Terpasung Gairah 3 Cogan

Terpasung Gairah 3 Cogan
Kaki Sakit Dimalam Pesta


__ADS_3

Malampun telah kian merangkak berjalan cepat, yang sepertinya ikut antusias menyambut kebahagiaan kami. Tak henti-hentinya kami saling tertawa sumringah, saat beriringan berpegangan tangan memasuki ruangan yang sudah ramai orang menyambut kedatangan kami. Tepuk tanganpun begitu riuhnya, telah menyambut kehadiran kami yang perlahan-lahan berjalan beriringan.


Kepala terus saja mengangguk-angguk menunduk, untuk menyapa para tamu yang sumringah bahagia menyambut kedatangan kami.


Banyak keluarga dan kerabat ikut antusias merayakan. Tidak ikut mendekorasi ruangan, cukup dibuat kaget juga saat mengetahuinya. Sangat mewah dan terkesan elegan. Keturunan orang kaya, kalau ingin melihat anak bahagia rasanya tidak tanggung-tanggung mengeluarkan bajet dalam kantong. Sebenarnya ada rasa malu juga, saat pihak keluarga kami tidak mengeluarkan uang sepersenpun. Orantua Dilla ikhlas melakukan ini, jadi tidak akan ada perhitungan suatu saat nanti.


"Selamat ya ... selamat!" ucap semua orang yang tengah bersalaman kepada kami.


"Iya .. iya. Terima kasih ... terima kasih," jawab kami kompak.


Tidak ada tangisan lagi. Semua nampak bahagia. Semua undagan dari kalangan atas. Ada sedikit yang kukenal, sebab orang yang sebut papa sekarang pernah mengenalkan.


Acara demi acarapun telah selesai kami jalankan, dengan segundang sambutan dan acara pesta. Rasanya kaki sudah pegal berdiri, yang tak terkecuali terlihat Dilla yang sembari tadi berkali-kali menghentakkan kakinya ke lantai ubin keramik.


"Kenapa, ada yang salah dibawah itu?" tanyaku saat berjongkok membuka gaunnya untuk melihat telapak kakinya.


"Aku ngak pa-pa, Dio. Hanya saja rasanya kaki pegal banget nih. Jari-jaripun rasanya sudah perih, mungkin efek lama memakai higheels jadinya sekarang sedikit lecet ini kaki" jawabnya.

__ADS_1


"Sini, biar aku bantu!" Dengan cekatan tangan ingin melepaskan higheels.


"Eeeiiit, tapi Dio. Nanti dilihat orang banyak, 'kan malu. Masak harus nyeker!" keluh Dilla.


"Ngapain kamu malu, jika kaki kamu sampai lecet-lecet begini," jawabku yang kini berhasil melepas higheelsnya.


"Nah kalau begini 'kan aman," ucapku yang sudah melihat kaki Dilla benar-benar nyeker di ubin keramik.


"Heeeeh, iya."


"Kamu disini dulu, aku akan ambilkan obat," Suruhku pada Dilla untuk duduk dikursi pelaminan.


Kaki sudah berlari sekencang-kencang untuk segera mengambil obat oles untuk kaki. Untung saja acara pesta digedung dekat dengan rumah kediaman utama mertua.


"Heeeh ... heeeh?" Suaraku ngos-ngosan sebab telah lari sekencang-kencangnya bolak-balik dari gedung ke rumah.


Badan sedikit berantakan, namun dengan singgap aku langsung membenahinya, yang kini berjalan seperti biasa, biar para tamu tak melihat dan mentertawakanku. Dengan langkah sedikit terburu-buru, kini aku mendekati Dilla yang tengah mengobrol asyik sama seseorang.

__ADS_1


"Ini aku sudah ambilkan," ujarku memecah keseruan mereka sedang berbincang.


"Oh iya, sayang. Ada Joan nih, datang keacara kita," jawab Dilla.


"Mau apa kamu kesini?" tanyaku ketus.


"Aku ngak ada apa-apa, Dio. Cuma mau ngucapin selamat saja pada kalian, yang kini telah resmi menjadi suami istri. Semoga kalian bahagia dan selalu langgeng dalam membina rumah tangga!" ucap Joan.


"Terima kasih atas kedatangan dan ucapannya," jawabku ketus namun masih menghormatinya.


"Iya, Dio. Sama-sama!" jawab Joan.


"Sini! Aku obati luka lecetnya," suruhku sudah menarik kaki Dilla secara kuat, yang kini duduk berjongkok dikakinya.


"Waah, kalian romantis banget! Jadi iri nih sama jomblo yang belum laku," ledek Joan.


"Kalau ngak mau Jomblo ya cari calon sana! Biar ngak iri," jawabku tak melihat kearah Joan, sebab hanya fokus mengoleskan obat.

__ADS_1


Endah mengapa rasanya ada rasa kesal kepada Joan, padahal aku sama Dilla sudah berubah status yaitu menikah, yang mana mereka berdua sudah putus.


"Pelan-pelan, Dio. Seeesssst ... perih nih!" keluh Dilla perih. Sebab tak tega dia kesakitan, tangan sibuk mengoles obat, sedangkan mulut sibuk meniup-niup pelan agar rasa perihnya hilang


__ADS_2