaman yang diajarkan, tentang arti tidak punya apa-apa itu bagaimana? Jangan sombong, tangan harus selalu dermawan walau untuk sekedar makan saja tidak cukup. Bapak sama Ibu selalu berpesan, jangan sampai dibutakan oleh harta walau segunung emas kita miliki, sebab mati tidak akan membawa apa-apa, kecuali amal kebaikan dan suka memberi bagi yang tidak mampu. Kesederhanaan orantua membuatku jadi banyak ilmu, bahwa hidup didunia bukan akhir dari segala-galanya. Masih panjang perjalanan ketika mati nanti, maka dari itu beramal selagi masih hidup.
__ADS_1